Berburu Jet F-5 Bekas Taiwan, Paraguay Ingin Bangkitkan Lagi Armada Udara Supersoniknya

Jet tempur F-5E Tiger Angkatan Udara TaiwanTaiwan Air Power
Jet tempur F-5E Tiger Angkatan Udara Taiwan.

AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Paraguay tengah mengevaluasi rencana untuk mengadopsi armada jet tempur Northrop F-5 Tiger II dan pesawat latih AT-3 Tzu Chung yang telah dipensiunkan oleh Angkatan Udara Taiwan.

Langkah ini menjadi peluang besar bagi Asunción untuk membangun kembali penerbangan tempur jetnya, setelah lebih dari dua dekade tidak memiliki platform supersonik sejak dipensiunkannya armada Embraer AT-26 Xavante buatan Brasil pada awal tahun 2000-an.

Rencana akuisisi ini mengemuka seiring menguatnya kerja sama militer antara Paraguay dan Taiwan. Ketertarikan Paraguay diperkuat oleh kunjungan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Taiwan, Jenderal Tian Zhong-Yi, ke fasilitas militer Paraguay pada Juli lalu.

Presiden Paraguay Santiago Peña juga membenarkan adanya rencana integrasi pesawat latih jet melalui perjanjian bilateral tersebut.

Rencana Akuisisi 10-15 Unit F-5

Paraguay diperkirakan membidik sekitar 10 hingga 15 unit pesawat, dengan pengiriman yang berpotensi dimulai pada tahun 2027 jika kesepakatan terealisasi.

Di antara model yang ditawarkan, F-5 Tiger II menjadi opsi paling menarik karena kemampuannya mencapai kecepatan Mach 1,6 untuk misi intersepsi udara.

Selain desainnya yang tergolong sederhana dan memiliki sejarah operasional yang panjang, para pilot Paraguay sudah cukup familiar dengan F-5 melalui berbagai latihan militer multinasional seperti Salitre dan CRUZEX.

Jet Latih Lanjut AT-3 Tzu Chung

Sementara itu, jet subsonik AT-3 Tzu Chung diproyeksikan untuk mendukung peran pelatihan tingkat lanjut dan serangan ringan.

Integrasi jet dari Taiwan ini nantinya akan melengkapi program modernisasi Angkatan Udara Paraguay yang sedang berjalan, termasuk pengerahan enam unit Embraer A-29 Super Tucano.

Baca di Sini: Paraguay menerima empat pesawat serang ringan A-29 Super Tucano pertamanya dari Embraer Brasil

Kombinasi antara Super Tucano, AT-3, dan F-5 akan membentuk struktur pertahanan udara bertingkat, di mana armada turboprop difokuskan untuk patroli perbatasan dan penindakan kegiatan ilegal, sedangkan jet F-5 dikhususkan untuk pertempuran dan intersepsi kecepatan tinggi.

Biaya Perawatan dan Operasional

Kendati demikian, Paraguay dihadapkan pada tantangan besar terkait biaya operasional dan kesiapan infrastruktur.

Jet F-5 yang ditawarkan telah beroperasi selama puluhan tahun, sehingga memerlukan evaluasi mendalam pada badan pesawat, mesin, hingga sisa masa pakainya.

Biaya terbang F-5 yang diperkirakan mencapai 5.000 USD (sekitar Rp89 juta) per jam, jauh melebihi biaya operasional Super Tucano, serta kebutuhan investasi untuk suku cadang, pemeliharaan, dan bahan bakar akan menjadi faktor krusial yang menentukan keberlanjutan proyek tersebut. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *