AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut AS (US Navy) secara resmi mengubah doktrin pelatihan penerbangannya yang telah bertahan selama puluhan tahun. Kini, para siswa pilot tempur tidak lagi melakukan pendaratan pertama mereka di kapal induk menggunakan jet latih, melainkan langsung menggunakan jet tempur garis depan seperti F/A-18E/F Super Hornet atau F-35C Lightning II.
Sebelumnya, selama bertahun-tahun, siswa pilot harus membuktikan kemampuan mereka dengan mendaratkan pesawat latih T-45 Goshawk di atas kapal induk sebelum diberi brevet “Wings of Gold” (lencana sayap emas).
Namun, mulai Maret 2025, kebijakan ini berubah bagi mereka yang terpilih menerbangkan jet tempur F/A-18E/F, F-35C, dan EA-18G Growler.
Para siswa akan mendapatkan lencana sayap mereka setelah menyelesaikan simulasi pendaratan di pangkalan darat atau Field Carrier Landing Practice (FCLP).
Pendaratan nyata pertama mereka di laut baru akan dilakukan setelah mereka bergabung dengan unit armada tempur.
Alasan utama di balik pergeseran kurikulum ini adalah kemajuan teknologi. Jet tempur modern saat ini dilengkapi dengan sistem Precision Landing Mode (sebelumnya dikenal sebagai MAGIC CARPET).
Teknologi ini secara otomatis membantu mengontrol jalur penerbangan, sehingga proses mendarat di kapal induk yang dulunya dianggap sangat berbahaya, kini menjadi jauh lebih aman dan mudah.
Otomatisasi ini membuat fase latihan pendaratan dengan pesawat latih manual dianggap tidak lagi mendesak dan cenderung redundan bagi pilot jet generasi terbaru.
Selain faktor teknologi, perubahan ini membawa beberapa keuntungan dan tantangan.
Pertama, mengurangi beban jadwal operasional kapal induk bertenaga nuklir yang sangat padat karena tidak perlu lagi melayani kualifikasi dasar siswa pilot.
Kedua, pengganti pesawat latih T-45 di masa depan dikabarkan tidak akan memiliki kemampuan mendarat di kapal induk (tidak memiliki tail hook atau roda pendaratan berat), sehingga pelatihan di darat menjadi satu-satunya pilihan permanen.
Ketiga, penggunaan jet tempur mahal seperti F-35 untuk latihan pendaratan perdana meningkatkan biaya operasional dan keausan pada rangka pesawat tempur utama dibandingkan menggunakan pesawat latih yang lebih murah.
Perubahan ini menandai berakhirnya sebuah era di mana mendarat di “kapal induk” adalah ujian akhir bagi setiap calon penerbang angkatan laut.
Kini, kecanggihan perangkat lunak telah mengambil alih peran keberanian manual dalam tradisi penerbangan militer Amerika Serikat.
Ya, cara-cara jadul (lama) kini memang perlahan ditinggalkan bila dinilai sudah tidak efisien lagi. Kalau ada cara baru, kenapa harus pakai cara lama. Seperti itu.. (RNS)

