Heboh! Jet tempur J-10CE China bantai Eurofighter Typhoon 9-0 dalam latihan militer di Qatar

J-10CE tekuk Eurofighter Typhoon 9-0 dalam latihan di Qatar (1)Istimewa

AIRSPACE REVIEW – Komunitas pertahanan internasional kembali dihebohkan oleh klaim performa jet tempur buatan China, Chengdu J-10CE.

Pihak China melalui media pemerintahnya baru-baru ini memperkuat laporan bahwa jet tempur generasi 4,5 tersebut berhasil mengalahkan jet tempur Eropa, Eurofighter Typhoon, dengan skor telak 9-0 tanpa mengalami kekalahan satu kali pun dalam sebuah latihan militer bersama.

Pertemuan udara ini terjadi dalam latihan taktis berskala besar bertajuk “Zilzal-II” yang diselenggarakan di Qatar.

Dalam latihan tersebut, Angkatan Udara Pakistan (PAF) mengerahkan armada J-10CE barunya untuk menghadapi jet tempur Typhoon milik Angkatan Udara Emirat Qatar (QEAF).

Menurut narasi yang beredar luas di ekosistem media sosial militer China serta dikonfirmasi melalui tayangan televisi pemerintah China (CCTV), J-10CE mendominasi jalannya simulasi tempur melalui sembilan kemenangan mutlak.

Sembilan kemenangan tersebut mencakup empat kali kemenangan dalam pertempuran jarak jauh (Beyond-Visual-Range/BVR).

J-10CE memanfaatkan radar canggih AESA (Active Electronically Scanned Array) dan integrasi rudal udara ke udara jarak jauh PL-15.

Kemudian, lima kemenangan lainnya diraih dalam pertempuran jarak dekat (Within-Visual-Range/WVR) atau dogfight.

Dalam pertempuran ini, J-10CE mengandalkan kelincahan manuver pesawat dan sistem peperangan elektronik modern.

Bagi industri penerbangan militer China (AVIC Chengdu Aircraft Industrial Group), hasil latihan ini dipandang sebagai validasi besar atas lompatan teknologi kedirgantaraan mereka.

Jet tempur yang awalnya sempat dipandang sebelah mata di pasar global kini terbukti mampu mengimbangi, atau bahkan melampaui, platform tempur utama buatan Barat.

Meskipun demikian, sejumlah pengamat militer internasional mengingatkan agar menyikapi skor telak 9-0 ini dengan bijak.

Dalam skenario latihan militer gabungan, kedua belah pihak sering kali sengaja menguji taktik yang berbeda, melakukan pembatasan parameter radar, atau sengaja menempatkan kru dalam posisi sulit untuk menguji kesiapan operasional, sehingga hasil simulasi tidak selalu mencerminkan hasil pertempuran riil.

Di sisi lain, PAF sendiri secara resmi hanya menyatakan bahwa latihan berjalan sukses dan kru mereka berhasil “mendapatkan rasa hormat dari pihak lawan”.

Terlepas dari perdebatan mengenai keakuratan angka tersebut, peristiwa ini telah memicu diskusi strategis global mengenai pergeseran peta kekuatan udara di Asia dan Timur Tengah, sekaligus menjadi kampanye pemasaran yang sangat menguntungkan bagi jet tempur generasi baru China di pasar ekspor internasional. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *