Indonesia dan Jepang memulai pembicaraan untuk akuisisi tujuh kapal perusak kelas Asagiri

Kapal Perusak Asagiri-classJapan MoD

AIRSPACE REVIEW – Menteri Pertahanan Republik Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi telah memulai pembicaraan formal mengenai potensi transfer kapal perusak kelas Asagiri untuk TNI Angkatan Laut. Pembicaraan dilaksanakan di Tokyo, pada 5 Juni 2026.

Inisiatif tersebut mengikuti revisi kerangka kerja ekspor pertahanan Jepang pada April 2026, di mana Jepang telah mengahapus pembatasan transfer platform angkatan laut yang mematikan ke mitra keamanan regional.

Kelompok kerja bilateral akan mengevaluasi kelayakan untuk mentransfer tujuh kapal perusak serbaguna kelas Asagiri berbobot 3.500 ton tersebut. Satu di antaranya akan diubah menjadi kapal pelatihan.

Jumlah Pasti Belum Diketahui

Namun demikian, Jepang dan Indonesia belum menyepakati jumlah pasti kapal kelas Asagiri yang akan diadopsi, termasuk juga urutan pengiriman, cakupan perbaikan, dan formula pembagian biayanya.

Pelatihan merupakan isu kunci dalam transfer ini, karena setiap kapal kelas Asagiri membutuhkan sekitar 220 personel.

Personel tersebut mencakup tim anjungan, insinyur turbin gas, tim pengendalian kerusakan, operator radar dan sonar, teknisi senjata, personel komunikasi, awak pendukung penerbangan, dan staf komando.

Pemeliharaan juga sama pentingnya karena kapal perusak ini rata-rata berusia 35 hingga 38 tahun.

Dengan usia pakai yang telah digunakan tersebut dapat menghabiskan banyak biaya untuk pekerjaan pencegahan korosi, perbaikan sistem propulsi, perbaikan elektronik, dukungan sistem tempur, dan penggantian komponen usang sebelum dapat digunakan secara operasional.

Diperkenalkan pada akhir tahun 1980-an, delapan kapal perusak kelas Asagiri dioperasikan oleh Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF).

Jangkauan Operasional Hingga 6.000 Mil Laut

Untuk spesifikasinya, kapal memiliki bobot standar 3.500 ton dan bobot penuh 4.900 ton, berdimensi panjang 137 m dan lebar 14,6 m.

Sistim propulsinya berupa empat turbin gas Kawasaki/Rolls-Royce Spey SM-1A, yang menghasilkan daya 54.000 shp melalui dua poros, memungkinkan kecepatan maksimum 30 knot.

Jangkauan operasional kapal hingga 6.000 mil laut pada laju kecepatan jelajah 20 knot dan 8.000 mil laut pada kecepatan jelajah 14 knot.

Fasilitas penerbangan pada kapal termasuk dek penerbangan dan hanggar untuk satu helikopter antikapal selam SH-60J/K, yang mengubah kapal perusak ini menjadi aset peperangan antikapal selam (ASW) dan pengawasan maritim yang lebih luas.

Beragam Alutsista Ampuh

Kelas Asagiri membawa delapan rudal RGM-84 Harpoon dalam peluncur Mk 141, untuk menghadapi kapal perang permukaan lawan.

Kapasitas pertahanan udara kapal terbatas pada satu peluncur Mk 29 untuk delapan rudal permukaan ke udara RIM-7 Sea Sparrow, didukung pula oleh dua dudukan CIWS Mk 15 Phalanx untuk pertahanan akhir terhadap rudal dan pesawat yang datang.

Kapal juga mengusung meriam laut OTO Melara 76 mm, yang berguna untuk pertempuran permukaan dan tembakan peringatan.

Menghadapi peperangan bawah air, kelas ini membawa peluncur ASROC Type 74/Mk 16, dua tabung torpedo tiga laras 324 mm untuk torpedo ringan Mk 46, sonar lambung OQS-4A, dan sonar array tarik OQR-1.

Sementara, perangkat radar dan sistem tempurnya mencakup radar pencarian udara OPS-14/OPS-24, radar pencarian permukaan OPS-28, sistem pengarah tempur OYQ-6/OYQ-7, Link-11, tindakan dukungan elektronik, pengacau sinyal, peluncur umpan dan umpan tiruan, serta umpan torpedo.

Kehadiran kelas Asagiri ini akan memberi Indonesia kapal pengawal dan antikapal selam yang matang yang berpusat pada operasi helikopter dan torpedo, bukan sebagai kapal perusak rudal berpemandu modern. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *