Jet F-16 dan sistem rudal jarak pendek-menengah jadi andalan Turkiye amankan langit Ankara jelang KTT NATO
AA AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Turkiye dilaporkan tengah bersiap untuk mengubah ruang udara dan darat ibu kotanya, Ankara, menjadi sebuah benteng pertahanan yang ketat menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang akan digelar pada 7–8 Juli mendatang.
Langkah pengamanan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Menurut laporan dari Bloomberg, sumber yang mengetahui persiapan tersebut mengungkapkan bahwa otoritas Turkiye akan mengandalkan armada jet tempur F-16 dalam status waspada tinggi (high alert).
Demikian juga dengan pengerahan sistem pertahanan rudal jarak pendek dan menengah buatan domestik untuk mengunci langit Ankara selama pertemuan para pemimpin aliansi berlangsung.
Sistem Antidrone dan 40.000 Personel Keamanan Juga Dikerahkan
Selain jet tempur dan sistem rudal berlapis tersebut, Turkiye juga akan menggelar armada drone pertahanan, sistem antidrone, serta menerjunkan lebih dari 40.000 personel keamanan untuk menjaga seluruh wilayah ibu kota.
Peningkatan keamanan skala besar ini didasari oleh posisi geografis Turkiye yang berdekatan dengan zona konflik, menyusul pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran di wilayah timur yang berbatasan langsung dengan Turkiye.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Pada bulan pertama konflik tersebut, sistem pertahanan udara aliansi yang ditempatkan di kawasan itu telah berhasil mencegat empat rudal Iran yang mengarah ke wilayah Turkiye.
Selain ancaman eksternal, riwayat serangan teror di masa lalu oleh militan Kurdi dan kelompok ISIS turut menjadi alasan utama diperketatnya keamanan secara ekstrem.
KTT NATO tahun ini diperkirakan akan dihadiri oleh sekitar 6.000 peserta. Selain para pemimpin negara anggota NATO, delegasi dari empat mitra kawasan Indo-Pasifik, empat negara Teluk Persia, serta Ukraina dijadwalkan hadir.
Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, menyatakan bahwa pihaknya juga sangat memperhitungkan kehadiran Presiden AS Donald Trump.
Modernisasi Pangkalan Udara Militer
Persiapan Turkiye juga menyentuh aspek infrastruktur vital. Dalam 80 hari terakhir, Ankara telah menggelontorkan dana lebih dari USD 230 juta (sekitar Rp3,7 triliun) khusus untuk memodernisasi landasan pacu militer di ibu kota negara tersebut.
Landasan ini akan digunakan sebagai titik pendaratan utama bagi pesawat jet yang membawa para kepala negara.
Lokasinya yang jauh lebih dekat dengan Istana Presiden Recep Tayyip Erdogan (tempat berlangsungnya KTT) dibandingkan bandara komersial kota, dipilih sengaja untuk memotong panjang iring-iringan konvoi kepresidenan dan meminimalkan risiko keamanan di jalan raya.
Pembatasan Total Aktivitas Kota
Guna memastikan wilayah udara tetap bersih untuk mendukung operasional jet F-16 dan sistem pertahanan udara, penerbangan internasional ke Bandara Komersial Utama Esenboga akan dibatasi ketat selama KTT.
Di tingkat domestik dan aktivitas warga kota, pemerintah Turkiye juga menerapkan sejumlah aturan tegas.
Pemerintah mengumumkan hari libur tiga hari di Ankara selama KTT berlangsung untuk mengosongkan jalur jalan raya kota.
Aksi unjuk rasa dilarang total di seluruh kota dari tanggal 1 hingga 15 Juli. Intelijen Turki juga bekerja sama dengan badan intelijen asing untuk menyaring individu yang pernah terlibat dalam aksi protes di luar negeri.
Sekitar 100 kamera pengawas (CCTV) modern berteknologi tinggi dipasang di persimpangan jalan utama, memperkuat jaringan 30.000 kamera yang sudah ada.
Kemudian, toko-toko senjata di ibu kota dilarang memajang senjata api di etalase jendela mereka guna mencegah potensi penjarahan atau pencurian selama periode sensitif tersebut.
Sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat, pengerahan jet F-16 serta sistem rudal jarak pendek dan menengah ini mempertegas komitmen serta kesiapan industri pertahanan Turki dalam menjaga keamanan bersama aliansi di tengah situasi dunia yang kian memanas. (RNS)
