Bawa rudal AMRAAM di ruang internal, Boeing ungkap versi terbaru MQ-28 Ghost Bat di ILA Berlin 2026
BoeingAIRSPACE REVIEW – Boeing secara resmi memperkenalkan evolusi terbaru dari MQ-28 Ghost Bat di pameran dirgantara ILA Berlin 2026 di Jerman pada 10-14 Juni ini.
Drone tempur kolaboratif (Collaborative Combat Aircraft/CCA) yang awalnya dikembangkan untuk Angkatan Udara Australia (RAAF) ini kini hadir dengan modifikasi struktural signifikan.
Modifikasi tersebut meningkatkan jangkauan terbang, kapasitas muatan, serta kemampuan membawa persenjataan di dalam bodi pesawat (internal weapons bay).
Peningkatan ini menandai salah satu lompatan terbesar sejak penerbangan perdana Ghost Bat.
Perombakan Sayap Baru Lebih Besar
Boeing melakukan perombakan desain yang mencakup sayap baru dengan bentang lebih lebar (25% lebih besar), kapasitas bahan bakar yang ditingkatkan, serta integrasi ruang senjata internal —ciri khas pesawat siluman generasi terbaru.
Modifikasi tersebut dirancang untuk memenuhi tuntutan modern dari berbagai angkatan udara di dunia yang ingin mengintegrasikan sistem nirawak ke dalam operasi tempur garis depan.
Melalui konsep ini, drone otonom tersebut diproyeksikan untuk mendampingi jet tempur berawak dalam menjalankan misi pengintaian, perang elektronik, serta serangan udara ke udara, guna meminimalisasi risiko bagi pilot manusia sekaligus melipatgandakan kekuatan tempur armada udara.
Kompartemen AIM-120 AMRAAM
Fitur yang paling mencuri perhatian dalam pengenalan versi baru ini adalah kompartemen senjata internal yang mampu menampung rudal udara ke udara jarak jauh AIM-120 AMRAAM.
Perubahan struktural ini memungkinkan MQ-28 mengangkut tambahan bahan bakar, persenjataan, serta muatan misi (mission payloads) hingga seberat 2.000 pon (sekitar 907 kg).
Selain itu, drone ini kini dikonfigurasi untuk dapat membawa dua rudal AMRAAM atau empat bom berdiameter kecil (Small Diameter Bombs/SDB) di dalam kompartemen senjata internalnya.
“Kapasitas tambahan tersebut memberikan kebebasan bagi operator untuk menyeimbangkan antara muatan dan daya tahan terbang (endurance) sesuai dengan misi yang dihadapi. Baik itu membawa bahan bakar ekstra untuk operasi jarak jauh, meningkatkan kapasitas senjata, atau kombinasi keduanya,” ujar Glen Ferguson, Direktur Program Global MQ-28.
Sistem Komunikasi BLOS
Boeing juga mengintegrasikan sistem komunikasi BLOS (Beyond Line of Sight) pada CCA ini. Pengenalan tautan komunikasi di luar jarak pandang memungkinkan operator mengendalikan MQ-28 dari pesawat berawak, stasiun darat, maupun kapal laut dari jarak yang tak terbatas (unlimited standoff distances).
Selain itu, Boeing melakukan peningkatan perangkat lunak secara signifikan di mana pembaruan software ini mematuhi Government Reference Architecture.
Standar terbuka ini memudahkan operator untuk menyesuaikan persenjataan, muatan, sistem komando dan kendali, serta otonomi misi sesuai kebutuhan operasional mereka.
Semua integrasi ini mengubah MQ-28 dari sekadar drone pendukung menjadi platform yang mampu terlibat langsung dalam misi superioritas udara, menjadi pengganda kekuatan bagi jet tempur seperti F-35, F-22, maupun jet tempur generasi keenam di masa depan.
Selain menjaga tingkat deteksi radar yang rendah (low radar signature), penyimpanan senjata di dalam bodi pesawat juga meningkatkan peluang bertahan hidup (survivability) drone saat beroperasi di wilayah udara yang dijaga ketat oleh sistem pertahanan udara musuh.
Meskipun Boeing belum merilis angka pasti terkait jangkauan terbang terbarunya, peningkatan luas sayap dan kapasitas bahan bakar diklaim membuat MQ-28 mampu beroperasi lebih lama dan menjangkau jarak yang lebih jauh dari pangkalannya.
Karakteristik ini dinilai sangat krusial untuk skenario pertempuran di wilayah dengan geografis luas seperti kawasan Indo-Pasifik.
Tren Global Integrasi MUM-T
Pengembangan MQ-28 Ghost Bat dilakukan di tengah tren global yang berfokus pada integrasi pesawat berawak dan nirawak (MUM-T).
Di Amerika Serikat sendiri, Angkatan Udara AS (USAF) tengah memacu program CCA untuk mengintegrasikan ratusan drone canggih ke dalam armada tempur masa depan mereka.
MQ-28 saat ini dinilai sebagai salah satu proyek paling matang di kelasnya. Program ini telah melewati berbagai rangkaian uji coba intensif untuk memvalidasi sistem otonom, sensor canggih, dan operasi gabungan.
Salah satu pencapaian puncaknya baru-baru ini adalah keberhasilan Ghost Bat dalam melakukan uji coba peluncuran rudal AIM-120 AMRAAM dalam tes bersama RAAF.
Keberhasilan tersebut membuktikan kemampuan drone dalam mendeteksi, melacak, dan mengunci target secara mandiri dalam pertempuran nyata.
Selain menarik minat dari Australia dan Amerika Serikat, kemajuan proyek MQ-28 dilaporkan juga terus dipantau secara ketat oleh negara-negara sekutu lain seperti Jerman dan Jepang.
Boeing kini aktif memperluas kemitraan industri untuk menyesuaikan sistem drone ini dengan kebutuhan spesifik dari calon konsumen internasional mereka. (RNS)
