Mengintip masa depan perang udara: Mengapa duet F-15EX dan drone MQ-28 Ghost Bat di Pasifik begitu penting?
PACAFAIRSPACE REVIEW – Sebuah pemandangan menarik dan bersejarah tersaji di langit di atas Laut Filipina baru-baru ini. Dalam latihan militer multinasional skala besar, Valiant Shield 26, sebuah jet tempur F-15EX Eagle II Angkatan Udara AS (USAF) terbang berdampingan dengan drone otonom MQ-28 Ghost Bat.
Dikatakan sangat menarik karena duet jet tempur canggih terbaru dari Boeing ini “begitu cepat” dipadukan dengan loyal wingman MQ-28 dan ditampilkan di teater “sensitif”.
Foto-foto yang dirilis oleh Komando Pasifik AS (PACAF) bukan sekadar pamer kekuatan biasa. Hal ini dapat dimaknai sebagai “sinyal terkuat” sejauh ini mengenai pergeseran doktrin pertempuran udara global, di mana pilot manusia bertindak sebagai manajer pertempuran yang mengendalikan kawanan drone tempur cerdas.
Mari kita bedah mengapa kombinasi kedua platform buatan Boeing ini menjadi titik balik penting dalam strategi militer modern, khususnya di kawasan Pasifik yang punya potensi gejolak tinggi.
Sang Elang Berevolusi Menjadi Pengendali Drone
Sejak USAF memutuskan untuk membeli F-15EX, banyak pengamat mempertanyakan mengapa militer AS masih membeli jet tempur generasi keempat (berbasis desain lama) di era jet siluman generasi kelima seperti F-35 dan F-22 yang dimodernisasi, juga di saat jet tempur generasi keenam sedang dikebut pengembangannya?
Jawabannya kini menjadi sangat jelas, bahwa F-15EX tidak dirancang untuk menyusup ke wilayah udara musuh sendirian.
Pesawat ini faktanya dirancang untuk menjadi node komando udara. Ada beberapa alasan teknis yang mendukung sinyalemen ini.
Pertama, konfigurasi dua kokpit (depan-belakang) pada F-15EX menghadirkan keunggulan baru.
Kursi belakang yang dulunya diisi oleh Weapon Systems Officer (WSO) kini bisa dialihfungsikan menjadi Air Battle Manager (ABM) atau operator siber yang fokus penuh mengendalikan aset tanpa awak (Collaborative Combat Aircraft/CCA).
Kedua, penggunaan layar kokpit lebar (LAD) pada F-15EX dibandingkan versi lawas yang menggunakan monitor monokrom tahun 1980-an, dapat dikustomisasi sehingga lebih memudahkan pilot menyintesis data dari berbagai drone di sekitarnya.
Ketiga, kapasitas angkut besar dan jangkauan jauh dari F-15EX, yang bisa membawa senjata dalam jumlah sangat banyak dan terbang jauh, merupakan karakteristik krusial untuk geografi luas Samudra Pasifik.
Ghost Bat: Sang Pengganda Kekuatan
Di sisi lain, MQ-28 Ghost Bat —yang awalnya dikembangkan oleh Boeing Australia untuk Angkatan Udara Australia (RAAF)— menawarkan kemampuan mutakhir dengan biaya yang jauh lebih murah daripada jet tempur berawak.
Dalam skenario pertempuran modern ini, Ghost Bat bertindak sebagai kepanjangan tangan dari F-15EX. CCA ini dilengkapi dengan sensor pencari canggih, seperti Infrared Search and Track/IRST, sehingga memungkinkannya untuk terbang lebih maju ke wilayah berbahaya.
Perannya jelas, yaitu menjadi “mata dan telinga” garis depan yang mendeteksi musuh tanpa membahayakan nyawa pilot manusia.
Dan selain itu, untuk pertahanan diri sekaligus penyerangan, Ghost Bat versi Block 3 dilengkapi dengan ruang senjata internal yang mampu membawa rudal udara ke udara AIM-120 AMRAAM.
Menantang Dominasi China di Pasifik
Uji coba di latihan Valiant Shield 2026 tidak terjadi di ruang hampa. Latihan ini dirancang dengan satu target bayangan yang jelas, yaitu Angkatan Udara Angkatan Pembebasan Rakyat China (PLAAF) yang kekuatannya tumbuh sangat pesat di Pasifik.
Skenario ke depan, jika terjadi konflik di kawasan ini, pangkalan udara konvensional AS seperti di Kadena, Jepang, dapat dipastikan akan menjadi target utama rudal China.
Maka, untuk menghadapi ancaman ini, militer AS menerapkan konsep Agile Combat Employment (ACE) yang telah sering dilatihkan dan dipraktikkan, yaitu menyebarkan pesawat ke landasan pacu darurat atau terpencil agar sulit dihancurkan.
Menariknya, dalam latihan Valiant Shield kali ini, drone Ghost Bat juga diuji coba dalam simulasi Forward Arming and Refueling Point (FARP) di Pulau Rota.
Artinya, drone ini terbukti bisa mendarat, diisi bahan bakar, dan dipersenjatai kembali di landasan pacu darurat yang minim fasilitas.
Kombinasi jet F-15EX di pangkalan utama yang mengendalikan jaringan drone dari berbagai pulau terpencil akan menciptakan kekacauan taktis bagi sistem pertahanan musuh.
Masih Banyak Misteri
Namun demikian, meski foto-foto yang dirilis PACAF tampak luar biasa, sejumlah pengamat tetap bersikap skeptis. Terlebih karena PACAF belum merinci sejauh mana integrasi sistem yang terjadi di atas Laut Filipina tersebut.
Apakah F-15EX benar-benar mengendalikan Ghost Bat secara real-time menggunakan perangkat lunak otonom canggih, ataukah mereka hanya terbang berformasi demi sesi foto?
The War Zone (TWZ), portal militer yang menjadi rujukan tulisan ini menggarisbawahi, mengingat Valiant Shield adalah ajang uji coba konsep teknologi baru, kemungkinan besar ada pengujian sistem transmisi data terintegrasi yang sedang dilakukan di balik layar.
Terlepas dari seberapa dalam integrasi yang sudah dicapai saat ini, pesan yang dikirimkan AS kepada dunia sangatlah tegas.
Era pertempuran udara tidak lagi sekadar adu kecanggihan satu jet tempur melawan jet tempur lainnya. Masa depan perang udara adalah tentang Human-Machine Teaming (kerja sama manusia dan mesin).
Pakem ini telah menjadi perhatian serius negara-negara maju, yang pada akhirnya juga berlomba-lomba secara mandiri untuk menghadirkan CCA canggih masing-masing.
Dengan rencana USAF untuk menambah armada F-15EX hingga 267 unit pada anggaran tahun 2027, Sang Elang tampaknya akan memimpin revolusi teknologi tanpa awak di garda terdepan Pasifik. (RNS)
