F-22 mulai tinggalkan Israel usai perang dengan Iran, peran vitalnya diperdebatkan
USAFAIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) mulai menarik jet tempur siluman F-22 Raptor dari Israel, setelah sebelumnya dikerahkan dalam kampanye militer melawan Iran. Sekitar sepuluh pesawat dilaporkan telah mendarat di RAF Fairford, Inggris pada 10 Juli 2026, menandai fase baru pengurangan kekuatan udara AS di Timur Tengah.
Jet-jet tempur dari Wing Tempur ke-1 (1st Fighter Wing) yang berbasis di Langley-Eustis, Virginia, tersebut awalnya dikirim ke Timur Tengah pada akhir Februari 2026.
Diperkirakan hingga 12 unit F-22 sempat ditempatkan di Pangkalan Udara Ovda, Israel selatan. Langkah ini dinilai sebagai pengerahan yang tidak biasa untuk armada F-22 yang jumlahnya relatif kecil dan sangat terspesialisasi.
Baca Juga: Penempatan tempur pertama di Israel, 12 F-22 Raptor AS bersiaga penuh
Penarikan ini merupakan bagian dari reorganisasi militer AS yang lebih luas pascakonflik. Selain F-22, sejumlah aset udara lain seperti F-15E Strike Eagle dari Wing Tempur ke-48 dan pengebom strategis B-52 Stratofortress juga mulai kembali ke pangkalan asal mereka atau ke pos transit di Eropa.
Perdebatan Efisiensi Operasional
Kembalinya F-22 memicu diskusi hangat di kalangan analis militer mengenai efisiensi penggunaan jet tempur superioritas udara tersebut. F-22 dirancang khusus untuk menembus wilayah udara yang sangat dijaga ketat, mendeteksi musuh tanpa terlihat, dan mendominasi pertempuran udara ke udara (dogfight).
Namun, dalam kampanye militer melawan Iran, ancaman dari kekuatan udara lawan terbilang minim. Sebagian besar misi justru berfokus pada serangan terhadap target darat, sistem militer, dan infrastruktur strategis.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai tingginya biaya operasional F-22 dibandingkan dengan kontribusi langsungnya dalam misi yang didominasi serangan darat.
Saat dominasi udara sudah tercapai, jet tempur multifungsi atau pesawat pembom lain dinilai lebih efektif karena mampu membawa logistik persenjataan yang lebih banyak dan bervariasi dalam jangka panjang.
Peran Strategis yang Tetap Krusial
Meski efisiensinya dipertanyakan, kehadiran F-22 dinilai tidak sia-sia. Dengan sensor canggihnya, Raptor bertindak sebagai “jaringan pengawas” yang meningkatkan kesadaran situasional bagi jet tempur lainnya.
F-22 juga memiliki kemampuan serangan presisi internal dan memberikan perlindungan ekstra terhadap potensi ancaman udara yang tidak terduga.
Lebih dari itu, pengerahan ke Pangkalan Ovda membawa pesan strategis yang kuat: AS mampu dengan cepat memproyeksikan kekuatan udara generasi kelima paling canggih miliknya ke dekat teater operasi yang sangat kompleks.
Masa Depan Armada F-22
Saat ini, USAF mengoperasikan sekitar 180 unit F-22 Raptor, termasuk untuk unit pelatihan. Karena produksinya sudah dihentikan lebih dari satu dekade lalu, setiap unit yang tersisa menjadi aset strategis yang sangat berharga.
Di tahun 2026 ini, anggota parlemen AS tengah mengajukan usulan untuk melarang pemensiunan dini F-22 setidaknya hingga awal dekade berikutnya.
Langkah ini diambil guna menjaga kemampuan superioritas udara AS, mengingat jet tempur generasi berikutnya, F-47, masih dalam tahap pengembangan dan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum siap beroperasi dalam jumlah besar.
Pengalaman dari perang melawan Iran ini diprediksi akan memengaruhi evaluasi masa depan mengenai bagaimana AS akan mengoptimalkan sisa masa bakti armada F-22 miliknya. (RNS)
