Kilas Balik Mengenal Rantis dan Ransus Awal Satbravo 90 TNI AU

DMV-30T dan SSE P6 ATAV Satbravo 90 TNI AURangga BS/AR
DMV-30T dan SSE P6 ATAV Satbravo 90 TNI AU

AIRSPACE REVIEW – Layaknya satuan elite TNI lainnya, Satuan Bravo 90 alias Satbravo 90 (dulu Detasemen Bravo/Denbravo 90) TNI Angkatan Udara dibekali berbagai perlengkapan dan peralatan khusus untuk menunjang efektivitas operasi di lapangan. Selain persenjataan dan alat komunikasi modern, pasukan khusus matra udara ini mengandalkan ketersediaan Kendaraan Taktis (Rantis) dan Kendaraan Khusus (Ransus).

Di antara jajaran armada yang dimiliki, jenis kendaraan serbu ringan atau Light Strike Vehicle (LSV) memegang peranan kunci. Meski jumlahnya terbatas, kehadiran LSV sangat krusial dalam mendukung pergerakan cepat pasukan elite Denbravo saat menanggulangi aksi terorisme di berbagai medan.

Salah satu rantis serbu kebanggaan yang diandalkan adalah DMV-30T (Dirgantara Military Vehicle-Tubular), buah karya divisi Engineering Service PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Diserahkan bertepatan dengan HUT Korpaskhas (sekarang Korpasgat) pada 17 Oktober 2007, kendaraan penggerak 4×4 ini tampil unik dengan desain terbuka berkerangka pipa baja (tubular steel) yang dilapisi kulit aluminium.

Tampilan “terbuka” ini memang memiliki kekurangan dalam hal perlindungan awak dari tembakan musuh, namun memberikan keunggulan berupa keleluasaan bergerak serta manuver yang lebih lincah karena bobotnya yang relatif ringan.

Baca Juga: Rantis Turangga APC 4X4 lengkapi Batalyon Komando 465/Paskhas

Dirancang khusus untuk pertempuran jarak dekat, DMV-30T mampu mengangkut 5 hingga 9 personel bersenjata lengkap. Kendaraan berdimensi panjang 4 meter, lebar 1,9 meter, dan tinggi 1,9 meter (wheelbase 2,8 meter) ini memiliki bobot kosong sekitar 1,5 ton.

Dapur pacunya dibekali mesin Ford Turbo Diesel Injection 3.000 cc berkekuatan 130 ps, yang sanggup menghasilkan kecepatan maksimal hingga 120 km/jam dengan kapasitas tangki bahan bakar 60 liter.

Untuk menunjang daya tempurnya, DMV-30T dilengkapi dua dudukan senjata, yaitu di samping pengemudi untuk senapan mesin ringan kaliber 5,56 mm dan di bagian atas untuk senapan mesin kaliber 7,62 mm.

SSE P6 ATAV

Selain DMV-30T, Satbravo 90 juga mengoperasikan SSE P6 ATAV (All Terrain Assault Vehicle), yang pertama kali diperkenalkan ke publik pada peringatan HUT TNI AU ke-70 di Lanud Halim Perdanakusuma, April 2017.

Saat itu, prajurit Denbravo memamerkan kepiawaiannya menunggangi P6 ATAV dalam simulasi pembebasan pesawat dari pembajakan teroris.

Kendaraan tempur ini dirancang menggunakan rangka pipa baja ringan yang dilapisi kulit duralium yang kuat. Dengan berat tempur sekitar 2,5 ton, P6 ATAV sangat fleksibel untuk digeser atau didistribusikan lewat udara menggunakan helikopter Cougar maupun pesawat angkut C-130 Hercules.

Baca Juga: Rantis Bima M-31 Pukau Pengunjung Indo Defence 2018, Warga Sipil Bisa Pesan

Dari sisi performa dan kekuatan tempur, SSE P6 ATAV memiliki dimensi panjang 4,6 meter, lebar 2,3 meter, dan tinggi 1,5 meter. Kendaraan ditenagai mesin Turbo Diesel Injection 2.300 cc bertenaga 142 ps, mampu mencapai kecepatan puncak 120 km/jam, serta memiliki jarak jelajah hingga 500 km berkat kapasitas tangki bahan bakar sebesar 120 liter.

P6 ATAV dapat diawaki oleh 4 hingga 8 personel (4 posisi duduk dan 4 posisi berdiri) serta menyediakan 4 titik dudukan senjata fleksibel yang dapat dipasangi senapan mesin kaliber 5,56 mm, 7,62 mm, Gatling 7,62 mm, atau bahkan sistem rudal antipesawat ringan MANPADS. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *