Perkuat senjata untuk 64 F-35, Finlandia borong tambahan bom pintar GBU-53/B StormBreaker
RaytheonAIRSPACE REVIEW – Finlandia bersiap untuk memborong tambahan bom pintar GBU-53/B StormBreaker dari AS guna memperkuat persenjataan armada F-35A Lightning II mereka yang akan segera diterima.
Menteri Pertahanan Finlandia, Antti Häkkänen, secara resmi telah mengizinkan Komando Logistik Pasukan Pertahanan Finlandia untuk membeli tambahan bom Small Diameter Bomb II (SDB II) tersebut.
Senjata buatan Raytheon (divisi dari RTX Corporation) ini bukan sekadar bom biasa. GBU-53 SDB II merupakan bom dilepaskan dari ketinggian dan mampu meluncur sejauh 110 km.
Keunggulan Bom GBU-53 SDB II
Keunggulan utama bom GBU-53 SDB II terletak pada teknologi pemandu tri-mode seeker di bagian moncongnya.
Sistem ini menggabungkan radar gelombang milimeter, kamera inframerah, dan pelacak laser.
Kombinasi tersebut membuat GBU-53 mampu melacak serta menghantam target bergerak –seperti tank, kendaraan lapis baja, atau sistem pertahanan udara bergerak– di tengah kabut, asap, hujan, hingga kegelapan malam.
Dengan bobot sekitar 113 kg dan panjang 1,8 m, ukuran bom ini cukup ringkas. Hal ini memungkinkan jet tempur F-35A membawanya dalam jumlah banyak di dalam internal weapons bay (ruang senjata internal) tanpa merusak profil siluman (stealth) pesawat.
Bagian dari Modernisasi Skala Besar
Pembelian terbaru ini merupakan kontrak tambahan (supplementary purchase) di bawah skema Foreign Military Sales (FMS) pemerintah AS, melanjutkan kesepakatan awal yang ditandatangani pada tahun 2023.
Paket pembelian mencakup suku cadang, panduan teknis, transportasi, serta layanan pelatihan dari pihak pabrikan.
Sebelumnya, saat Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan 64 unit F-35A senilai 12,5 miliar USD ke Finlandia pada tahun 2020, paket tersebut sudah menyertakan 500 unit SDB II agar armada baru ini langsung siap tempur sejak hari pertama.
Efektif untuk Operasi Multidomain
Direktur Program F-35 Finlandia, Kolonel (Purn.) Henrik Elo, menjelaskan pentingnya senjata ini bagi strategi pertahanan negara.
“SDB II adalah senjata berteknologi canggih yang memberikan kemampuan baru bagi Angkatan Udara Finlandia yang belum pernah ada sebelumnya. Kemampuan bom luncur ini untuk menyerang target bergerak di kondisi cuaca menantang,” ujar Elo.
Ditambahkan bahwa bom ini akan membuat penggunaan F-35 menjadi sangat efektif dalam operasi multidomain di seluruh lini pertahanan.
Mengantisipasi Tantangan Geografis
Bagi Finlandia, kemampuan bertempur di cuaca ekstrem sangatlah krusial. Negara yang berbagi perbatasan langsung sepanjang 1.340 km dengan Rusia ini resmi bergabung dengan NATO pada tahun 2023 pasca-invasi penuh Rusia ke Ukraina.
Para perencana militer Finlandia harus memastikan wilayah mereka siap menghadapi musim dingin Nordik yang ekstrem, di mana awan rendah, salju lebat, dan malam yang panjang kerap kali membutakan sensor militer konvensional.
Saat ini, proses transisi armada udara Finlandia sedang berjalan. Pilot-pilot Finlandia telah memulai pelatihan terbang F-35A di Pangkalan Angkatan Udara Ebbing, Arkansas, AS.
Sebanyak delapan jet F-35A Finlandia saat ini berada di sana untuk kebutuhan latihan yang dijadwalkan berlangsung hingga awal 2028.
Jet tempur F-35A pertama dijadwalkan tiba di tanah Finlandia pada musim gugur tahun ini (sekitar akhir tahun) dan akan ditempatkan di Wing Udara Lapland di Rovaniemi.
Armada F-35A ini nantinya akan menggantikan jet tempur F/A-18 Hornet yang sudah menua dan ditargetkan mencapai kemampuan operasional penuh (full operational capability) pada tahun 2028. (RNS)
