Krisis anggaran, Inggris mempertimbangkan batalkan pembelian jet F-35A untuk misi nuklir
USAF/DVIDS AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Inggris dilaporkan tengah meninjau ulang rencana akuisisi 12 jet tempur generasi kelima F-35A Lightning II yang awalnya ditujukan untuk mendukung misi berbagi nuklir (nuclear sharing) NATO.
Langkah ini diambil di tengah tekanan krisis anggaran yang parah serta adanya perebutan prioritas pendanaan antara Kementerian Pertahanan dan Kementerian Keuangan Inggris.
Rencana pembelian jet tempur varian konvensional buatan Lockheed Martin ini sebelumnya diumumkan secara meriah oleh Perdana Menteri Keir Starmer pada KTT NATO tahun 2025.
Proyek tersebut digadang-gadang sebagai momen bersejarah yang akan mengembalikan kemampuan nuklir berbasis udara bagi Angkatan Udara Inggris (RAF) untuk pertama kalinya sejak bom nuklir WE.177 dipensiunkan pada akhir 1990-an.
Benturan Prioritas dan Anggaran
Berbeda dengan varian F-35B (kemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal/STOVL) yang saat ini sudah dioperasikan oleh Inggris di kapal induknya, varian F-35A memiliki jangkauan yang lebih jauh, kapasitas bahan bakar lebih besar, serta biaya operasional yang lebih murah.
Selain itu, F-35A telah mengantongi sertifikasi untuk membawa bom nuklir taktis B61-12, yang merupakan pilar penting dalam strategi pencegahan nuklir NATO.
Namun, proyek ini kini menghadapi resistensi internal yang kuat karena anggaran militer Inggris tersedot oleh program-program strategis lainnya yang biayanya terus membengkak.
Beberapa prioritas utama yang saling berebut dana saat ini di antaranya adalah program kapal selam nuklir baru kelas Dreadnought untuk menggantikan kelas Vanguard sebagai tulang punggung pencegahan nuklir maritim Inggris.
Kemudian proyek ambisius pengembangan jet tempur generasi keenam masa depan Global Combat Air Programme (GCAP) bersama Jepang dan Italia yang dijadwalkan mengudara pada 2035, modernisasi Armada Eurofighter Typhoon, pertahanan antirudal, dan pengembangan kemampuan ruang angkasa dan siber.
Meskipun Inggris baru-baru ini mengumumkan komitmen untuk menaikkan anggaran pertahanan menjadi 2,5% dari PDB pada tahun 2027 —dengan target jangka panjang mencapai 3%— para pejabat tinggi mengakui bahwa kebutuhan dana militer tumbuh jauh lebih cepat daripada ketersediaan anggaran yang ada.
Masalah Kesiapan Operasional F-35
Faktor lain yang memperkuat pertimbangan pembatalan ini adalah laporan audit terbaru mengenai kinerja program F-35 itu sendiri.
Laporan tersebut menyoroti tantangan besar terkait tingkat kesiapan operasional armada jet tempur Inggris saat ini, masalah rantai pasokan global, serta biaya perawatan yang sangat tinggi.
Beberapa negara sekutu yang mengoperasikan F-35 juga dilaporkan mengalami kesulitan serupa akibat kompleksitas dukungan teknis yang diperlukan.
Debat Strategis di London
Kemungkinan revisi atau pembatalan ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat militer.
Sebagian analis menilai Inggris sebaiknya memfokuskan anggarannya pada teknologi konflik modern, seperti drone, sistem perang elektronik, pertahanan udara, dan rudal jarak jauh.
Di sisi lain, pihak yang mendukung tetap berpendapat bahwa keterlibatan Inggris dalam misi nuklir udara NATO sangat penting untuk memperkuat kredibilitas strategis negara serta memperluas opsi respons aliansi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Rusia.
Keputusan akhir mengenai kelanjutan pembelian F-35A ini diharapkan akan ditetapkan dalam dokumen Rencana Investasi Pertahanan (Defence Investment Plan) baru yang sedang digodok pemerintah, yang akan menetapkan skala prioritas militer Inggris untuk dekade berikutnya.
Opsi yang tersedia saat ini mencakup mempertahankan pesanan awal, memotong jumlah unit, menunda pengiriman, atau membatalkan seluruh rencana akuisisi tersebut. (RNS)
