Tak berhenti di F-35, Singapura mulai ancang-ancang gabung proyek GCAP

GCAPEdgewing
Rendering jet tempur generasi keenam GCAP.

AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Singapura dilaporkan telah memulai diskusi tahap awal mengenai potensi keterlibatan mereka dalam program pengembangan jet tempur masa depan, Global Combat Air Programme (GCAP). Informasi ini diperoleh dari sumber yang mengetahui dekat dengan isu tersebut, sebagaimana dilaporkan media pertahanan Janes.

Kendati demikian, pembicaraan ini masih berada pada tahap eksplorasi. Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi yang diambil oleh Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) untuk bergabung secara formal sebagai peserta dalam program trilateral tersebut.

Sinyal Resmi Pertama Singapura

Meski masih sebatas penjajakan awal, perkembangan ini menjadi sinyal resmi pertama bahwa Singapura sedang mempelajari secara serius peluang kemitraan dengan GCAP.

Program yang diprakarsai oleh Inggris, Jepang, dan Italia ini bertujuan untuk menghadirkan kemampuan tempur udara generasi berikutnya (jet tempur generasi keenam) yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2035.

Baca Juga: Kanada memberi isyarat akan bergabung dengan program jet tempur generasi keenam GCAP

GCAP menggabungkan kemitraan strategis antara pemerintah dan industri pertahanan utama dari ketiga negara tersebut.

Saat ini, GCAP dinilai sebagai salah satu dari dua inisiatif utama jet tempur generasi keenam di dunia, bersanding dengan proyek Next Generation Air Dominance (NGAD) Boeing F-47 Amerika Serikat.

Ekosistem Tempur Canggih

Secara teknis, rincian detail mengenai airframe (rangka pesawat) yang akan diproduksi masih cukup terbatas. Namun, model konsep yang telah dipamerkan oleh para mitra GCAP di berbagai ajang pameran kedirgantaraan internasional memperlihatkan desain dengan ekor ganda miring (canted twin tails), tata letak blended wing-body yang lebar, serta penggunaan mesin ganda (twin-engine).

Lebih dari sekadar menciptakan pesawat tempur berawak, proyek GCAP dirancang untuk menghadirkan ekosistem tempur udara yang jauh lebih luas. Sistem ini akan mengintegrasikan sensor canggih, teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta kemampuan untuk beroperasi secara terintegrasi bersama sistem otonom maupun pesawat nirawak (unmanned systems).

Strategi Pertahanan Khas Singapura

Penjajakan awal ini sangat sejalan dengan pendekatan jangka panjang MINDEF dalam hal pengadaan alutsista utama.

Alih-alih langsung berkomitmen pada tahap awal suatu program, MINDEF secara historis selalu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengevaluasi kesiapan teknologi, peluang industri dalam negeri, serta implikasi strategis jangka panjang sebelum mengambil keputusan pengadaan.

Pendekatan hati-hati dan terukur ini sebelumnya juga diterapkan Singapura saat menentukan peta jalan akuisisi jet tempur F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin.

Rekam Jejak Akuisisi F-35 Singapura

Sedikit meninjau ke belakang, komitmen Singapura terhadap jet tempur F-35 diawali melalui proses evaluasi ketat yang memakan waktu lama. Pada Maret 2020, Singapura secara resmi menandatangani kontrak tahap awal untuk membeli empat unit varian F-35B —versi yang mampu lepas landas dari jarak pendek dan mendarat secara vertikal (Short Take-Off and Vertical Landing/STOVL)— lengkap dengan opsi penambahan delapan unit lagi.

Opsi tersebut kemudian dieksekusi oleh MINDEF pada Februari 2023 setelah melihat kematangan teknologi serta kesiapan ekosistem operasional F-35B.

Tak berhenti di situ, pada Februari 2024, Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen mengumumkan keputusan strategis untuk memperkuat armada militer mereka dengan menambah pesanan delapan unit varian F-35A.

Baca Juga: Polandia siap bergabung dengan klub elite GCAP: Era baru jet tempur berbasis AI

Varian pendaratan konvensional (Conventional Take-Off and Landing/CTOL) ini dipilih karena memiliki kapasitas muatan senjata yang lebih besar serta jarak jelajah (endurance) yang lebih jauh, sehingga menjadi pelengkap ideal bagi kelincahan taktis varian F-35B di wilayah udara Singapura yang terbatas.

Melalui kombinasi 12 unit F-35B dan 8 unit F-35A dengan total armada 20 unit, Singapura memproyeksikan pengiriman perdana jet F-35B pada akhir 2026 dan varian F-35A sekitar tahun 2030.

Penambahan bertahap ini dirancang untuk menggantikan peran jet tempur F-16C/D yang akan dipensiunkan secara bertahap pada pertengahan 2030-an. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *