Penempatan tempur pertama di Israel, 12 F-22 Raptor AS bersiaga penuh

12 F-22 Raptor AS dilaporkan telah mendarat di Israel untuk menyerang IranVia X

AIRSPACE REVIEW – Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan setidaknya 12 jet tempur F-22 Raptor Angkatan Udara AS (USAF) telah mendarat di sebuah pangkalan udara di Israel pada hari Selasa.

Pendaratan selusin jet tempur siluman ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan Washington dengan Teheran.

“Dua belas jet tempur F-22 AS mendarat siang ini di salah satu pangkalan Angkatan Udara Israel di selatan negara itu, sebagai bagian dari pengerahan Amerika di Timur Tengah,” tulis KAN.

Ditambahkan bahwa pesawat ditugaskan, di antara misi lainnya, untuk menembus wilayah musuh dan melumpuhkan sistem pertahanan udara dan instalasi radar.

Sementara itu, OSINTdefender melalui akunnya menulis, sebelas dari dua belas pesawat F-22 Raptor yang berangkat dari RAF Lakenheath di Suffolk, Inggris, telah mendarat di Pangkalan Udara Ovda di Gurun Negev, Israel Selatan.

Pesawat bergabung dengan peningkatan kekuatan USAF di pangkalan-pangkalan di seluruh Timur Tengah.

Salah satu F-22 terpaksa kembali ke RAF Lakenheath tak lama setelah lepas landas, karena diduga terjadi kebocoran bahan bakar. Meski demikian, satu pesawat itu kemungkinan besar akan melakukan perjalanan ke Israel pada hari Jumat.

Seperti diketahui, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di wilayah Teluk Persia di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump akan tindakan militer terhadap Teheran jika negosiasi nuklir saat ini gagal.

Penempatan F-22 untuk misi tempur dari Israel, merupakan yang pertama kalinya.

Sebelumnya, Raptor pernah singgah dalam jumlah kecil di Israel untuk melaksanakan latihan dengan sekutu di Qatar.

F-22 Raptor adalah jet tempur generasi kelima pertama di dunia yang dirancang khusus untuk dominasi udara (air superiority).

Sejak operasional pada 2005, pesawat ini tetap menjadi standar emas dalam pertempuran udara karena kombinasi empat pilar utamanya, yaitu Stealth, Supercruise, Maneuverability, dan Integrated Avionics.

Kemampuan supercruise adalah kapabilitas pesawat ini untuk terbang di atas kecepatan suara, sekitar Mach 1.5 – 1.8, secara terus-menerus tanpa menggunakan afterburner.

Sementara dengan sensor dan integrasi avionik yang dimilikinya, memungkinkan Raptor berfungsi sebagai “otak” di udara.

Radar AN/APG-77 AESA miliknya dapat mendeteksi musuh dari jarak sangat jauh sebelum musuh menyadari keberadaan Raptor (First Look, First Shot, First Kill).

Selama lebih dua dekade, Raptor dengan predikat sebagai “Raja Udara” masih terus menjadi andalan utama AS untuk misi-misi tempur berisiko sangat tinggi.

Meskipun demikian, produksinya pesawat ini sudah dihentikan pada tahun 2011 dengan total hanya 187 unit operasional.

Saat ini, AS sedang menyiapkan penggantinya melalui program NGAD (Next Generation Air Dominance) atau yang sering disebut sebagai jet tempur generasi keenam, F-47. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *