Radar Galium Oksida China: Ancaman nyata bagi supremasi F-35

KJ-3000Via X

AIRSPACE REVIEW – China dilaporkan tengah melakukan lompatan teknologi radar yang dapat mengubah peta kekuatan udara global secara drastis. Setelah sukses mendominasi teknologi Gallium Nitride (GaN) yang kini menjadi standar emas dunia, para ilmuwan Tiongkok kini beralih ke material semikonduktor generasi berikutnya, yaitu Gallium Oxide (Ga2O3).

Teknologi ini diklaim mampu menciptakan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) yang 40% lebih kuat, lebih kompak, dan lebih tahan terhadap gangguan frekuensi tinggi dibandingkan teknologi yang digunakan pada jet tempur Barat saat ini.

Selama ini, GaN dianggap sebagai puncak teknologi radar karena mampu menangani daya jauh lebih besar daripada pendahulunya.

Namun, GaN mulai mendekati batas fisik dalam hal pembuangan panas pada frekuensi tinggi. Galium Oksida muncul sebagai solusi radikal karena memiliki bandgap yang lebih lebar, yakni 4.9 eV dibandingkan GaN yang hanya 3.4 eV.

Energi yang lebih tinggi ini memungkinkan komponen radar beroperasi pada tegangan jauh lebih tinggi namun tetap dalam ukuran yang sangat ringkas, memberikan daya jangkau deteksi yang sebelumnya dianggap mustahil.

Di tengah tekanan kontrol ekspor dari Departemen Perdagangan AS, China justru mempercepat industrialisasi lokal.

Universitas Zhejiang dan MIG Semiconductor di Beijing telah mengumumkan pembangunan lini produksi terintegrasi, mulai dari pertumbuhan kristal hingga inspeksi akhir.

Langkah ini menunjukkan ambisi Tiongkok untuk menciptakan rantai pasokan yang sepenuhnya mandiri.

Dengan memproduksi wafer empat inci secara massal, Beijing berusaha menghindari dampak sanksi Barat yang mencoba membatasi akses mereka ke semikonduktor canggih.

Secara operasional, radar berbasis oksida galium ini dapat mengubah jet tempur China menjadi “menara pengawas terbang” yang mematikan.

Peningkatan daya pancar radar memungkinkan pesawat mendeteksi target dengan Radar Cross Section (RCS) yang sangat kecil, seperti pada F-35 dan F-22, dari jarak yang sangat jauh.

Jika radar seperti pada pesawat KJ-3000 benar-benar mampu mendeteksi jet siluman hingga radius 600 km, maka doktrin tempur AS yang mengandalkan kemampuan siluman pasif sebagai perisai utama akan terancam netral.

Dominasi Tiongkok dalam rantai pasok global galium memberikan keuntungan strategis yang tidak dimiliki negara Barat.

Dengan menguasai lebih dari 90% produksi galium olahan dunia, Beijing memiliki kendali penuh atas harga dan ketersediaan bahan baku.

Situasi ini menciptakan dilema bagi Pentagon; sementara mereka mencoba membatasi teknologi ke Tiongkok, mereka sendiri sangat bergantung pada material mentah dari Tiongkok untuk membangun armada F-35.

Ketidakseimbangan ini dapat memperlambat modernisasi radar Barat sementara Tiongkok melaju kencang dengan sumber daya domestik yang melimpah.

Kemajuan ini tidak hanya soal jangkauan, tetapi juga ketahanan terhadap gangguan (jamming). Radar berbasis oksida galium mampu beroperasi pada frekuensi tinggi dengan stabilitas yang lebih baik, sehingga sangat sulit untuk dikacaukan oleh sistem peperangan elektronik lawan. (RNS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *