Iran peringatkan Bulgaria agar tidak bantu operasi militer Amerika Serikat
RedditAIRSPACE REVIEW – Kementerian Luar Negeri Iran memberikan peringatan keras kepada Bulgaria agar tidak mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah serta fasilitas militernya untuk mendukung operasi militer terhadap Teheran. Pihak Iran menegaskan bahwa langkah tersebut akan membuat Sofia dianggap terlibat dalam tindak kejahatan perang dan agresi.
Peringatan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam wawancaranya dengan kantor berita resmi IRNA pada Selasa (21/7). Pernyataan ini merespons keterangan dari Perdana Menteri Bulgaria, Rumen Radev, pada Senin yang membenarkan bahwa pemerintahnya telah menerima nota resmi dari AS.
Dalam nota tersebut, Washington meminta izin untuk menempatkan hingga delapan pesawat tanker di Pangkalan Udara Bezmer — berjarak sekitar 257 kilometer di tenggara ibu kota Sofia — guna mendukung operasi militer AS di Timur Tengah. Dewan Menteri Bulgaria berencana mengajukan usulan tersebut ke parlemen untuk mendapatkan persetujuan.
Pelanggaran Piagam PBB
Baghaei menegaskan bahwa Bulgaria mengetahui secara pasti bahwa serangan militer AS terhadap Iran merupakan bentuk agresi yang nyata dan pelanggaran serius terhadap Piagam PBB serta hukum internasional.
“Setiap partisipasi atau kerja sama dalam mempersiapkan maupun menjalankan serangan melanggar hukum ini akan dianggap sebagai keterlibatan dalam kejahatan agresi dan kejahatan perang,” ujar Baghaei.
Ia menekankan agar parlemen Bulgaria tidak memberi izin penggunaan wilayah atau fasilitas militernya bagi pasukan AS, agar tidak menjadi sekutu dari pihak yang melakukan agresi dan kejahatan.
Baghaei menyinggung ketaatan terhadap hukum internasional dengan merujuk pada Resolusi Majelis Umum PBB No. 3314 tentang Definisi Agresi.
Menurut resolusi tersebut, menyediakan wilayah suatu negara agar dapat digunakan oleh negara lain untuk melakukan tindakan agresi terhadap negara ketiga secara hukum tergolong sebagai bentuk tindakan agresi itu sendiri.
Perang Sejak 28 Februari 2026
Rangkaian konflik Iran dan AS dimulai dengan serangan gabungan sepihak yang diluncurkan oleh Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 ke Teheran dan beberapa kota lainnya di Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, sejumlah komandan militer senior, serta ribuan warga sipil.
Iran kemudian membalasnya dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan dan aset-aset AS di kawasan Timur Tengah.
Meski pada 18 Juni Iran dan AS sempat menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk menghentikan perang di semua front serta merencanakan perundingan menuju kesepakatan final dalam kurun waktu 60 hari, nasib dialog tersebut kini berada di ujung tanduk akibat eskalasi dan aksi saling serang yang kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak akan ragu untuk membela kepentingan nasional serta keamanannya dari segala bentuk kejahatan dan agresi. Pihak mana pun yang terlibat dalam agresi militer terhadap Iran “harus siap bertanggung jawab atas segala konsekuensi dari tindakan mereka.”
Intensifikasi Serangan Malam AS
Sementara itu, Amerika Serikat terus menggempur target-target di Iran melalui serangan beruntun pada malam hari dalam sepuluh hari terakhir.
Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah menyelesaikan gelombang serangan udara beruntun terbaru terhadap sejumlah sasaran militer Iran pada Senin malam, 20 Juli 2026, sekitar pukul 21.00 waktu AS (Eastern Time).
Dalam rilis resminya dari Tampa, Florida, CENTCOM menyatakan bahwa pasukan AS menggempur berbagai fasilitas strategis, termasuk pusat komando militer, kemampuan maritim, situs peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara Iran. (RNS)
