Setelah B-2 dan B-1, Angkatan Udara AS mengerahkan pengebom tertua B-52 Stratofortress untuk membombardir Iran
USAF AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara AS (USAF) telah mengerahkan pesawat pengebom tertuanya, B-52 Stratofortress, untuk menyerang Iran.
Pertama kali diterbangkan pada tahun 1952, Boeing B-52 telah bertugas di Vietnam, Operasi Badai Gurun, Perang Global Melawan Teror, dan kini Iran.
Pusat Komando AS (CENTCOM) melaporkan, pasukan AS telah menghancurkan lebih dari 2.000 target di Iran sejak serangan pembuka Operation Epic Fury pada 28 Februari.
Pengebom B-52 melengkapi pengerahan dua pengebom strategis lainnya, yakni B-2 Spirit dan B-1B Lancer.
Pesawat pembom berat jarak jauh ini berpotensi menjadi pesawat militer pertama yang tetap beroperasi selama satu abad.
Pesawat pembom B-1B Lancer telah melakukan serangan jarak jauh jauh di dalam Iran. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengatakan bahwa serangan yang menargetkan fasilitas rudal balistik dan infrastruktur komando dan kendali Iran telah menghasilkan pembentukan superioritas udara lokal.
Pada hari Selasa, CENTCOM mengonfirmasi di X bahwa armada B-52, yang juga dijuluki “Stratosaurus” karena usianya yang sudah lanjut, digunakan dalam serangan terhadap pos kendali rudal balistik dan komandan Iran.
Berbeda dengan B-2 yang fokus pada penetrasi bunker nuklir bawah tanah, pengebom B-52H digunakan AS untuk untuk menargetkan kompleks industri pertahanan, pangkalan udara Artesh, dan markas komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Teheran dan Isfahan.
Pesawat juga digunakan untuk memburu sisa-sisa peluncur rudal balistik mobile yang masih aktif.
Setiap unit B-52H mampu membawa hingga 30 unit GBU-31 JDAM (900 kg) atau rudal jelajah AGM-158 JASSM.
Penggunaan JASSM memungkinkan B-52H melakukan serangan dari luar ruang udara Iran (stand-off), meminimalisir risiko dari sistem pertahanan udara Iran yang masih tersisa.
Pengerahan armada B-52 AS didukung oleh pembukaan kembali akses pangkalan udara di luar wilayah konflik langsung.
Inggris telah memberikan izin penggunaan kembali pangkalan RAF Fairford di Inggris dan pangkalan di Diego Garcia, yang memungkinkan armada B-52H melakukan rotasi serangan jarak jauh dengan dukungan pengisian bahan bakar di udara.
B-52H mampu terbang dengan kecepatan subsonik tinggi pada ketinggian hingga 50.000 kaki. Pesawat ini dapat membawa amunisi nuklir atau konvensional yang dipandu secara presisi, dan memiliki muatan sekitar 70.000 pon amunisi campuran, terdiri dari bom, ranjau, hingga rudal jelajah. (RNS)

