Empat Hari Mati Listrik di Laut China Selatan, Kapal Perusak AS USS Benfold Ditarik ke Filipina
US NavyAIRSPACE REVIEW – Kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy), USS Benfold (DDG-65), mengalami insiden mati listrik total (lost power) selama empat hari saat menjalankan operasi rutin di perairan Laut China Selatan, kawasan Indo-Pasifik.
Berdasarkan pernyataan dari Armada ke-7 Angkatan Laut AS, peristiwa yang terjadi sejak 24 Juli lalu ini dipicu oleh gangguan teknis pada sistem generator utama.
Kerusakan tersebut membuat kapal perang canggih ini kehilangan kemampuan bermanuver secara mandiri hingga akhirnya harus ditarik menuju sebuah teluk di Filipina untuk menjalani perbaikan darurat.
AC Hingga Toilet Tidak Berfungsi
Dampak dari matinya pasokan listrik tersebut dirasakan secara langsung dan signifikan oleh seluruh personel militer yang berada di atas kapal.
Kapal perang ini harus beroperasi tanpa fasilitas dasar yang menyokong kehidupan awak kapal, seperti berhentinya sistem pendingin udara (AC), tidak berfungsinya fasilitas sanitasi dan toilet, matinya peralatan dapur untuk memasak, hingga terhentinya proses desalinasi untuk memproduksi air minum.
Menurut laporan USNI News, insiden kelumpuhan ini terjadi di kawasan Laut China Selatan, tempat di mana suhu udara siang hari pada akhir bulan Juli dapat mencapai kisaran ekstrem antara 32 hingga 37 derajat Celsius.
Di tengah situasi darurat tersebut, unsur-unsur dari gugus tempur Angkatan Laut AS bergerak cepat untuk memberikan bantuan logistik.
Kapal penjelajah berpeluru kendali USS Robert Smalls (CG-62), bersama dengan beberapa kapal perang lainnya yang tergabung dalam kelompok pemukul kapal induk USS George Washington (CVN-73), dikerahkan untuk mendampingi USS Benfold dan membagikan jatah makanan siap saji (MRE) kepada para prajurit yang terdampak.
Pihak US Navy menyatakan bahwa seluruh proses perbaikan di Filipina telah berhasil diselesaikan pada 8 Agustus, dan kapal tersebut kini telah kembali menjalankan tugas operasionalnya secara aktif.
Beban Operasional Terlalu Tinggi
Hingga saat ini, pihak militer Amerika Serikat masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi penyebab utama kegagalan generator pada kapal tersebut.
Insiden ini menjadi kasus mati listrik kedua yang menimpa armada kapal perusak kelas Arleigh Burke milik US Navy di wilayah Indo-Pasifik pada tahun yang sama.
Info Lainnya: China mengklaim telah mengusir kapal perusak AS
Sebelumnya pada bulan April, kapal perusak USS Higgins (DDG-76) juga dilaporkan mengalami gangguan sistem kelistrikan yang menyebabkan kapal tersebut kehilangan tenaga serta kemampuan navigasi selama beberapa jam.
Kapal perusak kelas Arleigh Burke merupakan tulang punggung armada tempur permukaan militer Amerika Serikat dengan jumlah lebih dari 70 unit yang beroperasi aktif.
Banyak pihak menilai bahwa serangkaian masalah teknis ini berkaitan erat dengan tingginya beban operasional yang harus ditanggung oleh Armada US Navy secara global, khususnya di tengah eskalasi konflik militer yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Kesehatan Mental Para Awak Kapal
USS Benfold merupakan bagian dari kelompok pengawal kapal induk USS George Washington yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah untuk menggantikan kapal induk USS Abraham Lincoln.
Pengalihan rotasi penugasan ini memicu efek domino terhadap kondisi operasional dan mental para prajurit di lapangan.
Kondisi para prajurit di kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) sendiri dilaporkan mengalami penurunan moral yang cukup tajam setelah harus berlayar lebih dari 250 hari di laut tanpa mendapat jeda kunjungan ke pelabuhan (port call) yang memadai.
Info Lainnya: Di balik kemegahannya, kapal induk USS Gerald R. Ford menghadapi masalah limbah kotor: Toilet mampet, pipa sempit
Para awak kapal menjalankan jam kerja yang sangat panjang dan telah menghabiskan sekitar 40 hari dalam operasi tempur terus-menerus, sembari menghadapi kendala pasokan logistik, keterlambatan pengiriman surat, serta terbatasnya ketersediaan bahan makanan dan air bersih.
Kerabat para prajurit bahkan mengungkapkan kekhawatiran terkait kesehatan mental awak kapal akibat tekanan tugas yang melampaui jadwal standar penugasan kapal induk, yang umumnya memerlukan jadwal singgah ke pelabuhan setiap 30 hingga 45 hari untuk pengisian ulang perbekalan, perawatan teknis kapal, serta istirahat bagi personel.
Saat ini, Angkatan Laut AS berupaya memulihkan jalur rantai pasok logistik, salah satunya dengan menyalurkan perbekalan penting saat kapal melakukan persinggahan singkat di Oman. (PN)
