Dassault Genjot Pengembangan Rafale F5 yang Lebih Canggih: Diekspor Mulai Tahun 2035
DassaultAIRSPACE REVIEW – Dassault Aviation terus memacu pengembangan generasi baru jet tempur Rafale F5. Versi terbaru ini disiapkan untuk diproduksi dan mulai diekspor ke pasar internasional pada tahun 2035.
Meskipun awalnya dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Bersenjata Prancis dengan target operasional 2033–2035, Dassault berniat memanfaatkan kesuksesan komersial Rafale untuk menawarkan varian F5 ke klien global.
Langkah ini diambil untuk menjaga daya saing Rafale di pasar internasional di tengah bermunculannya pesawat tempur generasi baru.
Lompatan Teknologi Besar
Rafale F5 dirancang sebagai lompatan teknologi besar, jauh melampaui standar F3R dan F4 saat ini.
Varian ini membawa peningkatan komprehensif pada sistem sensor, pemrosesan data, peperangan elektronik, konektivitas, persenjataan, hingga sistem propulsi.
Salah satu fitur paling mutakhir dari Rafale F5 adalah kemampuannya beroperasi bersama drone siluman (UCAV) berbasis demonstrator nEUROn.
Dalam konsep tempur kolaboratif ini, Rafale bertindak sebagai pusat komando udara yang mengordinasikan platform nirawak untuk misi pengintaian dan penetrasi di zona berbahaya.
Baca di Sini: Rafale F5 Prancis akan dipersenjatai rudal Stratus yang mampu kelabui pertahanan udara musuh
Untuk mengelola lonjakan data tempur dan mengurangi beban kerja pilot, Dassault mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) secara mendalam.
AI ini bertugas membantu awak pesawat menafsirkan informasi dan mengambil keputusan dengan cepat di situasi pertempuran yang kompleks.
Dorongan Mesin Lebih Besar
Dari segi mekanis, Rafale F5 akan dibekali mesin baru Safran M88 T-REX dengan kekuatan dorong mencapai sembilan ton menggunakan afterburner.
Tenaga ekstra ini krusial untuk mengimbangi penambahan bobot akibat pemasangan berbagai perangkat sensor dan persenjataan baru.
Sistem pertahanan diri serta deteksi radar turut dirombak total agar pesawat tetap tangguh menghadapi ancaman pertahanan udara masa depan.
Selain itu, Rafale F5 juga diproyeksikan mampu membawa rudal nuklir hipersonik ASN4G mulai dekade 2030-an sebagai bagian dari strategi pencegahan nuklir Prancis.
Pertahankan Dominasi Pasar
Keputusan Dassault untuk menggarap varian F5 secara mandiri tanpa mitra asing menjadi sangat krusial.
Hal ini menyulut penghentian kerja sama proyek jet tempur berawak FCAS (Future Combat Air Systems) antara Prancis dan Jerman pada tahun 2026 akibat perselisihan pembagian porsi industri antara Dassault Aviation dan Airbus.
Melalui pengembangan mandiri ini, Prancis tidak hanya mengamankan keunggulan tempur udaranya hingga era generasi keenam, tetapi juga memastikan posisi Rafale F5 tetap dominan di pasar pertahanan global. (RNS)
