Benteng udara baru di Kalimantan: PT Len integrasikan radar GM403 buatan Thales
PT Len IndustriAIRSPACE REVIEW – PT Len Industri (Persero) mengimplementasikan sistem radar pertahanan udara Ground Control Interception (GCI) terbaru di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. BUMN yang tergabung dalam Holding DEFEND ID tersebut mengintegrasikan radar Ground Master 403 (GM403) buatan pabrikan pertahanan asal Prancis, Thales.
Akuisisi sistem radar canggih ini merupakan bagian dari kontrak Kementerian Pertahanan RI untuk pengadaan 13 unit Radar GCI guna memperkuat pengawasan ruang udara nasional secara menyeluruh. Penyerahan dua unit pertama radar ini sebelumnya telah disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada 18 Mei 2026 lalu.
Baca di Sini: Dua radar Thales GM 403 telah diterima TNI AU dari 13 unit yang dipesan Kemhan RI
Implementasi unit di Banjarbaru ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengawasan ruang udara (air surveillance) dan kesiapsiagaan pertahanan udara nasional secara waktu nyata. Kehadiran radar ini dipamerkan PT Len Industri saat menerima kunjungan resmi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) pada Kamis (16/7).
Kemampuan Deteksi Hingga 515 Km
Radar GCI berbasis GM403 Alpha ini menjadi yang pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi stacked beam terkini. Sistem ini memiliki kemampuan deteksi hingga jarak 515 km dengan update rate setiap 6 detik.
Fitur fast time to target yang diusungnya memungkinkan penyajian data situasional secara presisi guna mendukung pengambilan keputusan operasional secara kilat.
Meski ditempatkan di atas gedung fasilitas radar permanen (fixed site) di Banjarbaru, GM403 pada dasarnya mengusung konsep tactical mobile berbasis ISO Container 20 feet. Desain modular ini memungkinkan seluruh modul sistem dipindahkan dan digelar secara cepat (fast deployment) menggunakan armada angkut jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam kondisi darurat operasi.
Dalam skema operasionalnya, Radar GCI terintegrasi langsung dengan jaringan pertahanan udara TNI Angkatan Udara (TNI AU).
Baca Juga: Ini dia penampakan radar GCI yang diserahkan Prabowo ke TNI AU
Proses implementasi dan integrasi radar canggih ini mengandalkan kolaborasi puluhan engineer PT Len Industri dari berbagai disiplin ilmu.
Melalui program transfer teknologi (ToT) dengan Thales, tim lokal mengawal penuh pembangunan site, instalasi, integrasi, pengujian, hingga pemeliharaan sistem.
Kapabilitas dan Pengguna Global Radar GM403
Sebagai salah satu radar pertahanan udara 3D AESA (Active Electronically Scanned Array) tercanggih di kelasnya, GM403 mengusung teknologi pemrosesan data berbasis Gallium Nitride (GaN). Teknologi ini memberikan daya pemrosesan lima kali lebih tinggi dibandingkan versi pendahulunya.
Radar ini sangat tangguh dalam memindai berbagai jenis ancaman udara di segala ketinggian —mulai dari jet tempur taktis bermanuver tinggi, rudal jelajah, helikopter yang terbang rendah (hovering), hingga Unmanned Aerial Vehicle (UAV) bermuka gelombang radar kecil (low RCS) yang mencoba bersembunyi di balik kontur bumi (ground clutter).
Hingga saat ini, keluarga radar Ground Master 400 (GM400) series telah digunakan oleh lebih dari 20 negara di seluruh dunia. Pengguna utamanya mencakup negara-negara NATO dan Eropa seperti Prancis, Jerman, Finlandia, Estonia, Lithuania, Slovenia, Bulgaria, hingga Albania. Radar ini juga diandalkan oleh Royal Moroccan Air Force di Afrika serta negara-negara kawasan Timur Tengah.
Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia merupakan pengguna awal radar keluarga GM400 melalui Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) yang kini mengoperasikan empat unit varian GM400α.
Dengan bergabungnya Indonesia melalui akuisisi 13 unit radar GM403 oleh Kemhan RI, Indonesia menjadi operator radar keluarga GM400 Alpha terbesar di Asia Tenggara sekaligus memperkokoh benteng pengawasan udara di kawasan regional. (RNS)
