Perketat aturan: Trump larang kontraktor militer AS gunakan bahan baku dari China

F-35A pertama pesanan Finlandia telah selesai dirakitLockheed Martin

AIRSPACE REVIEW – Presiden Donald Trump resmi menandatangani Perintah Eksekutif (Executive Order) yang memperketat aturan bagi kontraktor pertahanan AS agar tidak lagi membeli bahan baku kritis maupun komponen dari negara-negara yang dianggap sebagai ancaman geopolitik, khususnya China.

Langkah drastis ini diambil untuk memutus ketergantungan industri militernya dari negara rival.

Selama bertahun-tahun, meskipun terdapat undang-undang yang melarang penggunaan material sensitif dari negara lawan, para kontraktor senjata AS kerap memanfaatkan celah pembebasan khusus (waiver) untuk tetap mengimpor bahan murah atau sulit didapat dari China.

Aturan yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2027 ini memuat sejumlah hal, termasuk aturan utama yang bakal menyulitkan produsen pertahanan AS.

Poin-Poin Kunci Aturan Baru

  • Pengecualian (Waiver) Diperketat: Departemen Perang AS tidak akan lagi memberikan pembebasan secara otomatis. Kontraktor yang mengajukan dispensasi wajib menyertakan rencana mitigasi konkret, membuktikan telah mengeksplorasi seluruh pemasok domestik, serta menetapkan tenggat waktu yang jelas untuk menghapus material non-standar dari rantai pasok mereka.
  • Audit Rantai Pasok Total (Indentured Bill of Materials): Dalam jangka waktu 180 hari, regulasi baru mewajibkan setiap kontraktor utama hingga sub-kontraktor level terbawah melacak rekam jejak digital dan fisik dari setiap baut, komponen elektronik, perangkat lunak, hingga bahan mentah yang digunakan pada sistem persenjataan AS.
  • Sanksi Kriminal Bagi Pelanggar: Kontraktor yang terbukti memberikan informasi palsu, mengabaikan aturan, atau gagal menjalankan rencana koreksi tidak hanya berisiko kehilangan kontrak bernilai miliaran dolar, tetapi juga dapat dirujuk ke Jaksa Agung (Attorney General) untuk penyelidikan pidana.
  • Pengecualian Terbatas (Project Vault): Aturan ketat ini memberi pengecualian bagi Project Vault (Cadangan Mineral Kritis Strategis AS) serta proyek yang didanai langsung oleh lembaga pemerintah tertentu untuk menjamin ketersediaan pasokan darurat.

Hilangkan Dominasi China

Langkah drastis ini diambil menyusul ketatnya dominasi China dalam pengolahan mineral tanah jarang, seperti neodimium yang menjadi komponen vital pada magnet sistem radar dan rudal pemandu presisi.

Ketika Beijing mulai memperketat aturan ekspor mineral tersebut, Pentagon menyadari betapa rentannya industri pertahanan mereka. Penasihat Gedung Putih, Peter Navarro, menegaskan bahwa rantai pasok yang melintasi negara lawan bukan sekadar detail akuntansi, melainkan kerentanan strategis yang sangat berbahaya bagi keselamatan nasional.

Pentingnya keterbukaan rantai pasok ini juga diamini oleh para pakar keamanan siber. Joe Saunders, pendiri dan CEO RunSafe Security (perusahaan yang melindungi sistem kontrol militer AS), menyatakan bahwa Amerika tidak akan pernah bisa mengamankan sistem pertahanannya tanpa mengetahui secara pasti dari mana setiap komponen berasal, termasuk perangkat lunaknya.

Menurut Saunders, pemetaan rantai pasok harus melampaui formalitas kertas kerja agar militer mampu mendeteksi celah keamanan lebih awal, mengurangi ketergantungan pada sumber yang tidak terpercaya, dan memperkuat perangkat lunak kritis sebelum sempat dieksploitasi oleh musuh.

Baca Juga: AS akan cari sumber pemasok baru komponen magnet untuk F-35 selain China

Keputusan tegas ini hadir di tengah tingginya tensi geopolitik, saat AS masih terlibat dalam operasi militer aktif melawan Iran yang menuntut kelancaran pasokan material tempur tanpa hambatan.

Perintah eksekutif ini sekaligus melengkapi serangkaian kebijakan Trump sebelumnya dalam memodernisasi pengadaan pertahanan dan mengamankan pasokan mineral kritis, seperti pembentukan cadangan mineral strategis melalui Project Vault.

Rangkaian kebijakan ini menegaskan satu pertaruhan besar Gedung Putih bahwa kemenangan dalam konflik masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang merancang rudal paling canggih, melainkan siapa yang masih memiliki akses bahan baku untuk terus memproduksinya ketika perang berkecamuk.

Menutup Celah Embargo China

Memanfaatkan sumber daya negara lain demi menghemat cadangan sendiri secara teori terdengar seperti strategi jangka panjang yang cerdas. Namun, dalam kacamata keamanan nasional dan industri pertahanan Amerika Serikat, pola pikir ini menyimpan celah fatal. Mengandalkan pasokan bahan baku kritis dari negara rival seperti China tidak lagi dianggap sebagai penghematan, melainkan ancaman nyata yang dapat melumpuhkan kekuatan militer AS sewaktu-waktu.

Ancaman terbesar dari ketergantungan ini adalah risiko embargo geopolitik secara mendadak saat konflik pecah. Memiliki pabrik senjata tercanggih sekalipun menjadi tidak berguna jika China menghentikan ekspor mineral penting, yang seketika menghentikan produksi rudal hingga radar baru.

Baca Juga: Radar Galium Oksida China: Ancaman nyata bagi supremasi F-35

Selain itu, kebiasaan membeli bahan jadi yang murah selama puluhan tahun telah mematikan industri pengolahan lokal di AS, membuat mereka kehilangan teknologi, fasilitas, dan tenaga ahli internal yang butuh waktu hingga satu dekade untuk dibangun kembali dari nol.

Tak kalah berbahaya, impor bahan olahan dan komponen dari negara rival membuka ruang bagi risiko sabotase serta kerentanan rantai pasok. Sangat sulit menjamin keutuhan komponen impor dari ancaman cip implan berisi backdoor untuk spionase maupun penyelipan bahan berkualitas rendah yang sengaja dirancang cacat. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *