Rudal Burevestnik Rusia gunakan sistem propulsi nuklir siklus langsung, tinggalkan jejak radioaktif
Sputnik AIRSPACE REVIEW – Rudal jelajah antarbenua bertenaga nuklir milik Rusia, 9M730 Burevestnik (NATO: SSC-X-9 Skyfall), dilaporkan menggunakan sistem penggerak nuklir jenis siklus langsung (direct-cycle nuclear propulsion).
Penggunaan teknologi ini membuat rudal tersebut melepaskan emisi radioaktif berbahaya ke atmosfer sepanjang jalur penerbangannya.
Kesimpulan tersebut diungkapkan oleh dua ilmuwan dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT), Jake J. Hecla dan R. Scott Kemp, dalam sebuah analisis teknis, seperti diberitakan portal Ukraina, Militarnyi.
Mengingat ukuran rudal yang terbatas, para peneliti menilai sistem penggerak siklus tidak langsung (indirect-cycle) —yang membutuhkan komponen penukar panas (heat exchanger) berukuran besar— tidak memungkinkan untuk dipasang pada badan rudal Burevestnik.
Mekanisme Kerja dan Dampak Lingkungan
Berbeda dengan mesin jet konvensional yang mengandalkan pembakaran bahan bakar fosil, mesin Burevestnik ditenagai oleh reaktor nuklir berbahan bakar uranium yang sangat diperkaya.
Sistem siklus langsung ini bekerja dengan cara menyedot udara atmosfer bersih langsung ke dalam inti reaktor yang sangat panas.
Udara tersebut kemudian teradiasi, menyerap produk peluruhan fisi nuklir, dan memanas secara instan untuk menghasilkan daya dorong jet.
Akibat dari proses ini, udara yang diembuskan kembali ke atmosfer mengandung isotop radioaktif berbahaya seperti argon, kripton, dan karbon.
Selain itu, para ilmuwan memperingatkan bahwa suhu ekstrem dan tekanan udara yang tinggi selama penerbangan panjang berpotensi mengikis inti reaktor.
Kerusakan ini dapat memperparah kebocoran partikel radioaktif ke udara bebas di sepanjang rute yang dilewatinya.
Kemampuan Terbang Tanpa Batas
Meski memiliki risiko ekologis yang sangat tinggi, karakteristik mesin nuklir siklus langsung inilah yang menjadi alasan mengapa rudal Skyfall memiliki jangkauan jelajah yang “hampir tak terbatas”.
Jarak tempuh rudal tidak lagi dibatasi oleh volume bahan bakar minyak, melainkan oleh masa pakai material reaktor nuklirnya.
Kemampuan ini memungkinkan Burevestnik untuk terbang rendah, berputar jauh menghindari sistem pertahanan udara musuh, dan mengintai di udara dalam waktu yang sangat lama.
Berdasarkan laporan uji coba sebelumnya, Rusia mengklaim telah berhasil menguji rudal ini dalam sebuah penerbangan sejauh 14.000 km yang berlangsung selama 15 jam dengan kecepatan subsonik tinggi.
Kendati menawarkan keunggulan strategis bagi militer Rusia, teknologi pertahanan ini terus memicu kekhawatiran global terkait dampak kontaminasi radioaktif yang ditinggalkannya, baik selama masa pengujian maupun jika nantinya benar-benar digunakan dalam situasi konflik resmi. (PN)
