Angkatan Laut AS segera pensiunkan sisa jet F-5, digantikan Super Hornet untuk latihan tempur
US Navy AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dilaporkan tengah bersiap untuk memensiunkan armada jet tempur taktis Northrop F-5 Tiger II yang tersisa.
Sebagai gantinya, US Navy berencana beralih menggunakan jet tempur Boeing F/A-18E/F Super Hornet yang lebih modern sebagai “agresor” atau lawan simulasi (adversary) dalam program pelatihan tempur udara tingkat lanjut.
Langkah ini terungkap melalui rancangan awal Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) untuk tahun anggaran 2027 yang dirilis oleh Komite Angkatan Bersenjata DPR AS.
Meskipun armada F-5 milik US Navy, baik varian kursi tunggal F-5N maupun kursi ganda F-5F, saat ini sedang menjalani program pemutakhiran standar ARTEMIS, Pentagon menilai pesawat era Perang Dingin tersebut sudah tidak lagi memadai untuk mensimulasikan ancaman udara tingkat tinggi masa kini.
Secara desain, F-5 adalah pesawat non-siluman yang usang. Walau andal dan hemat biaya untuk meniru taktik udara dasar atau rudal jelajah, jet ini kekurangan performa dinamis untuk benar-benar meniru jet tempur generasi keempat modern, seperti yang saat ini banyak dioperasikan oleh kompetitor utama AS, termasuk China.
Dengan mengalihkan peran lawan kepada F/A-18E/F Super Hornet, US Navy akan memiliki armada agresor yang jauh lebih representatif terhadap ancaman nyata.
Super Hornet dilengkapi dengan radar Active Electronically Scanned Array (AESA) jenis AN/APG-79 yang sangat matang, pod penargetan ATFLIR, serta sistem penerima peringatan radar (radar warning receiver) yang canggih.
Konfigurasi ini dinilai sangat ideal untuk mereplikasi karakteristik pertempuran udara dari jet tempur generasi keempat canggih milik lawan di wilayah Pasifik.
Keputusan untuk mulai menjajaki pensiunnya F-5 ini menandai perubahan arah yang signifikan dari strategi US Navy sebelumnya.
Pada tahun 2022, Angkatan Laut AS sempat menyatakan komitmennya untuk terus menerbangkan jet F-5 dalam peran adversary setidaknya hingga tahun 2035.
Namun, pesatnya modernisasi kekuatan udara global memaksa Pentagon mempercepat rasionalisasi dan modernisasi aset pelatihan mereka.
Kehadiran jet Super Hornet di skadron agresor diharapkan dapat memastikan para penerbang tempur US Navy tetap memiliki kesiapan tertinggi saat menghadapi situasi pertempuran udara yang sesungguhnya di masa depan. (RNS)
