Pesawat tanker, kebutuhan strategis TNI Angkatan Udara

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Di balik kecanggihan dan jumlah yang banyak, armada jet tempur Amerika Serikat (AS) toh tidak akan bisa unjuk kekuatan jika tidak didampingi pesawat yang satu ini. Tidak bersenjata, namun bersifat strategis.

Pesawat yang dimaksud adalah pesawat pengisi bahan bakar di udara atau pesawat tanker. Dengan dukungan pesawat tanker, armada jet tempur mampu digelar dalam jangkauan yang jauh dari pangkalan induknya, tanpa harus mendarat di tengah perjalanan untuk mengisi bahan bakar.

Penulis mengamati, sejak satu dekade belakangan kelihatannya urgensi kepemilikan “pompa bensin terbang” bagi TNI Angkatan Udara (TNI AU) ini sempat timbul tenggelam. Bisa dimaklumi, karena biaya pengadaan pesawat tanker tergolong sangat mahal. Namun jika melihat luas wilayah Indonesia, kebutuhan akan pesawat tanker sebenarnya merupakan hal yang strategis.

Sebetulnya kajian perihal calon pesawat tanker yang layak memperkuat TNI AU sudah dilakukan. Meskipun jet-jet tempur F-16 Fighting Falcon yang dimiliki TNI AU memiliki kemampuan mengisi bahan bakar di udara (air refueling), kemampuan tersebut nyaris tidak pernah digunakan. Ini karena TNI AU tidak memiliki pesawat tanker yang mampu mengisikan bahan bakar ke F-16  yang dilengkapi sistem pengisian bahan bakar model sistem “boom”.

TNI AU kini hanya memiliki pesawat tanker KC-130B Hercules dengan sistem pengisian “probe-and-drogue”. C-130 Hercules tanker TNI AU itu mampu mengisikan bahan bakar di udara untuk jet-jet tempur Hawk 100/200, dan Su-27/30 Flanker, namun tidak untuk F-16.

Di dunia saat ini ada dua sistem pengisian bahan bakar di udara, yaitu sistem “probe-and-drogue” dan sistem “boom”.

A330 MRTT
RAAF

Sistem “probe-and-drogue” adalah sistem air refueling paling umum dan paling banyak dipakai di dunia. Sementara pemakai utama dan terbanyak dari sistem “boom” adalah Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).

TNI AU sendiri sudah berencana untuk membeli pesawat tanker yang dilengkapi kedua sistem pengisian bahan bakar di udara itu sekaligus. Sejauh ini kabarnya sudah ada dua kandidat, yaitu pesawat Airbus A330 MRTT (Multi Role Tanker Transport) dan Boeing KC-46 Pegasus. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Airbus A330 MRTT mampu memuat lebih banyak dan bisa mengisi bahan bakar di udara ke lebih banyak pesawat tempur dengan jangkauan lebih jauh. Kendati sudah banyak digunakan berbagai negara termasuk Australia dan Singapura (dalam pesanan), namun A330 MRTT hanya bisa dioperasikan dari sekitar 19 pangkalan udara di Indonesia.

Sementara KC-46 Pegasus memiliki dimensi sedikit lebih kecil dengan daya muat bahan bakar lebih sedikit. Kelebihannya, tanker baru USAF ini bisa beroperasi dari sekitar 30 pangkalan udara di Indonesia. Ini karena panjang landasan pacu yang dibutuhkan KC-46 lebih pendek daripada A330 MRTT.

A330 MRTT refuels A400M
Airbus

Namun sampai kini, Pegasus masih didera sejumlah masalah teknis terutama terkait sistem kamera digital tiga dimensi yang digunakan operator pengisisan bahan bakarnya.

Pesawat manapun yang kelak dipinang garda udara Nusantara, jet-jet tempur TNI AU dapat memperpanjang waktu dan jangkauan terbang sehingga bisa digeser ke seluruh wilayah Nusantara tanpa tergantung keharusan transit untuk isi ulang bahan bakar.

Sebagai ilustrasi, satu skadron F-16 bisa digeser dari wilayah Sumatera ke wilayah paling timur Papua dengan dukungan dua atau tiga pesawat tanker tanpa perlu F-16 tersebut mendarat di tengah perjalanan.

Antonius KK

editor: ron

9 Replies to “Pesawat tanker, kebutuhan strategis TNI Angkatan Udara”

  1. Hanya aka menghabiskan anggaran yg besar…kenapa…karna pesawat tengker sbnarnya d butuhkan buat negara yg sering berurusan militer k negara lainya yg memiliki jarak jauh dan melewati bbrapa negara,sehingga lebih hemat d bandingkan transit….sedangkan d Indonesia blm terlalu mndesak karna kalau hanya perjalanan jauh dr barat k timur,cukup transit aja…kan banyak bandara yg bsa d darati pespur…kecuali kita ingin berperang k luar dg jarak serang jauh…jgn terbawa doktrin militer negara super power. Malaysia butuh tanker udara karna dua wilayah mereka terpisah oleh Natuna hingga tak mungkin dlm keadaan perang transit d Natuna. Singapura butuh tanker karna pesawat2 tempur mereka banyak berada d luar negri yg jaraknya puluhan ribu kilometer dr negerinya…sehingga butuh tanker dlm perjalanan perang ataupun hanya sekedar pulang kandang…menurut saya lbih baik d gunakan aj dananya buat pengadaan pespur gen 5 agar TNI AU kita tak inferior d kawasan yg sudah d kelilingi siluman2 angkasa

  2. Kebutuhan pswt tanker dgn luas wilayah NKRI mmg dibutuhkan mengingat jarak tempuh pswt tempur kita, contoh dr Sumatera ke Papua, sehingga ulasan diatas sangat realistis utk TNI AU dlm memperkuat kekuatan uadara kita.

  3. Bismillah sebagai rakyat indonesia setuju aja pengadaan ada dua kandidat, yaitu pesawat Airbus A330 MRTT (Multi Role Tanker Transport) dan Boeing KC-46 Pegasus. menambah kekuatan skadron udara kita,memang bgitulah kebutuhan kita,kalau dapat menjadi 6 unit lagi.

  4. Saya sebagai masyarakat sependapat dengan pak Prio Indonesia tidak butuh mendesak, lebih baik membangun alut sista dan intelijen sistem airforce tapi semua kembali pada consultan atau perencanaan pertahanan TNI AU dan Negara Indonesoa

  5. Sama sekali gak ada urgensinya, selain hamburkan anggaran !
    Tak bisa disamakan dgn USAF yg punya wilayah operasional global…ke seluruh penjuru dunia !
    Sdgkan TNI-AU wilayah operasionalnya cuma dalam negeri aja, di negara kepulauan yg di tiap pulaunya sdh punya pangkalan beserta dukungan logistiknya…

  6. Sudah sangat dibutuhkan untuk sifatnya urgen ketika terjadi eskalasi dalam negeri seperti OPM di papua yg harus segera ditangani.

  7. Klo ad yg blg g urgent, nti klo ad kejadian somalia part xx baru deh koar2 knp RI ga bs proyeksi kekuatan keluar? Knp cm bs jago kandang? Inget, doktrin RI skrg mau mulai preemptive strike, jd potensi gangguan akan cb diredam diluar wilayah RI drpd mengorbankan wilayah RI kaya doktrin lawas. Inget skrg LCS gmn dikuasainya sm tiongkok dan makin arogan, nti klo ad apa2 masa iya pesawat tempur kita harus isi BBM di laut cina selatan? Semua emg udh urgensi termasuk gen5, tp ya sesuai porsinya, klo emg btuh tanker sistem boom ya beli, masa iya hrs selalu pake flanker trs buat scramble? Lalu F16 dianggurin gr2 alesan g ada tankernya dan hrs kejar time reaction dgn cepat,,klo btuh gen5 ya beli wlwpn cm bbro biji, hadeh

  8. Mau tidak mau harus dibeli. Kalau belum ada anggaran beli satu dulu. Karena pengisian bahan bakar diudara juga membutuhkan latihan. Tidak bisa sekali jadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *