Laporan rahasia Intelijen AS menyatakan perang skala besar ‘Tidak Mungkin’ menggulingkan rezim Iran
USAF AIRSPACE REVIEW – Serangan skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran kemungkinan tidak akan mampu menggulingkan struktur kekuasaan militer dan ulama Iran. Hal ini terungkap dalam laporan rahasia Dewan Intelijen Nasional AS.
Penilaian tersebut diberitakan oleh The Washington Post pada hari Sabtu, seminggu setelah Operation Epic Fury digelar AS bersama Operation Lion’s Roar oleh Israel terhadap Iran.
The Washington Post mengutip tiga sumber yang mengetahui dokumen rahasia tersebut, yang secara tegas mementahkan pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa ia dapat “membersihkan” kepemimpinan Iran dan menempatkan penerus pilihannya.
Laporan Dewan Intelijen Nasional menunjukkan bahwa apa yang dipikirkan Trump jauh dari kepastian.
Dewan Intelijen Nasional terdiri dari para analis senior yang bertanggung jawab untuk menghasilkan penilaian rahasia, yang mencerminkan konsensus dari semua 18 badan intelijen AS.
Pada tanggal 7 Maret 2026, laporan tersebut mengeksplorasi skenario potensial jika kepemimpinan Iran menjadi sasaran serangan terbatas atau serangan yang lebih luas terhadap lembaga pemerintah Iran.
Penilaian intelijen menunjukkan bahwa bahkan jika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh, kepemimpinan militer dan ulama negara itu kemungkinan akan mengikuti mekanisme suksesi yang telah ditetapkan untuk mempertahankan struktur kekuasaan yang ada.
Sumber yang berbicara secara anonim tentang temuan rahasia tersebut juga mengatakan bahwa tidak mungkin oposisi Iran yang terfragmentasi dapat merebut kekuasaan.
Namun laporan tersebut tampaknya tidak mengevaluasi opsi potensial lainnya, seperti mengerahkan pasukan darat AS di Iran atau mempersenjatai kelompok Kurdi untuk memicu pemberontakan, dan masih belum jelas apakah skenario yang diteliti sesuai dengan operasi militer saat ini, tulis Anadolu Agency.
Ketegangan regional telah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari.
Serangan AS-Israel ini telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Khamenei, lebih dari 150 siswi, dan pejabat militer senior.
Iran telah membalas dengan serangan gencar yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh wilayah, serta beberapa kota di Israel.
Berdasarkan pemantauan di berbagai media sosial buatan Barat, informasi mengenai keberhasilan serangan AS dan Israel lebih banyak terekspose dibanding kesuksesan serangan balasan yang dilancarkan Iran. (RNS)
