Targetkan tembus 400 unit, Rusia amankan Su-35 sebagai jet tempur superioritas udara
UACAIRSPACE REVIEW – Industri penerbangan militer Rusia dilaporkan tengah bersiap melipatgandakan volume manufaktur jet tempur generasi 4++ Sukhoi Su-35. Produksi pesawat ini diproyeksikan menembus angka lebih dari 400 unit. Pencapaian skala besar ini didorong oleh tingginya intensitas kebutuhan di medan tempur serta lonjakan pesanan baru dari pasar ekspor internasional.
Rencana ekspansi oleh Moskow ini menandai perubahan signifikan dari skema awal program Su-35. Pada masa-masa awal pengembangannya, Angkatan Dirgantara Rusia (VKS) dan United Aircraft Corporation (UAC) hanya menargetkan total produksi sekitar 200 unit. Jumlah ini awalnya diperkirakan cukup untuk dibagi rata antara pemenuhan armada domestik dan pembeli asing.
Namun, dinamika konflik bersenjata yang berkepanjangan serta keterlambatan dalam proses produksi massal jet tempur siluman generasi kelima Su-57 memaksa Kremlin untuk meninjau ulang strategi pertahanan udara Rusia. Kebutuhan mendesak untuk menjaga superioritas udara menjadikan Su-35 pilihan paling praktis dan siap pakai untuk diproduksi secara masif.
Turunan Su-27 Paling Mutakhir
Dari sisi teknis, Su-35 merupakan turunan paling mutakhir dari keluarga legendaris Su-27 Flanker yang dirancang dengan karakteristik fisik dan performa luar biasa. Jet tempur bertempat duduk tunggal ini memiliki panjang 21,9 m, rentang sayap 15,3 m, dan bobot lepas landas maksimum mencapai 34,5 ton.
Baca Juga: Makin garang, Rusia guyur Angkatan Dirgantara dengan batch baru jet tempur Su-35S
Dapur pacunya ditopang oleh dua mesin turbofan Saturn AL-41F1S dengan afterburner dan nozel thrust-vectoring 3D. Keberadaan teknologi vektor dorongan ini memungkinkan jet tempur melakukan manuver ekstrem (supermaneuverability) yang sangat sulit ditiru oleh pesawat generasi keempat standar, seperti manuver Pugachev’s Cobra dan Frolov Chakra, yang memberi keunggulan mutlak dalam pertempuran jarak dekat.
Su-35 sanggup terbang hingga kecepatan puncak Mach 2,25 di ketinggian udara tinggi dan memiliki jangkauan jelajah internal tanpa tangki bahan bakar tambahan sejauh 3.600 km.
Kapabilitas tempur Su-35 semakin diperkuat oleh integrasi sistem avionik canggih, terutama radar passive electronically scanned array (PESA) Irbis-E yang mampu melacak hingga 30 target udara secara bersamaan dan mengunci 8 target di antaranya pada jarak pendeteksian hingga 400 km.
Baca Juga: Ukraina resmi akan mengakuisisi 16 Rafale dari Prancis, mampukah merontokkan Su-35?
Selain radar utama, Su-35 dilengkapi sistem pencari dan pelacak inframerah OLS-35 (Optical Locator System) untuk mengunci musuh secara pasif tanpa memancarkan sinyal radar, paket peperangan elektronik Khibiny-M, serta 12 titik cantelan eksternal yang mampu mengusung muatan persenjataan hingga 8 ton.
Persenjataannya mencakup rudal udara-ke-udara jarak ultra-jauh R-37M, R-77-1, R-73/R-74, rudal jelajah Kh-31 dan Kh-59, bom berpemandu presisi, hingga meriam internal berkaliber 30mm.
Peluang Ekspor Tetap Tinggi
Daya pikat kombinasi kemampuan tempur dan fleksibilitas tersebut telah menarik minat berbagai negara untuk mengoperasikan maupun memesan jet tempur ini. Rusia sendiri menempatkan Su-35 sebagai tulang punggung utama kekuatan udara dengan jumlah armada terbesar di barisan depannya.
Di ranah perdagangan senjata global, perjalanan ekspor Su-35 sebelumnya tidak lepas dari rintangan geopolitik. Tekanan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat dan sekutunya sempat membuat beberapa negara calon pembeli ragu untuk melanjutkan transaksi.
Meski demikian, tekanan tersebut berhasil diredam oleh menguatnya aliansi pertahanan Moskow dengan beberapa mitra strategis kunci, yang memastikan lini produksi di pabrik penerbangan Komsomolsk-on-Amur (KnAAZ) di Timur Jauh Rusia terus beroperasi pada kapasitas puncak.
Baca Juga: Selain ratusan rudal untuk Su-35, Iran ternyata juga pesan 12 Su-30SM2 bekas Rusia: Tahun depan tiba
China mencatatkan diri sebagai pembeli ekspor pertama setelah menandatangani kontrak 24 unit pada 2015 yang seluruhnya telah dikirimkan.
Di sisi lain, Iran menjadi pemesan strategis terbaru yang menyetujui akuisisi puluhan unit untuk memodernisasi armada udaranya, disusul oleh Aljazair yang terus menunjukkan komitmen kuat terhadap akuisisi platform ini.
Sementara itu, negara seperti Mesir dan Indonesia sebelumnya sempat menjajaki serta meneken kesepakatan pembelian, namun dinamika geopolitik, ancaman sanksi keuangan internasional, serta penyesuaian strategi pengadaan membuat proses tersebut tertunda. (AF)
