Ambisi samai AS, China genjot pelatihan J-15T untuk kapal induk Fujian berteknologi katapult
China.milAIRSPACE REVIER – Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA Navy/PLAN) menggenjot pelatihan pilot jet tempur J-15T Flying Shark untuk beroperasi di kapal induk terbaru Type 003 Fujian (18) yang berteknologi katapult.
Melalui dokumentasi yang dirilis pada pertengahan Juli 2026, PLAN memperlihatkan simulasi peluncuran dan pendaratan siklus penuh berbasis darat sebelum operasional di kapal induk. Latihan intensif ini dirancang tidak hanya untuk menggembleng kualifikasi para pilot serta kru darat, melainkan juga untuk mencapai kemahiran pilot dan tim pendukungnya dalam menjalankan operasi tempur berintensitas tinggi (high-tempo operations).
Simulasi Geladak di Darat
Simulasi operasi penerbangan di darat dilaksanakan di basis latihan utama PLAN di Huangdicun, Provinsi Liaoning. Fasilitas darat ini menggunakan landasan pacu yang dicat khusus menyerupai tata letak geladak kapal induk dan dilengkapi dengan sistem kabel penangkap pendaratan (arresting gear), lintasan pelontar darat, hingga struktur ski-jump.
Di fasilitas ini, para pilot dilatih untuk mengasah presisi pendaratan di titik tangkap yang tepat serta menguji prosedur darurat jika pengait pendarat gagal menyangkut kabel (bolter). Pada saat yang bersamaan, tim di darat yang terdiri dari petugas pengarah parkir, kru pengisi bahan bakar, dan tim teknis persenjataan mempraktikkan prosedur penyiapan ulang pesawat (turnaround time) secara cepat dan sistematis.
Penggunaan fasilitas darat ini menjadi strategi yang sangat efisien bagi PLAN untuk meningkatkan kualifikasi ribuan personel secara masif tanpa harus mengorbankan waktu operasional terbatas maupun mengambil risiko di atas tiga kapal induk China yang sedang bertugas di lautan.
Transisi ke J-15T Berpelontar
Pengembangan skenario latihan darat ini beriringan dengan transformasi teknis yang signifikan pada jet tempur J-15 itu sendiri. Langkah ini diambil untuk menjembatani transisi teknologi peluncuran pesawat tempur berbasis kapal induk China dari sistem lama menuju sistem modern.
Varian awal jet tempur J-15 Flying Shark (NATO: Flanker-X2) yang selama ini dioperasikan di kapal induk Liaoning dan Shandong sangat bergantung pada landasan luncur ski-jump (sistem STOBAR/Short Take-Off But Arrested Recovery). Keterbatasan mekanis pada sistem ski-jump memaksa pesawat untuk membatasi bobot lepas landasnya, sehingga jet tempur sering kali harus mengorbankan kapasitas muatan bahan bakar maupun rudal yang dibawanya.
Hal ini berbeda signifikan dengan varian terbaru, J-15T, yang dirancang khusus untuk sistem pelontar katapult (CATOBAR/Catapult Assisted Take-Off But Arrested Recovery). Varian J-15T hadir dengan struktur roda depan ganda yang diperkuat, batang pengait pelontar (launch bar), mesin buatan dalam negeri seri WS-10, serta kubah radar AESA modern. Keunggulan teknis ini terbukti dalam uji terbang pada Juli 2026, di mana satu unit J-15T mampu lepas landas membawa empat unit rudal antikapal YJ-83K dengan bobot total muatan mencapai sekitar 2,9 ton, jauh melampaui kapasitas varian lama.
Proyeksi Kekuatan Fujian
Kehadiran kapal induk Fujian yang memiliki bobot perpindahan lebih dari 80.000 ton menjadi tonggak sejarah baru dalam mempertegas komitmen modernisasi kekuatan maritim China di tingkat global. Berbeda dari dua kapal induk pendahulunya, Fujian dilengkapi dengan tiga jalur sistem pelontar elektromagnetik yang setara dengan teknologi EMALS (Electromagnetic Aircraft Launch System) milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy/USN).
Penggunaan sistem pelontar elektromagnetik ini memungkinkan jet tempur meluncur dalam kapasitas bobot lepas landas maksimum (MTOW/Maximum Take-Off Weight), sehingga pesawat dapat membawa paket persenjataan penuh dan cadangan bahan bakar ekstra untuk jangkauan jelajah yang lebih jauh.
Baca Juga: China kembangkan jet tempur J-15D EW untuk kapal induk baru Type 003 Fujian
Selain mendukung operasional J-15T, kapal induk Type 003 dirancang untuk mengoperasikan ekosistem penerbangan yang jauh lebih kompleks dan beragam. Geladak Fujian nantinya akan menjadi rumah bagi jet tempur siluman generasi kelima J-35, varian peperangan elektronik J-15D, pesawat peringatan dini dan kontrol udara berbaling-baling KJ-600, serta berbagai tipe helikopter dan pesawat nirawak (UAV).
Kemampuan mengintegrasikan dan mengoordinasikan berbagai jenis pesawat tempur dalam satu gugus tugas menjadi kunci utama China untuk mempertahankan dominasi udara dan pengawasan maritim di Pasifik Barat, sekaligus memperluas jangkauan operasional pertahanan udaranya mencakup wilayah strategis di timur Taiwan, Laut Filipina, hingga Jalur Cincin Pulau Kedua (Second Island Chain).
Daya Gempur Lebih Masif
Sebagai tulang punggung utama penerbangan maritim China, J-15 Flying Shark dirancang oleh Shenyang Aircraft Corporation (SAC) berbasiskan cetak biru rancangan pesawat tempur era Uni Soviet, Su-33 Flanker-D. Secara dimensi, pesawat ini memiliki panjang sekitar 21,9 m, rentang sayap 14,7 m saat dibentangkan, serta MTOW mendekati 33 ton.
Desain aerodinamisnya menggabungkan konfigurasi sayap lipat, bilah sayap kecil di depan (canard), roda pendarat yang diperkuat untuk dampak benturan geladak, serta ekor pendarat (arresting hook) khusus.
Dari segi performa daya jelajah dan persenjataan, J-15 dibekali tangki bahan bakar internal yang mampu menampung hingga sembilan ton avtur, serta 12 titik kait muatan eksternal (hardpoints) dengan kapasitas angkut senjata mencapai 6,5 ton.
Konfigurasi persenjataan awal varian J-15 standar mengandalkan rudal udara ke udara jarak pendek berpemandu inframerah PL-8B dan rudal jarak menengah berpemandu radar aktif PL-12, yang ditunjang oleh kanon internal 30 mm dengan amunisi 150 putaran untuk pertempuran jarak dekat.
Evolusi ke varian J-15T menandai lompatan kapabilitas sensor dan daya gempur yang jauh lebih masif bagi armada PLA Navy. Varian J-15T mengadopsi radar AESA (Active Electronically Scanned Array) modern yang dipadukan dengan rudal udara ke udara jarak dekat PL-10 dan rudal jarak jauh melampaui jarak pandang visual (Beyond Visual Range) PL-15, yang memberikan keunggulan jarak tembak serta akuisisi target berpresisi tinggi.
Kombinasi inovasi struktur pelontar dan persenjataan antikapal seperti YJ-83K hingga rudal antiradar menjadikannya elemen penyerang utama yang fleksibel, baik untuk fungsi pertahanan udara armada (fleet air defense), pengawalan gugus tempur, maupun operasi serangan maritim permukaan berjangkauan jauh.
Pendek kata, J-15T merupakan paket lengkap penempur generasi keempat plus yang teknologi awalnya mengadopsi mahakarya Rusia.
Analisis Masa Depan PLAN
Keberhasilan menguasai teknologi pelontar elektromagnetik dan mengintegrasikan varian J-15T menjadi indikasi kuat transisi strategis PLAN dari kekuatan green-water navy menuju blue-water navy sejati. Ke depan, PLAN tidak lagi sebatas mengandalkan pertahanan pantai atau proyeksi kekuatan jarak dekat, melainkan mampu menggelar Gugus Tempur Kapal Induk (Carrier Strike Group) yang setara dengan standar US Navy.
Keberadaan pelontar elektromagnetik memberikan fleksibilitas taktis tinggi, di mana PLAN dapat meluncurkan kombinasi jet tempur berbobot penuh, pesawat radar KJ-600, dan drone tempur dalam interval waktu yang sangat singkat untuk memenangkan superioritas udara di lautan lepas.
Baca Juga: Penampakan terbaru KJ-600 AEW&C berbasis kapal induk China, pesaing E-2 Hawkeye Amerika Serikat
Proyeksi kekuatan ini akan mengubah peta keseimbangan militer di Indo-Pasifik secara signifikan. Dengan armada kapal induk berkatapult, PLAN memiliki kemampuan untuk memutus rantai isolasi strategis di sepanjang First Island Chain dan memproyeksikan kekuatan tempur secara konsisten di kawasan Laut Filipina hingga Samudra Hindia.
Diintegrasikannya kapal penjelajah Type 055 dan kapal perusak Type 052D dalam pengawalan kapal induk berpelontar ini menjadikan PLAN memiliki daya gentar (deterrence) yang kokoh, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan maritim paling dominan di kawasan.
Target Militer Kelas Dunia Tahun 2049
Menengok perkembangan pesat teknologi tempur matra udara PLAN, mungkin masih banyak yang skeptis. Tetapi, harus diakui bila China memang tidak main-main dengan perencanaan jangka panjangnya untuk memiliki kekuatan militer terunggul di dunia.
Dalam doktrin modernisasi militer yang dicanangkan oleh Presiden Xi Jinping, untuk PLA termasuk juga PLAN dalam hal ini, telah ditetapkan tiga target garis waktu utama.
Target pertama berfokus pada tahun 2027 bersamaan dengan peringatan 100 tahun berdirinya PLA. Pada fase ini, Beijing menargetkan penuntasan modernisasi berbasis mekanisasi dan informatisasi. Langkah ini bertujuan membangun kemampuan militer tangguh di kawasan, khususnya Taiwan dan Laut China Selatan, demi menahan potensi intervensi militer Amerika Serikat.
Baca Juga: Laporan Pentagon membuat AS khawatir: China akan membangun enam kapal induk dalam 10 tahun ke depan
Selanjutnya pada tahun 2035, China menargetkan modernisasi penuh secara menyeluruh di seluruh cabang matra pertahanannya. Pada tahap ini, PLAN diproyeksikan telah bertransformasi menjadi kekuatan Blue-water Navy yang matang. China akan mengoperasikan beberapa gugus tempur kapal induk (Carrier Strike Group) berteknologi tinggi, termasuk Type 003 Fujian dan penerusnya, guna memperluas proyeksi kekuatan hingga ke Pasifik Barat dan Samudra Hindia.
Puncak dari peta jalan strategis ini berada pada tahun 2049 yang bertepatan dengan satu abad berdirinya Republik Rakyat China. Pada tonggak sejarah tersebut, Beijing menargetkan pencapaian status militer kelas dunia (World-class Military) yang setara atau bahkan mengungguli kekuatan militer Amerika Serikat secara global. Yuk, mari kita lihat dan tunggu perkembangan berikutnya… (RNS)
