Sentuhan Teknologi Italia di Laut Nusantara: Mengungkap Potensi Tempur KRI Gajah Mada

Mengungkap Potensi Tempur KRI Gajah MadaVia X
Mengungkap Potensi Tempur KRI Gajah Mada.

AIRSPACE REVIEW – Geopolitik maritim kawasan Asia Tenggara memasuki babak baru seiring melautnya kapal induk eks Angkatan Laut Italia, Giuseppe Garibaldi, menuju Indonesia.

Pelayaran yang diperkirakan memakan waktu lebih dari 20 hari melewati Terusan Suez dan Laut Merah ini dikawal langsung oleh kapal fregat Italia.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal induk pertama Indonesia ini dijadwalkan sandar di Tanah Air antara 15 hingga 20 September.

Selama pelayaran, kapal tetap berkibar di bawah bendera Italia hingga momen peresmian serta upacara alih bendera pada 25 September mendatang, yang rencananya dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Momen historis ini sekaligus menobatkan Indonesia sebagai negara kedua di Asia Tenggara yang mengoperasikan kapal induk setelah Thailand meluncurkan HTMS Chakri Naruebet pada 1997.

Pangkalan Helikopter Gabungan

Di balik ukurannya yang mencapai bobot penuh sekitar 13.850 ton, kapal yang akan bertransformasi menjadi KRI Gajah Mada di TNI Angkatan Laut ini menyimpan sejarah rekayasa teknis yang cukup kompleks.

Memulai pengabdiannya pada 1985 sebagai kapal induk helikopter, kapal ini dirombak menjadi kapal induk yang dapat membawa pesawat (aircraft-carrying cruiser) pada 1989 guna mendukung operasional jet tempur V/STOL AV-8B Harrier II.

Diperoleh Indonesia melalui hibah antarpemerintah (intergovernmental grant), eks kapal unggulan Italia ini menawarkan kombinasi unik antara kapabilitas penerbangan yang kompak serta kelengkapan senjata multiperan dan sensor terpadu.

Pada masa awal layanannya di Italia, persenjataan kapal ini terbilang sangat tangguh. Kapal dilengkapi dua peluncur delapan tabung (octuple) untuk rudal darat ke udara Sea Sparrow/Aspide, empat rudal antikapal Otomat Mk 2, dua peluncur torpedo tiga tabung (triple torpedo tubes), serta tiga meriam ganda Oto Melara 40 mm.

Alih-alih mengandalkan jet tempur sayap tetap di Indonesia, pemerintah berencana memanfaatkannya sebagai pangkalan helikopter gabungan lintas matra, mencakup armada udara TNI AL, TNI AU, dan TNI AD.

Tantangan Pemeliharaan

Kehadiran platform penerbangan maritim berukuran besar ini membawa keuntungan taktis luar biasa bagi wilayah kepulauan Indonesia.

KRI Gajah Mada akan berfungsi sebagai pangkalan bergerak untuk memperluas daya jangkau helikopter dalam misi intelijen, pengawasan, logistik, antikapal selam, hingga operasi penanggulangan bencana dan pencarian korps SAR.

Efek penggentar (deterrence effect) dari kapal ini amat relevan untuk memperkuat posisi strategis Indonesia di batas selatan Laut China Selatan yang penuh ketegangan.

Selain itu, integrasi teknologi modern seperti pengoperasian drone tempur Bayraktar TB3 asal Turkiye di atas dek penerbangan berpotensi membekali KRI Gajah Mada dengan kemampuan pengawasan tanpa henti serta serangan presisi tanpa biaya tinggi.

Menyambut armada raksasa ini, kesiapan infrastruktur darat dan personel terus dikebut di dalam negeri.

TNI AL telah mendirikan fasilitas latihan khusus di Lanudal Juanda, Sidoarjo, dengan melukiskan pola dek kapal induk pada helipad darat untuk membiasakan para pilot serta kru dek dengan prosedur pendaratan laut.

Info Lainnya: TNI Angkatan Laut akan menyiapkan 500 personel untuk mengawaki kapal induk Giuseppe Garibaldi

Bersamaan dengan itu, pembangunan pangkalan armada utama kapal di Lampung, ujung selatan Sumatra, ditargetkan rampung pada akhir September agar siap beroperasi penuh.

Kapal yang mengusung nama mahapatih legendaris Kerajaan Majapahit ini juga diproyeksikan menjadi atraksi utama dalam perayaan HUT ke-81 TNI pada Oktober mendatang.

Meski demikian, pengoperasian pangkalan udara laut sebesar ini menuntut komitmen jangka panjang yang tidak ringan.

Portal pertahanan The War Zone (TWZ) mengingatkan, belajar dari pengalaman Thailand yang jarang menerjunkan kapal induknya ke laut lepas, tantangan terbesar Indonesia berada pada aspek pemeliharaan teknis rutin serta pembentukan keahlian taktis penerbangan kapal secara berkelanjutan.

Bagaimanapun, KRI Gajah Mada memberikan lonjakan kapabilitas pertahanan yang belum pernah dimiliki Indonesia sebelumnya, sebuah aset strategis yang memadukan keandalan rekayasa Italia dengan kebutuhan pengamanan maritim Nusantara. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *