AS segera pangkas besar-besaran jumlah kekuatan tempur untuk NATO di Eropa, ini rincian jumlahnya
USAFAIRSPACE REVIEW – Amerika Serikat bersiap melakukan salah satu perubahan paling radikal dalam keterlibatan militer mereka di NATO sejak berakhirnya Perang Dingin.
Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana memangkas secara signifikan jumlah pesawat tempur, pesawat patroli maritim, pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara, serta kapal perang yang dialokasikan untuk operasi aliansi di Eropa.
Langkah ini merupakan bagian dari peninjauan strategis yang dilakukan oleh Pentagon. Washington bermaksud mengalihkan fokus dan sumber daya militernya ke wilayah Indo-Pasifik demi menghadapi persaingan yang kian sengit dengan China.
Di saat yang sama, AS menuntut negara-negara Eropa untuk memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar atas pertahanan benua mereka sendiri serta mengurangi ketergantungan historis pada militer Amerika.
Rincian Pengurangan Militer AS
Berdasarkan informasi beredar yang diperoleh dari pejabat yang terkait dengan NATO, rencana pengurangan kekuatan militer AS meliputi hal-hal sebagai berikut:
- Jet Tempur: Jumlah jet tempur yang disiagakan AS untuk misi NATO akan dipangkas dari sekitar 150 unit menjadi hanya sekitar 100 unit. Pengurangan ini terutama akan berdampak pada armada F-16 Fighting Falcon dan F-15E Strike Eagle, dua platform yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pertahanan udara di Eropa.
- Patroli Maritim: Pesawat pengawas maritim akan dikurangi dari 26 unit menjadi 15 unit. Hal ini diprediksi akan menurunkan kapasitas pemantauan kapal selam dan kapal asing di kawasan strategis seperti Laut Utara, Atlantik Utara, dan Laut Baltik.
- Pesawat Tanker: AS berencana menarik seluruh delapan pesawat tanker (pengisi bahan bakar di udara) yang saat ini berkomitmen untuk operasi NATO. Langkah ini dinilai sangat sensitif karena kemampuan ini merupakan salah satu keunggulan utama AS yang sulit ditandingi oleh anggota NATO Eropa lainnya.
- Kekuatan Laut dan Pembom: Pengurangan juga menyasar sektor armada laut, termasuk penarikan satu kapal selam serang, satu kelompok gugus tugas kapal induk (carrier strike group), serta beberapa kapal permukaan. Selain itu, satu kelompok pembom strategis yang biasanya memperkuat pertahanan Eropa kemungkinan besar akan dialihkan ke wilayah prioritas lain.
Negara-negara Eropa Mempercepat Modernisasi Militer
Keputusan AS ini diambil di tengah transformasi besar-besaran keamanan Eropa sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Negara-negara Eropa sebenarnya telah meningkatkan anggaran pertahanan mereka ke tingkat tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Polandia, misalnya, menjadi contoh utama dengan mengalokasikan lebih dari 4% dari PDB-nya untuk militer dan membeli alutsista modern seperti jet tempur F-35A, helikopter AH-64 Apache, sistem Patriot, dan tank Abrams.
Jerman juga telah mempercepat modernisasi militernya melalui dana khusus sebesar 100 miliar euro, termasuk pembelian F-35 untuk menggantikan armada jet Tornado mereka yang menua.
Kendati demikian, para ahli memperingatkan bahwa beberapa kapabilitas militer milik Amerika Serikat —seperti pengisian bahan bakar di udara, transportasi strategis jarak jauh, pengawasan global, dan perang elektronik— sangat sulit untuk digantikan oleh negara-negara Eropa dalam waktu dekat.
AS Fokus pada Ancaman China
Pergeseran strategi ini didorong oleh pemikiran mendalam di Washington bahwa China adalah tantangan strategis utama dalam beberapa dekade mendatang.
Dengan penguatan militer Beijing yang pesat di sekitar Taiwan dan jalur laut Indo-Pasifik, Pentagon merasa perlu memindahkan personel, kapal, dan pesawatnya ke Asia.
Debat mengenai pemangkasan ini diperkirakan akan memanas pada KTT NATO mendatang, di mana para anggota akan membahas target belanja militer baru.
Tak pelak, kemudian muncul usulan untuk menaikkan target investasi pertahanan secara bertahap hingga 5% dari PDB negara masing-masing.
Meskipun Amerika Serikat menyatakan tetap berkomitmen pada prinsip pertahanan kolektif NATO dan mempertahankan payung pencegahan nuklirnya, pesan Washington kepada sekutunya di Eropa sudah sangat jelas, bahwa Eropa harus mandiri dan membangun kapasitas pertahanannya sendiri untuk menghadapi lanskap global yang kian tidak stabil. (RNS)
