Helikopter Mi-26 angkat sistem pertahanan udara Pantsir-SMD-E ke atas gedung di Moskow
Via X AIRSPACE REVIEW – Dalam sebuah aksi yang dramatis dan tak biasa, militer Rusia terekam kamera menggunakan helikopter transportasi terbesar di dunia, Mi-26 (NATO: Halo), untuk mengangkat sistem pertahanan udara Pantsir-SMD-E langsung ke atas atap gedung-gedung tinggi di ibu kota Moskow.
Langkah ekstrem ini dilakukan seiring upaya Kremlin memperketat perlindungan wilayah udara mereka dari ancaman serangan drone jarak jauh Ukraina yang kian gencar.
Sebuah video yang beredar luas di media sosial baru-baru ini memperlihatkan helikopter raksasa Mi-26 tersebut tengah mengangkut sistem pertahanan Pantsir-SMD-E menggunakan tali kargo eksternal.
Penggunaan Mi-26 menunjukkan bahwa beberapa posisi tinggi yang dipilih tidak dapat diakses oleh kendaraan atau derek darat konvensional.
Meskipun pemasangan sistem antipesawat di atas atap gedung sudah dimulai sejak tahun 2023 setelah gelombang serangan drone pertama melanda Moskow, perluasan jaringan pertahanan ini dilaporkan melesat cepat dalam beberapa bulan terakhir.
Saat ini, sistem Pantsir-SMD-E dapat terlihat dengan jelas di atas gedung-gedung administrasi, fasilitas militer, pusat pemerintahan (termasuk di dekat Kremlin dan Kementerian Pertahanan), serta di dekat kawasan padat penduduk.
Para analis militer menjelaskan bahwa menempatkan sistem pertahanan di titik tinggi secara signifikan meningkatkan jangkauan visual radar dan sensor elektro-optik.
Hal ini memperkuat kemampuan militer Rusia untuk mendeteksi drone yang terbang rendah di antara gedung-gedung dan rintangan perkotaan.
Selain memanfaatkan atap gedung, kondisi geografis Moskow yang cenderung datar juga dimanfaatkan dengan membangun menara baja dan platform tinggi guna memperluas jarak pandang baterai antipesawat.
Sistem Pantsir-SMD-E yang dikerahkan merupakan versi terbaru yang dikembangkan oleh KBP Instrument Design Bureau di bawah konglomerat pertahanan negara, Rostec.
Model ini dioptimalkan secara khusus untuk menghadapi taktik kawanan drone (drone swarms) dan amunisi berukuran kecil.
Jaringan ini mampu membawa hingga 48 rudal pencegat jarak pendek dan melacak puluhan target secara bersamaan, berfungsi sebagai lapisan pertahanan terakhir apabila ancaman berhasil lolos dari sistem rudal jarak jauh S-300 dan S-400.
Konflik yang terus berlanjut telah memaksa Moskow mengubah total arsitektur pertahanannya.
Sejak tahun 2023, drone Ukraina mulai menjangkau kilang minyak, pusat industri, dan depo militer yang jauh di dalam wilayah Rusia.
Berdasarkan analisis citra satelit independen, Rusia telah membangun puluhan posisi antiaéreo baru di sekitar Moskow sepanjang periode 2025 hingga 2026, termasuk mengaktifkan kembali bekas pangkalan pertahanan era Uni Soviet yang sempat terbengkalai selama beberapa dekade.
Kendati demikian, kehadiran sistem militer di tengah kawasan pemukiman memicu kekhawatiran tersendiri di kalangan warga sipil.
Belajar dari insiden di wilayah perbatasan seperti Belgorod dan Rostov, puing-puing drone yang hancur maupun serpihan rudal pencegat kerap jatuh dan merusak gedung-gedung sipil saat proses intersepsi berlangsung.
Namun, otoritas Rusia tetap memprioritaskan penguatan sabuk pertahanan ini demi melindungi pusat kekuasaan dan objek vital negara dari ancaman senjata murah yang kini memaksa kekuatan militer besar mendesain ulang strategi pertahanan udara mereka. (AF)
