Cari tahu kemampuan 5 kapal perusak kelas Abukuma eks Jepang yang dihibahkan ke Filipina

Kapal perusak kelas Abukuma eks JMSDFWikimedia
Kapal perusak kelas Abukuma eks JMSDF.

AIRSPACE REVIEW – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan gesekan teritorial di kawasan Indo-Pasifik, Filipina berhasil mengamankan kesepakatan pertahanan bersejarah dengan Jepang. Melalui kerangka Bantuan Keamanan Resmi (Official Security Assistance /OSA) Tokyo, Angkatan Laut Filipina (PN) dipastikan akan menerima lima unit kapal perusak kawal (destroyer escort) kelas Abukuma yang telah dipensiunkan oleh Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF).

Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., mengonfirmasi kesepakatan formal ini telah disetujui pada 7 Juli 2026. Saat ini, kedua negara hanya tinggal menyelesaikan pengaturan administratif.

Transfer armada diklasifikasikan sebagai hibah (alokasi peralatan tanpa biaya) guna mendongkrak kapabilitas perang permukaan PN secara cepat.

Proses pengiriman kapal-kapal ini diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun, dengan target masuk kedatangan pada tahun 2028 dan 2029.

Suntikan Kekuatan Tempur yang Signifikan

Kehadiran lima kapal perusak berbobot standar 2.000 ton (2.900 ton full-load) ini dinilai akan memberikan lonjakan daya gempur instan bagi Filipina.

Setiap kapal dibekali dengan persenjataan yang cukup mematikan untuk pertempuran permukaan dan bawah air.

Persenjataan tersebut mencakup 8 rudal antikapal RGM-84 Harpoon, satu peluncur roket antikapal selam ASROC Type 74 (8 sel) untuk menghadapi ancaman bawah air, dua peluncur torpedo tiga tabung HOS-301 (324 mm) ntuk pertempuran jarak dekat melawan kapal selam, dan satu meriam OTO Melara 76 mm serta satu sistem senjata jarak dekat (CIWS) Phalanx Block 1 20 mm untuk pertahanan udara titik.

Bagi Filipina, ini adalah cara tercepat untuk menambah jumlah lambung kapal perang rudal secara signifikan dibandingkan harus membangun kapal baru dari awal.

Tantangan Logistik dan Operasional

Meskipun membawa daya pukul yang besar, kesepakatan ini datang dengan tantangan berat yang harus dikelola secara mandiri oleh Manila.

Berdasarkan rencana modernisasi Jepang (2022 Defense Buildup Program), kelas Abukuma digantikan oleh fregat kelas Mogami yang jauh lebih modern dan efisien.

Kapal-kapal kelas Abukuma ini, yaitu JS Abukuma, JS Jintsu, JS Ōyodo, JS Sendai, JS Chikuma, dan JS Tone, mulai bertugas antara tahun 1989 hingga 1993. Artinya, saat resmi memperkuat Filipina pada 2028/2029 nanti, kapal-kapal ini akan berusia antara 35 hingga 40 tahun.

Angkatan Laut Filipina harus menanggung seluruh biaya logistik, pemeliharaan, serta integrasi operasional secara mandiri.

Tentu saja tantangan utama yang dihadapi meliputi, kondisi material dan suku cadang. Filipina harus jeli memeriksa penipisan pelat besi, keretakan rangka, korosi tangki, hingga keandalan turbin gas Kawasaki-Rolls-Royce Spey serta mesin diesel Mitsubishi. Pasokan suku cadang dan manual yang harus diterjemahkan juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri.

Kedua, ketiadaan dek helikopter. Tidak seperti kelas Asagiri, kelas Abukuma tidak memiliki dek helikopter organik maupun hangar. Kapal ini hanya bisa melakukan pengisian bahan bakar helikopter di udara (VERTREP).

Tanpa helikopter onboard yang membawa sonar celup (dipping sonar), kemampuan berburu kapal selamnya menjadi terbatas pada sonar busur OQS-8 bawaan kapal.

Senjata Pertahanan Udara Terbatas

Dari sisi pertahanan udara, terbilang terbatas juga. Kapal ini tidak memiliki sistem rudal pertahanan udara jarak menengah/jauh. Mengandalkan Phalanx dan meriam 76 mm dirasa kurang memadai dalam menghadapi doktrin perang modern yang melibatkan serangan kawanan (swarm attacks) dari drone, rudal sea-skimming, maupun munisi loitering.

Kebutuhan lainnya adalah terkait personel dan infrastruktur. Mengoperasikan lima kapal perusak ini membutuhkan sekitar 600 personel pelaut baru, di luar tim teknis darat.

Selain itu, Filipina wajib memperbarui infrastruktur pelabuhan dan galangan domestiknya agar mampu menampung kapal sepanjang 109 m dengan lebar 13,4 m tersebut.

Peran Strategis di Perairan Filipina

Meskipun memiliki keterbatasan teknologi dibandingkan kapal perang modern masa kini, nilai operasional kelas Abukuma di tangan Filipina tetap sangat tinggi jika ditempatkan pada misi yang tepat.

Kapal-kapal ini dinilai sangat ideal untuk melakukan patroli di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), interdiksi maritim, pengawalan konvoi, keamanan jalur laut, serta misi pemantauan kehadiran militer di wilayah perairan dengan tingkat ancaman rendah hingga sedang.

Baca Juga: Indonesia dan Jepang memulai pembicaraan untuk akuisisi tujuh kapal perusak kelas Asagiri

Dengan menyerahkan tugas-tugas patroli wilayah kepada eks kapal perusak Jepang, Angkatan Laut Filipina dapat menghemat masa pakai sekaligus membebaskan fregat-fregat baru mereka yang multimisi untuk dikerahkan ke area dengan risiko konflik yang lebih tinggi.

Hibah ini bukan sekadar penambahan aset tua, melainkan sebuah lompatan kuantitas strategis yang sangat dibutuhkan Filipina dalam menjaga kedaulatan lautnya saat ini. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *