Selamat Tinggal Superjumbo A380: Qantas Segera Beralih Total ke A350 dan Boeing 787
PinterestAIRSPACE REVIEW – Qantas mempercepat langkah memensiunkan seluruh armada Airbus A380 miliknya. Maskapai asal Australia ini bakal merumahkan sepuluh pesawat raksasa bertingkat tersebut mulai 2028, empat tahun lebih cepat dari jadwal semula.
Keputusan besar ini diumumkan Qantas berbarengan dengan rilis laporan keuangan tahun fiskal 2026.
Melonjaknya biaya perawatan serta sulitnya pasokan suku cadang pesawat bermesin empat tersebut menjadi alasan utama Qantas untuk segera berpaling.
Proses pemensiunan A380 ditargetkan rampung secara bertahap hingga 2030, dengan unit pertama mulai keluar dari armada pada Maret 2028.
Meski begitu, Qantas tetap membuka opsi perpanjangan operasional tipis jika ada kendala pengiriman pesawat baru.
Airbus A350 dan Boeing 787
Sebagai pengganti sang raksasa, Qantas tengah bernegosiasi dengan Airbus dan Boeing untuk mengamankan sekitar 20 opsi pembelian menjadi pesanan pasti.
Pilihan jatuh pada Airbus A350 dan Boeing 787 Dreamliner yang dinilai jauh lebih efisien untuk rute jarak jauh.
Langkah ini sejalan dengan persiapan peluncuran Project Sunrise pada 2027. Program tersebut mengandalkan armada A350-1000ULR untuk melayani penerbangan nonstop dari Australia langsung menuju London dan New York.
Varian A350-1000 sendiri memiliki dimensi panjang mencapai 72,25 meter yang hampir menandingi A380.
Dibekali dua mesin Rolls-Royce Trent XWB-97, pesawat ini menawarkan daya jangkau luar biasa dengan efisiensi bahan bakar yang jauh lebih tinggi.
Selain Airbus, Boeing 787 Dreamliner juga memegang peran kunci dalam transformasi armada Qantas.
Maskapai berlogo kangguru ini dijadwalkan menerima tambahan pesawat baru yang terdiri dari empat unit 787-9 dan delapan unit 787-10.
Tinggalkan Pesawat Bermesin Empat
Penghentian A380 sekaligus menandai akhir dari era pesawat superjumbo yang telah dioperasikan Qantas sejak 2008.
Meski sempat menjadi andalan di rute-rute padat, ukuran A380 kini dinilai terlalu besar dan sulit dioptimalkan secara ekonomis.
Langkah Qantas menegaskan tren global industri penerbangan yang mulai meninggalkan pesawat bermesin empat berkapasitas raksasa sejak Airbus menghentikan produksinya pada 2021.
Pengoperasian jet bermesin ganda modern kini dianggap jauh lebih efisien, fleksibel, dan menguntungkan.
Emirates Malah Untung dengan A380
Di tengah gelombang pensiun dini A380 oleh berbagai maskapai global, Emirates justru mencatatkan cerita yang jauh berbeda.
Sebagai operator A380 terbesar di dunia, maskapai asal Uni Emirat Arab ini tetap mengandalkan armada superjumbonya untuk meraup keuntungan besar.
Kunci keberhasilan Emirates terletak pada model bisnis hub-and-spoke berbasis di Dubai yang sangat bergantung pada kapasitas angkut masif untuk menghubungkan berbagai penjuru dunia.
Baca di Sini: Minat pelancong tinggi, A380 Emirates terbang membawa 618 penumpang dari Birmingham ke Dubai
Dengan memenuhi kabin A380 pada rute-rute utama berslot padat, Emirates mampu memaksimalkan pendapatan per penerbangan secara signifikan.
Strategi tersebut membuktikan bahwa A380 masih sangat menguntungkan jika dioperasikan pada ekosistem jaringan yang tepat.
Emirates bahkan terus melakukan investasi besar-besaran untuk pembaruan interior kabin demi memastikan raksasa udara ini tetap menjadi mesin pencetak uang utama hingga era 2030-an. (RNS)
