Terkonfirmasi, Iran menghancurkan radar AS senilai 300 juga USD hanya dalam satu serangan terhadap pangkalan Amerika di Yordania
Via X AIRSPACE REVIEW – Iran telah terkonfirmasi berhasil menghancurkan radar pertahanan rudal bernilai tinggi milik Amerika Serikat yang merupakan bagian dari sistem THAAD (Terminal High Altitude Area Defense).
Radar tersebut diidentifikasi sebagai tipe AN/TPY-2 dengan estimasi nilai mencapai 300 juta USD (sekitar Rp4,7 triliun).
Serangan terjadi di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania. Kerusakan ini telah dikonfirmasi melalui citra satelit komersial yang dikutip oleh CNN, The Times of India melaporkan pada 7 Maret 2026.
Dikatakan bahwa serangan terjadi pada fase awal konflik. Data dari Foundation for Defense of Democracies (FDD) menunjukkan adanya dua serangan Iran yang menargetkan lokasi-lokasi di Yordania pada akhir Februari dan awal Maret 2026.
Kehilangan radar ini merupakan pukulan telak bagi jaringan pertahanan udara AS di wilayah Teluk karena AN/TPY-2 berfungsi sebagai “mata” utama untuk melacak dan memandu pencegatan rudal balistik.
Tanpa radar ini, beban pertahanan kini beralih sepenuhnya ke baterai MIM-104 Patriot.
Terdapat kekhawatiran besar karena sistem Patriot mengandalkan rudal pencegat PAC-3 yang stoknya juga saat ini dilaporkan sangat terbatas.
Sementara itu, pejabat AS yang dikutip oleh Bloomberg menyatakan bahwa kehancuran ini menciptakan celah signifikan dalam kemampuan deteksi dini Washington terhadap ancaman balistik yang datang dari arah timur.
Pangkalan Muwaffaq Salti merupakan titik strategis bagi operasional militer AS di kawasan tersebut.
Mengacu pada data terbuka, radar AN/TPY-2 bukan sekadar alat pelacak biasa. Radar X-band ini mampu mendeteksi ancaman dari jarak ribuan kilometer.
Dengan hancurnya unit di Pangkalan Muwaffaq Salti, maka sistem pertahanan AS di wilayah tersebut kini kehilangan kemampuan untuk mendeteksi rudal balistik pada fase peluncuran (boost phase).
Sementara itu, radar MPQ-65 milik sistem Patriot memiliki jangkauan yang jauh lebih pendek dibandingkan AN/TPY-2.
Hal ini mempersempit waktu reaksi (jendela intersepsi) bagi operator pertahanan udara dari hitungan menit menjadi hitungan detik.
Laporan intelijen yang beredar di kalangan analis pertahanan menunjukkan bahwa Iran kemungkinan besar menggunakan taktik serangan saturasi:
Diyakini serangan tersebut melibatkan penggunaan drone kamikaze (kemungkinan varian Shahed terbaru) untuk mengalihkan perhatian sistem pertahanan titik, yang kemudian disusul oleh rudal balistik presisi tinggi (taktikal) yang menargetkan tanda termal radar.
Keberhasilan menghancurkan satu unit radar spesifik di pangkalan yang dijaga ketat menunjukkan peningkatan drastis dalam sistem pemandu (guidance) rudal Iran. (RNS)
