Australia sukses menguji SM-2, sistem pertahanan udara versi berbasis darat

Australia menguji sistem pertahanan udara SM-2ADF
Australia menguji sistem pertahanan udara SM-2.

AIRSPACE REVIEW – Departemen Pertahanan Australia pada 9 Juli 2026 mengumumkan keberhasilan uji tembak pertama dari sistem rudal pertahanan udara SM-2 (Rudal Standar-2), senjata yang awalnya digunakan oleh kapal perang permukaan Angkatan Laut Australia (RAN).

Uji tembak tersebut sebenarnya telah dilakukan pada bulan Juni 2026, saat Latihan Taipan Strike 2026 (TSTK26), berlangsung di Woomera Test Range yang terpencil di Australia Selatan. Rudal SM-2 disimulasikan untuk mencegat target rudal jelajah.

Namun Pemerintah Australia merahasiakan detailnya hingga minggu ini, dan waktu pengungkapannya bukanlah kebetulan.

Melibatkan Sistem Tempur Aegis

SM-2 yang diuji tersebut melibatkan radar Phased Array Antenna yang dibangun oleh CEA Technologies di Canberra untuk mendeteksi dan melacak target rudal jelajah yang datang.

Data pelacakan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Sistem Senjata Aegis Virtualisasi, tulang punggung perangkat lunak dari Sistem Tempur Aegis yang sama seperti digunakan pada kapal kelas Hobart milik RAN.

Baca Juga: Angkatan Darat Australia melakukan penembakan pertama sistem pertahanan udara NASAMS di Woomera

Sistem SM-2 tersebut ditembakkan dari peluncur yang dipasang di trailer, disebut Sistem Peluncuran Ekspedisi, atau Derringer, yang dapat ditarik ke posisi di darat daripada ditembakkan dari dek kapal perang.

Rudal tersebut meluncur dengan cepat dan mencegat dan menghancurkan target yang telah diluncurkan lebih dulu.

Libatkan Industri Lokal

Yang membuat uji coba ini penting bukan hanya karena berhasil, tetapi juga karena komponen-komponen yang terlibat belum pernah dihubungkan bersama sebelumnya.

Memindahkan perangkat lunak komando dan kendali yang sama berbasis kapal ke konfigurasi bergerak berbasis darat dan menggabungkannya dengan radar Australia dan peluncur beroda merupakan lompatan teknik yang nyata.

Uji tembak langsung pertama SM-2 berbasis darat ini juga merupakan demonstrasi strategis antara Australia (ADF) dengan para mitranya dari industri lokal untuk menghadirkan kemampuan pertahanan yang berdaulat.

Baca Juga: Kemampuan EW meningkat, Australia mulai kerahkan pod jammer generasi terbaru pada jet Growler

Australia saat ini masih sangat bergantung pada sistem jarak pendek/menengah dan aset angkatan laut untuk pertahanan udara dan rudalnya.

Negeri Kangguru tersebut tidak memiliki sistem berbasis darat khusus yang mampu mencegat rudal jelajah cepat dan terbang rendah dari jarak jauh.

Kehadiran SM-2 berbasis darat ini untuk mengatasi kekurangan yang ada, yang dapat menjangkau target dengan jarak maksimum 166 km, meluncur dengan kecepatan 3 Mach. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *