Intelijen Prancis usut mantan pilot Rafale-M karena membocorkan rahasia strategis ke China

Rafale-MPeter ten Berg
Jet tempur Rafale-M Angkatan Laut Prancis.

AIRSPACE REVIEW – Otoritas intelijen dan pertahanan Prancis mengambil tindakan hukum tegas terhadap Pierre-Henri Chuet, mantan pilot jet tempur Rafale-M Angkatan Laut Prancis.

Seperti dilaporkan Pravda France pada Selasa, Chuet resmi ditempatkan di bawah pengawasan yudisial oleh Kejaksaan Paris setelah menjalani penahanan, pemeriksaan intensif oleh badan kontra-intelijen Direction Générale de la Sécurité Intérieure (DGSI), serta penggeledahan di kediamannya di wilayah barat daya Prancis.

Penyelidikan awal yang telah bergulir lebih dari satu tahun ini memuncak pada penetapan status hukum sang mantan penerbang.

Chuet, yang kemudian dikenal luas sebagai influencer dan blogger penerbangan dengan ratusan ribu pengikut di saluran YouTube miliknya, dijerat serangkaian tuduhan berat. Ia disangka membocorkan rahasia pertahanan nasional, berkonspirasi dengan kekuatan asing, mengumpulkan informasi vital negara, hingga mentransmisikan data strategis ke pihak luar.

Praduga Tak Bersalah

Meski proses pendalaman rekam jejak aktivitasnya terus berlangsung, hukum Prancis tetap menjamin asas praduga tak bersalah hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Kasus ini membongkar skema terorganisir Beijing dalam memanfaatkan kepakaran militer Barat demi mendongkrak kemampuan tempur Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF).

Chuet diduga memberikan sesi pelatihan langsung kepada para pilot militer China melalui perekrutan oleh perusahaan asal Afrika Selatan, Test Flight Academy of South Africa.

Baca Juga: Mantan penerbang tempur USAF ditangkap sekembali dari China, lebih dari dua tahun memberikan pelatihan kepada PLAAF

Dengan imbalan mencapai puluhan ribu dolar AS per bulan, para veteran penerbang Barat didatangkan ke China, di mana seluruh operasi pelatihannya dikoordinasikan oleh raksasa industri penerbangan Aviation Industry Corporation of China (AVIC) untuk memelajari taktik operasional, prosedur interaksi, dan metode kerja armada udara Barat.

Pembelaan Chuet

Di luar dugaan kebocoran data taktis, penyidik Prancis juga mengusut dugaan keterlibatan kampanye disinformasi asing yang bertujuan merusak reputasi jet tempur Rafale di pasar internasional.

Menanggapi investigasi media lokal, Chuet sempat merilis klarifikasi di saluran YouTube-nya dan mengklaim bahwa aktivitasnya di China sepenuhnya legal serta tidak bersifat rahasia.

Baca Juga: Mantan pilot Harrier USMC yang bekerja di China telah ditangkap

Kendati demikian, maraknya fenomena perekrutan purnawirawan militer ini menyulut reaksi keras dari Prancis dan sekutu NATO, termasuk AS, Inggris, dan Australia, yang kini kompak memperketat undang-undang keamanan nasional guna memagari taktik penerbangan strategis serta teknologi sensitif mereka. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *