Ukraina resmi akan mengakuisisi 16 Rafale dari Prancis, mampukah merontokkan Su-35?
AAE, VKSAIRSPACE REVIEW – Ukraina resmi menyepakati rencana untuk mengakuisisi 16 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation dari Prancis, lengkap dengan paket sistem persenjataannya. Pengumuman penting ini disampaikan langsung oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam konferensi pers di Paris setelah mengadakan pertemuan dengan kelompok negara-negara pendukung Ukraina.
Langkah Kyiv menandai babak baru modernisasi militer Ukraina yang selama ini sangat bergantung pada armada pesawat era Uni Soviet.
Defense News pada Selasa (14/7) memberitakan, kesepakatan antara Presiden Macron dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak hanya mencakup jet tempur canggih. Kedua negara telah menyetujui peta jalan (roadmap) pertahanan yang komprehensif guna merespons serangan udara Rusia yang kian intensif.
Jet Tempur Hingga Lisensi Produksi Senjata
Tidak hanya mengakuisisi jet tempur Rafale, disebutkan bahwa poin-poin utama dalam kesepakatan pertahanan terbaru tersebut juga mencakup beberapa hal lainnya.
Pertama, pelatihan pilot Ukraina dijadwalkan akan dimulai dalam beberapa bulan ke depan, dengan target jet tempur pertama sudah mengudara di langit Ukraina pada tahun 2028 atau 2029.
Kedua, Prancis akan mengirimkan batch pertama sistem pertahanan udara SAMP/T NG (generasi baru), lengkap dengan rudal pencegat dan sistem radar tambahannya dalam beberapa minggu mendatang.
Baca Juga: Ukraina menyebut Prancis akan menyediakan sistem SAMP/T NG untuk mencegat rudal-rudal andalan Rusia
Ketiga, Prancis memberikan persetujuan bagi Ukraina untuk memproduksi sendiri amunisi canggih di dalam negeri melalui perjanjian lisensi. Ini mencakup perangkat bom pintar AASM glide-bomb kit, rudal pertahanan udara Aster 30, serta rudal penjelajah ikonik SCALP/Storm Shadow.
Celah Udara dan Koalisi Freyja
Seperti diberitakan sebelumnya, saat ini Ukraina menghadapi tantangan besar berupa kelangkaan rudal pencegat untuk menghalau ancaman rudal balistik Rusia. Masalah ini yang kemudian coba diatasi Macron lewat pasokan sistem antibalistik teranyar Prancis.
Selain kesepakatan bilateral dengan Prancis, Ukraina bersama sembilan negara mitra —termasuk Inggris, Jerman, dan Norwegia— telah membentuk koalisi baru bernama Freyja. Koalisi ini berfokus mengembangkan sistem pertahanan udara antibalistik canggih yang berpusat pada teknologi rudal interseptor dari perusahaan pertahanan Ukraina, Fire Point.
Kesepakatan 16 jet Rafale melengkapi upaya Ukraina sebelumnya pada Mei lalu di mana Kyiv menyetujui pembelian 20 jet tempur Gripen baru dari Swedia (ditambah donasi 16 model lama tahun depan), serta mulai mengoperasikan armada F-16 sumbangan Barat untuk menangkal serangan udara Rusia, termasuk drone kamikaze dan rudal jelajah.
Kesepakatan jangka panjang ini menunjukkan komitmen Ukraina untuk membangun kekuatan udara yang mandiri dan modern di masa depan.
Mampukan Hadapi Su-35 Rusia?
Salah satu bahasan menarik dari diumumkannya rencana akuisisi jet tempur Rafale dari Prancis oleh Ukraina, tentu saja adalah kemungkinan penggunaan jet tempur canggih Prancis ini untuk berhadapan langsung atau menghalau infiltrasi serangan udara oleh Su-35 Flanker-E maupun jet tempur Rusia lainnya.
Pertemuan kedua burung besi tersebut menjadi sangat menarik karena mewakili dua filosofi desain militer yang saling bertolak belakang antara efisiensi teknologi Barat dan kekuatan kinetik mentah Timur.
Secara filosofi rancang bangun, Su-35 adalah monster udara bertubuh bongsor yang mengandalkan kecepatan, jangkauan terbang, dan kelincahan ekstrem. Didukung oleh dua mesin dengan teknologi nozel yang bisa bergerak, Su-35 mampu melakukan manuver udara melawan gravitasi, yang secara teori akan menyulitkan lawannya jika pertempuran berlanjut pada jarak dekat atau metode dogfight.
Di sisi lain, Dassault Rafale mengusung konsep pesawat omnirole dengan ukuran medium serta desain sayap delta dan canard yang aerodinamis. Prancis merancang Rafale bukan untuk terlibat dalam manuver udara jarak dekat, melainkan untuk menyelesaikan pertempuran sebelum musuh banyak bertindak.
Lalu, siapa yang kira-kira lebih unggul? Tentu banyak faktor yang akan menjadi penentunya. Karena pertempurannya itu sendiri harus dibuktikan di dunia nyata, maka mari kita berandai-andai saja dengan berbasis beragam data yang disajikan oleh masing-masing pabrikan.
Analisis di Atas Kertas
Kehadiran Rafale di langit Eropa Timur dipastikan akan membawa perubahan pada kekuatan udara Ukraina. Pertemuan dengan Su-35, bila terjadi, bukan sekadar adu mekanik antarmesin, melainkan benturan dua filosofi militer yang sangat berbeda.
Rafale mewakili pendekatan Barat yang berfokus pada fleksibilitas, teknologi sensor canggih, dan dimensi pesawat sedang yang efisien. Di sisi lain, Su-35 mewakili doktrin Rusia yang menekankan pada dominasi udara mutlak melalui jet tempur kelas berat dengan jangkauan jauh, muatan senjata masif, dan kemampuan manuver kinetik yang ekstrem.
Perbedaan mendasar kedua pesawat ini terlihat jelas pada teknologi radar dan sistem deteksi yang diusung masing-masing kubu. Rafale mengandalkan radar RBE2 tipe AESA (Active Electronically Scanned Array) yang dipadukan dengan sistem pertahanan elektronik terintegrasi SPECTRA. Sistem ini memberikan keuntungan taktis berupa kemampuan melacak target secara senyap dengan risiko deteksi yang sangat rendah, sekaligus kemampuan mengacaukan radar lawan.
Sementara itu, Su-35 dipersenjatai dengan radar PESA (Passive Electronically Scanned Array) jenis Irbis-E yang sangat bertenaga. Meskipun teknologi PESA menghasilkan emisi sinyal yang lebih mudah diendus oleh sensor pasif lawan, radar Irbis-E memiliki keunggulan mutlak dalam hal daya pancar dan jangkauan deteksi mentah yang mampu mengunci target dari jarak yang sangat jauh. Hal ini memberikan Su-35 kesadaran situasional yang sangat luas di wilayah udara yang diperebutkan.
Peluang Keunggulan Pertempuran Jarak Jauh
Dalam skenario pertempuran jarak jauh atau Beyond Visual Range (BVR), kedua pesawat memiliki kartu as masing-masing yang sangat mematikan.
Rafale mengandalkan integrasi rudal Meteor berpendorong ramjet yang dikenal memiliki zona tanpa ampun (No-Escape Zone) sangat luas karena mampu mempertahankan kecepatan tinggi hingga akhir fase pengejaran.
Di kubu Rusia, Su-35 membalas ancaman tersebut dengan rudal R-37M yang memiliki jangkauan jelajah luar biasa hingga 300 km, jauh melampaui rata-rata rudal Barat.
Baca Juga: Su-35 terima rudal udara ke udara hipersonik paling jauh R-37M
Meskipun ukuran Rafale yang kecil dengan tanda radar (RCS) rendah serta dukungan SPECTRA dapat menyulitkan penguncian rudal Rusia, kecepatan supersonik dan hulu ledak besar dari rudal-rudal kelas berat Su-35 tetap menjadi ancaman konstan yang memaksa pilot Rafale untuk selalu waspada dan bermanuver defensif.
Ketika pertempuran bergeser ke jarak dekat atau dogfight seperti disinggung tadi, konstelasi kekuatan akan berubah secara signifikan dengan keunggulan Su-35. Super Flanker memiliki kemampuan manuver super yang memungkinkannya melakukan gerakan-gerakan ekstrem pascakehilangan daya angkat (post-stall).
Kemampuan ini memberikan pilot Rusia keunggulan posisi instan untuk mengarahkan moncong pesawat dan mengunci Rafale dalam duel visual jarak dekat.
Kendati doktrin udara modern saat ini lebih mengutamakan penyelesaian pertempuran BVR sebelum secara visual saling berhadapan, kemampuan manuver ekstrem Su-35 tetap menjadi kartu jaminan keselamatan dan keunggulan taktis yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Rafale yang mengandalkan konfigurasi sayap delta-canard konvensional.
Penguasaan Pesawat dan Dukungan Sistem Tempur
Perlu menjadi catatan juga bagi Ukraina, mengoperasikan armada jet tempur modern yang baru dari pabrikan, dan belum pernah dioperasikan Ukraina, menuntut investasi waktu, biaya logistik yang sangat besar, serta pelatihan kru darat dan pilot yang rumit di tengah situasi konflik yang masih aktif.
Pada akhirnya, efektivitas jet Rafale di medan laga tidak hanya ditentukan oleh keunggulan teknologinya, melainkan bagaimana Ukraina mampu mengintegrasikan aset baru yang terbatas ini ke dalam ekosistem tempur gabungan untuk menghadapi kuantitas armada Su-35 Rusia yang secara hitung-hitungan jauh lebih matang.
Peran pilot yang menguasai sistem pesawat dan persenjataannya, serta jam terbang yang tinggi, menjadi poin tersendiri dalam pertempuran udara, selain faktor-faktor pendukung vital lainnya.
Sekali lagi, semua ini hanya perhitungan di atas kertas. Bila kita umpamakan dengan pertandingan bola dalam Piala Dunia 2026 yang sedang jadi perhatian masyarakat dunia saat ini, tim-tim matang dari negara-negara unggulan secara teori dipastikan sejak awal akan melenggang ke babak semifinal hingga final. Namun demikian, toh ada juga negara-negara yang diunggulkan, malah harus pulang lebih cepat karena kalah dari negara yang tidak diunggulkan. (RNS)
