Mantan penerbang tempur USAF ditangkap sekembali dari China, lebih dari dua tahun memberikan pelatihan kepada PLAAF
Istimewa AIRSPACE REVIEW – Seorang mantan penerbang tempur Angkatan Udara AS (USAF) telah ditangkap sekembalinya dari China. Selama lebih dari dua tahun, pilot berpengalaman yang telah mengabdi 24 tahun di USAF itu, dituduh memberikan pelatihan ilegal kepada pilot-pilot Angkatan Udara China (PLAAF).
Departemen Kehakiman (DoJ) AS mengatakan, pilot bernama Gerald Eddie Brown Jr. (65 tahun), yang berpangkat akhir mayor tersebut, ditangkap di Jeffersonville, Indiana.
Ia didakwa memberikan layanan pertahanan kepada pilot militer China tanpa izin, sebuah pelanggaran yang termasuk dalam Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata.
Brown dijadwalkan hadir di pengadilan untuk pertama kalinya pada 26 Februari 2026, di Distrik Selatan Indiana.
Menurut ringkasan dari pengaduan DoJ, Brown diduga telah berkonspirasi setidaknya sejak sekitar Agustus 2023 dengan warga negara asing dan warga AS lainnya untuk memberikan pelatihan pesawat tempur kepada pilot-pilot PLAAF.
Departemen Kehakiman menegaskan bahwa pelatihan semacam itu diperlakukan sebagai layanan pertahanan berdasarkan Peraturan Lalu Lintas Senjata Internasional (ITAR) dan memerlukan izin dari Departemen Luar Negeri.
DoJ menyatakan Brown melakukan perjalanan ke China pada Desember 2023 untuk memulai pekerjaan tersebut dan tetap berada di sana hingga kembali ke Amerika Serikat pada awal Februari 2026.
Setibanya di AS, sebelum ditangkap, Brown diinterogasi pihak berwenang selama sekitar tiga jam, terkait masa lalunya di USAF dan keterlibatan terbarunya dalam layanan pelatihan pilot militer di China.
Para pejabat AS juga menuduh Brown menggunakan seorang kaki tangan untuk menegosiasikan persyaratan pengaturan pelatihan dengan Stephen Su Bin, seorang warga negara China.
Nama yang disebutkan terakhir, sebelumnya telah dihukum di AS karena berkonspirasi untuk meretas kontraktor pertahanan utama AS dan mencuri data militer serta data ekspor AS yang sensitif.
Selepas dari tugasnya di USAF tahun 1996, Brown tercatat sebagai instruktur pilot tempur yang dikontrak perusahaan swasta untuk memberikan pelatihan menggunakan simulator.
Jaksa penuntut merinci, saat bertugas di USAF, Brown menerbangkan dan melatih pilot pesawat F-4, F-15, F-16, dan A-10. Ia juga kemudian melatih pilot F-35 Lightning II dalam peran kontraktor.
Departemen tersebut juga memaparkan bahwa Brown memimpin unit-unit sensitif yang terkait dengan sistem pengiriman senjata nuklir selama dinas militernya.
Penangkapan Brown terjadi ketika para pejabat AS dan sekutu terus memperingatkan bahwa China menggunakan perantara swasta, termasuk perusahaan penerbangan di luar negeri, untuk merekrut awak pesawat dan spesialis militer Barat yang masih aktif dan yang sudah pensiun.
Sebuah buletin kontra intelijen gabungan Juni 2024 yang dikeluarkan melalui Pusat Kontra Intelijen dan Keamanan Nasional AS (NCSC) memperingatkan bahwa PLA telah menggunakan perusahaan swasta di Afrika Selatan dan China untuk merekrut mantan pilot tempur dari berbagai negara Barat, guna mendapatkan wawasan tentang taktik, teknik, dan prosedur Barat.
Dalam pengumumannya, DoJ secara eksplisit mengaitkan kasus Brown dengan penuntutan yang telah berlangsung lama terhadap mantan pilot Korps Marinir AS, Daniel Edmund Duggan.
Duggan didakwa pada tahun 2017 karena menyediakan layanan pertahanan kepada pilot militer China tanpa izin dan sekarang sedang berjuang melawan proses ekstradisi di Australia.
Di luar penuntutan individu, otoritas AS juga menargetkan jaringan yang diduga memfasilitasi hal tersebut.
Pada Januari 2026, DoJ mengajukan gugatan penyitaan sipil yang ditujukan kepada dua pelatih awak misi perang antikapal selam yang sedang dalam perjalanan dari Afrika Selatan ke China.
Kedua pelatih itu dituduh memanfaatkan Akademi Penerbangan Uji Afrika Selatan (TFASA) sebagai saluran untuk mentransfer keahlian penerbangan NATO dan merekrut mantan pilot NATO untuk pelatihan PLA.
TFASA juga telah menjadi target negara-negara NATO lainnya. Investigasi Sky News tahun 2022 mengatakan China menggunakan akademi tersebut sebagai kedok untuk merekrut mantan pilot militer Inggris, dengan menyebutkan tawaran gaji sekitar £240.000 (setara Rp5,4 miliar) per tahun.
Di Prancis, jaksa membuka penyelidikan pada tahun 2025 terhadap seorang mantan pilot Angkatan Laut Prancis yang diduga melakukan perjalanan ke China untuk kegiatan terkait pelatihan militer dengan biaya dari sebuah perusahaan Afrika Selatan.
NATO dan otoritas pertahanan nasional semakin sering memperingatkan mantan awak pesawat bahwa pekerjaan pasca-dinas dengan entitas penerbangan yang didukung China dapat menimbulkan risiko keamanan dan hukum. (RNS)
