Selandia Baru borong torpedo MK 54 dari AS untuk persenjatai pesawat P-8A dan heli MH-60R

P-8A Poseidon meluncurkan torpedo MK 54US Navy

AIRSPACE REVIEW – Selandia Baru memperkuat kemampuan peperangan bawah lautnya dengan pembelian torpedo ringan MK 54 dari Amerika Serikat. Pengadaan senilai 69 juta USD ini diperoleh melalui skema Penjualan Militer Asing (FMS).

Selain torpedo, paket ini mencakup pelatihan, pemeliharaan, dan dukungan operasional yang diperlukan untuk membangun rantai serangan antikapal selam (ASW).

Keputusan ini diambil seiring dengan meluasnya persaingan strategis di seluruh Indo-Pasifik dan menandakan upaya nyata untuk memperkuat kemampuan Selandia Baru dalam melawan aktivitas kapal selam yang semakin canggih di samudra Pasifik, terutama menghadapi kapal selam China.

Torpedo MK 54 akan melengkapi tulang punggung arsitektur peperangan antikapal selam (ASW) Selandia Baru yang menghubungkan pesawat patroli maritim P-8A Poseidon dan helikopter berbasis kapal MH-60R Seahawk baru yang juga tengah diakuisisi dari AS.

Penjualan yang diusulkan mencakup 20 torpedo ringan versi MK 54 MOD 0 dalam konfigurasi amunisi penuh, bersama dengan torpedo latihan yang dapat dipulihkan, aksesori peluncuran udara, suku cadang dan peralatan pendukung lainnya.

Jenit Torpedo Canggih

MK 54 adalah torpedo yang dirancang untuk diluncurkan dari kapal permukaan dan pesawat terbang (MPA) dan helikopter.

Dikembangkan sebagai Torpedo Hibrida Ringan, MK 54 MOD 0 menggabungkan elemen dari program torpedo MK 46 dan MK 50 sebelumnya dengan teknologi pemrosesan sinyal digital komersial yang tersedia di pasaran.

MK 54 MOD 0 dilengkapi dengan bagian panduan dan kontrol canggih serta peningkatan perangkat lunak taktis yang bertujuan untuk meningkatkan kinerjanya.

Torpedo ini memiliki panjang 270 cm, diameter 32 cm, dengan berat sekitar 275 kg dan membawa muatan hulu ledak berdaya ledak tinggi hingga 45 kg.

Torpedo berfungsi sebagai senjata penyerangan akhir, setelah kapal selam lawan terdeteksi, diklasifikasikan, dilacak, dan dilokalisasi oleh jaringan sensor yang lebih luas.

Empat Poseidon dan Lima Seahawk

Guna menghadapi operasi antikapal selam, Angkatan Udara Selandia Baru saat ini mengoperasikan empat pesawat patroli maritim Boeing P-8A Poseidon dari Pangkalan RNZAF Ohakea, menggantikan armada P-3K2 Orion sebelumnya.

Dalam peperangan antikapal selam, P-8A menyediakan lapisan pencarian dan pelacakan area luas, menggunakan sensor, sonobuoy, sistem misi, dan pemrosesan data taktis untuk membangun gambaran maritim yang dapat dikenali dan melokalisasi kontak bawah laut.

Sedangkan Penerbangan Angkatan Laut Selandia Baru akan mendapatkan lima helikopter Sikorsky MH-60R, sebagai pengganti helikopter maritim Kaman SH-2G(I) Seasprite.

Helikopter MH-60R dapat membawa torpedo antikapal selam Mk 54, serta rudal AGM-114 Hellfire, senapan mesin yang dioperasikan awak, dan roket berpemandu APKWS (Advanced Precision Kill Weapon System).

Kehadiran MH-60R ini akan memberi kapal perang permukaan Angkatan Laut Selandia Baru kemampuan penyerangan antikapal selam yang terintegrasi, memungkinkan fregat untuk memperluas jangkauan sensor dan senjatanya melampaui batas sistem yang terpasang di lambungnya sendiri.

MH-60R yang berada di atas kapal dapat bergerak cepat menuju area kontak, mengerahkan sensor, menyempurnakan lokalisasi target, dan melepaskan torpedo ringan ke target yang telah dikunci. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *