Wahana WiGE AirFish Voyager akan melayani rute Singapura-Batam tahun ini, hanya butuh waktu 25 menit saja

ST Engineering AirFish Voyager WiGEST Engineering

AIRSPACE REVIEW – AirFish Voyager, sebuah wahana WiGE (Wing in Ground Effect) yang terbang meluncur di atas permukaan air, akan mulai mengangkut penumpang rute Singapura mulai paruh kedua tahun 2026 ini.

Informasi ini diungkapkan oleh perusahaan ST Engineering pada hari pertama gelaran Singapore Airshow 2026, Selasa, 3 Februari.

Saat ini telah dibentuk ST Engineering AirX, sebuah usaha patungan antara ST Engineering dengan Peluca, perusahaan rintisan berbasis di Singapura.

ST Engineering AirX akan menjalin kemitraan strategis dengan operator feri BatamFast yang juga berbasis di Singapura.

Maskapai baru ini akan menyewa dan mengoperasikan AirFish Voyager untuk melayani rute dari Terminal Feri Tanah Merah di Singapura ke Batam, Kepulauan Riau, Indonesia.

Wahana AirFish Voyager hanya membutuhkan waktu 25 menit untuk mencapai Batam dari Singapura, jauh lebih cepat dibanding 45 menit untuk perjalanan biasa menggunakan feri.

Ditambahkan pula bahwa ST Engineering AirX dan BatamFast juga akan menjajaki peluang untuk berekspansi ke destinasi baru di seluruh Asia Tenggara.

Diungkapkan, tarif penerbangan menggunakan wahana WiGE ini akan lebih tinggi daripada tarif feri yang ada saat ini.

Hal ini disebabkan oleh biaya operasional yang lebih tinggi karena kapasitas angkut penumpangnya sedikit, yaitu delapan orang saja, dibandingkan dengan 200 hingga 300 penumpang pada feri reguler.

Layanan penerbangan Singapura-Batam ini akan menargetkan pengunjung resor serta pelancong bisnis yang menuju kawasan industri di Batam.

Untuk spesifikasinya, AirFish Voyager berdimensi panjang 17 m dan lebar 15 m. Mengadopsi sayap delta terbalik yang sangat besar, ekor T ganda, dan dua mesin model pusher di atas punggungnya, masing masing berdaya 500 hp.

Kapal bersayap ini meluncur antara 2 m – 7 m di atas permukaan air dengan kecepatan 100 knot atau sekitar 185 km/jam, dan dapat menempuh jarak hingga 300 mil laut.

Wahana terbang berbentuk ikan pari ini diawaki dua kru dan menampung delapan penumpang atau hingga 1.000 kg kargo.

Untuk mengoperasikannya tidak memerlukan infrastruktur khusus, karena akan beroperasi di fasilitas dermaga kapal biasa dengan sedikit modifikasi. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Conima berkata:

    Dari dulu Indonesia punya cita-cita buat pesawat angkut amfibi, bertahun-tahun tidak perkembangan ehh tetangga tiba-tiba udh produksi aja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *