Taktik Baru Rusia: Terbangkan Drone Jet di Ketinggian 7 Km, Sishanud Ukraina Melongo

Drone Geran-5 RusiaOTC Live
Drone jet Geran-5 Rusia.

AIRSPACE REVIEW – Pasukan Rusia dilaporkan menerapkan taktik baru yaitu penerbangan jelajah tinggi untuk menembus pertahanan udara Ukraina dengan menggunakan drone bertenaga jet terbaru, Geran-4 dan Geran-5.

Berbeda dengan pendekatan tradisional yang mengandalkan jalur terbang rendah guna memanfaatkan kontur bumi untuk bersembunyi dari radar, drone yang kemampuannya kini makin mendekati rudal jelajah ini justru sengaja diterbangkan pada ketinggian di atas 5 km, bahkan beberapa kali tercatat mencapai 7 km (hampir 23.000 kaki).

Strategi ini secara sengaja membuat drone mudah terlihat radar, namun secara taktis berhasil menempatkannya di luar jangkauan berbagai sistem pertahanan udara (sishanud) jarak pendek dan menengah Ukraina.

Sistem Pertahanan Udara Mahal

Selama ini, Ukraina telah secara signifikan memperkuat kemampuannya mencegat ancaman di ketinggian rendah, mulai dari kelompok tembak bergerak berbasis senapan mesin untuk sasaran 100–200 meter, hingga penggunaan artileri dan drone antipesawat saat drone baling-baling diterbangkan di ketinggian 1–2 km.

Namun, penerbangan pada ketinggian 7 km secara efektif melumpuhkan sebagian besar aset pertahanan udara tersebut.

Artileri pertahanan udara seperti Gepard hanya memiliki jangkauan vertikal hingga sekitar 3,5 km, sementara sistem Skyranger 35 yang lebih baru hanya mampu menjangkau hingga 4 km.

Ketinggian tersebut juga melampaui kemampuan mayoritas rudal panggul (MANPADS) seperti Stinger (3,5 km) dan Piorun (4 km), serta berada di atas batas jangkauan Mistral 3 yang hanya sekitar 6 km.

Baca di Sini: Rusia Genjot Produksi Drone Jet Geran-4 dan Geran-5 hingga Ribuan Unit Per Bulan

Sistem rudal darat ke udara jarak pendek konvensional dan sistem pencegat berbiaya rendah juga tidak mampu meladeni ancaman pada ketinggian ini.

Sistem seperti 9K35 Strela-10 (3,5 km), 9K33 Osa-AKM (5 km), hingga IRIS-T SLS yang diproduksi Diehl Defence (6 km) tidak memiliki cakupan ketinggian yang cukup untuk menjangkau target pada 7 km.

Rudal pencegat berbasis APKWS seperti Frankenburg Mark I yang dirancang khusus untuk drone bahkan hanya memiliki jangkauan vertikal 1,5 km dari darat.

Selain itu, penggunaan drone pencegat (interceptor drone) menjadi sangat sulit atau bahkan hampir mustahil karena harus berjuang menanjak tinggi dalam kondisi udara yang lebih tipis.

Andalkan F-16 dengan APKWS

Situasi ini memaksa Ukraina untuk mengandalkan sistem pertahanan udara jarak menengah hingga jauh seperti Buk (termasuk varian FrankenSAM dengan rudal RIM-7) dan IRIS-T SLM yang mampu menjangkau sasaran di ketinggian tersebut.

Kendati demikian, menembak jatuh Geran-4 dan Geran-5 menggunakan rudal-rudal tersebut tidak hanya memakan biaya yang sangat mahal dan secara ekonomi tidak efisien, melainkan juga menguras stok amunisi pertahanan udara yang ketersediaannya sangat terbatas.

Alhasil, jet tempur seperti F-16 yang dilengkapi roket APKWS untuk peran udara ke udara menjadi salah satu opsi paling rasional secara ekonomi, mengingat rudal pencegat standar seperti AIM-9 jauh lebih mahal dan diproduksi dalam jumlah yang terbatas.

Sementara untuk menggunakan senjata kanon internal terlalu berisiko balik terkena pecahan-pecahan drone. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *