Guncang dominasi AS, China diprediksi miliki 1.000 jet tempur siluman J-20 pada 2030

Jet tempur J-20 Mighty Dragon ChinaPLAAF
Jet tempur J-20 Mighty Dragon China.

AIRSPACE REVIEW – Peta kekuatan udara global bersiap menghadapi pergeseran radikal. China kini diprediksi miliki 1.000 jet siluman J-20 Mighty Dragon dalam jajaran armadanya pada 2030, sebuah lompatan masif yang siap guncang dominasi AS di langit internasional.

Estimasi ini mencuat berdasarkan analisis terbaru dari berbagai pusat studi strategis dan pakar penerbangan militer dunia. Saat ini, Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) diperkirakan telah mengoperasikan sekitar 500 unit jet tempur Chengdu J-20.

Jika ritme manufaktur massal yang agresif ini terus dipertahankan hingga akhir dekade, keseimbangan militer di kawasan Indo-Pasifik dipastikan berubah total.

Membalikkan Keunggulan Kuantitas

Proyeksi pertumbuhan ini terbilang tanpa tanding untuk program jet tempur generasi kelima. Langkah berani Beijing ini secara langsung menantang AS dalam segmen pesawat yang didedikasikan untuk superioritas udara murni.

Sebagai perbandingan, AS telah menutup jalur produksi jet tempur Lockheed Martin F-22 Raptor sejak tahun 2011 setelah hanya memproduksi 195 unit saja. Sementara AS memilih fokus pada program lain, Chengdu Aircraft Corporation (CAC) di China justru terus memperluas kapasitas industri dan otomatisasi lini perakitannya.

Melalui pemantauan citra satelit di fasilitas pabrikan China, para pengamat memperkirakan bahwa kapasitas produksi tahunan J-20 saat ini telah menembus angka 100 hingga 120 pesawat. Dengan penguatan rantai pasok domestik, China mengombinasikan kualitas teknologi tinggi dengan jumlah (volume) yang sangat besar. Ini merupakan sebuah kemampuan manufaktur skala raksasa yang sulit ditandingi oleh program militer Barat saat ini.

Kemandirian dan Evolusi Teknologi

Lompatan kuantitas China ini juga diiringi oleh lompatan teknologi yang masif. Pada versi-versi awal, J-20 masih bergantung pada mesin AL-31F buatan Rusia. Namun saat ini, mayoritas armada J-20 telah beralih menggunakan mesin domestik buatan China sendiri, yaitu WS-10C.

Lebih jauh lagi, China mulai memperkenalkan mesin generasi terbaru mereka, WS-15. Mesin baru ini menjanjikan kekuatan dorong (thrust) yang lebih besar, efisiensi bahan bakar yang lebih baik, serta kemampuan supercruise sejati —fitur krusial yang memungkinkan jet tempur terbang dengan kecepatan supersonik tanpa perlu menyalakan afterburner yang boros bahan bakar.

Baca Juga: J-20B gunakan mesin baru WS-15 yang lebih kuat dan efisien dibandingkan mesin lama WS-10C

Selain urusan dapur pacu, varian-varian baru J-20 juga terus bermunculan. J-20A mengintegrasikan penyempurnaan pada struktur badan pesawat dan sistem elektronik yang lebih modern.

Sementara J-20S, varian berkursi tandem (two-seater) pertama di dunia untuk jet siluman, menjadi bagian penting dari taktik masa depan. Berbeda dengan pilot yang duduk di kursi depan, kru kedua bertindak sebagai manajer pertempuran untuk mengoordinasikan drone tempur pendamping (loyal wingman) serta mengendalikan misi perang elektronik yang kompleks.

F-22 vs J-20: Serupa tapi Tak Sama

Ketika dibandingkan, F-22 milik AS dan J-20 milik China sejatinya memiliki sejumlah persamaan mendasar sebagai jet tempur generasi kelima. Kedua jet didesain sebagai pemburu jarak jauh guna menghancurkan target udara sebelum musuh menyadari kehadiran mereka.

Raptor mengandalkan rudal AIM-120 AMRAAM, sementara J-20 mengandalkan rudal PL-15, di mana rudal-rudal tersebut disimpan di masing-masing rak internal pesawat agar jejak radar (Radar Cross Section) tetap minim.

Kedua jet tersebut dibekali radar AESA canggih dan sensor terintegrasi untuk mengumpulkan serta membagikan data pertempuran secara instan demi mengeksekusi taktik First Look, First Shot, First Kill.

Baca Juga: USAF belum akan menyuntik mati semua jet F-22, 140 unit Raptor bahkan akan di-upgrade dari Blok 20 ke Blok 30 yang lebih canggih

Kemudian, keduanya juga dirancang untuk dapat terbang di kecepatan supersonik tanpa bantuan afterburner. F-22 sudah lama memilikinya, dan J-20 kini mengejarnya secara penuh melalui integrasi mesin WS-15.

Kendati serupa, kedua jet dari dua negara adidaya dunia ini dioptimalkan untuk skenario operasional yang berbeda. F-22 Amerika dirancang sebagai platform superioritas udara murni yang sangat lincah berkat teknologi thrust vectoring, yang berfungsi sebagai jaring pengaman jika pertempuran BVR terpaksa berlanjut ke duel jarak dekat (dogfight).

Di sisi lain, J-20 China memiliki dimensi lebih besar dan kapasitas bahan bakar masif untuk mengejar daya jelajah operasional yang luas. Karakteristik ini membuat J-20 lebih condong berperan sebagai pencegat strategis dalam doktrin “penolakan akses” (Anti-Access/Area Denial atau A2/AD), termasuk memburu aset-aset pembeda milik lawan seperti pesawat tanker dan AWACS di wilayah laut lepas.

Ancaman Nyata 1.300 Jet Siluman

Tekanan terhadap Pentagon dan sekutunya di Indo-Pasifik dipastikan akan semakin melipat ganda. Selain mempercepat produksi J-20, China saat ini juga tengah menggenjot pengembangan jet tempur siluman kedua mereka, J-35, yang ditujukan untuk memperkuat armada kapal induk maupun angkatan udara mereka.

Jika program J-20 dan J-35 digabungkan, China berpotensi mengoperasikan lebih dari 1.300 pesawat siluman generasi kelima pada akhir dekade ini, seperti telah diprediksi di awal.

Baca Juga: Peta kekuatan udara bergeser: J-20 China kini lebih banyak dari F-35A Amerika

Pengalaman berharga dalam mengelola produksi massal J-20 ini kini menjadi fondasi kuat bagi Beijing untuk mempercepat proyek jet tempur generasi keenam mereka di masa depan.

Prediksi di atas bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah realitas industri militer yang sedang berjalan dengan kecepatan penuh untuk mengubah hegemoni udara dunia.

Gurita Militer, Dari Laut Hingga Senjata Luar Angkasa

Akselerasi masif Beijing dalam memproduksi jet tempur siluman generasi kelima secara massal, baik J-20 maupun J-35, nyatanya bukanlah satu-satunya langkah yang sedang ditempuh. Di balik modernisasi kekuatan udara yang mencengangkan ini, China juga menerapkan strategi serupa di seluruh lini pertahanan mereka. Langkah ini memperlihatkan bahwa ambisi Beijing tidak terbatas pada supremasi ruang udara semata, melainkan sebuah transformasi militer menyeluruh.

Di matra laut dan darat, agresivitas China terlihat sangat nyata dan terukur. Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) terus memperluas tonase dan meluncurkan kapal-kapal perang canggih termasuk armada kapal induk modern dalam waktu relatif singkat, menjadikannya salah satu kekuatan maritim dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Sementara di matra darat, modernisasi artileri berat, sistem rudal taktis, serta integrasi kendaraan tempur nirawak berbasis kecerdasan buatan terus digenjot demi memastikan dominasi penuh di medan tempur konvensional.

Tidak berhenti di permukaan Bumi, poros kekuatan Beijing kini telah menembus batas atmosfer. Sektor pertahanan antariksa menjadi panggung baru yang memperlihatkan lompatan teknologi paling radikal dari China. Belum lama ini, Amerika Serikat bahkan dibuat cemas setelah secara terbuka mengakui bahwa perkembangan proyek persenjataan luar angkasa milik Beijing melaju dalam ritme yang sangat mencengangkan dan di luar prediksi Barat.

Baca Juga: Senjata luar angkasa China disorot, jenderal AS di depan Senat: Kemajuannya mencengangkan!

Dari pengujian kemampuan anti-satelit, pengembangan wahana antariksa berkemampuan ganda, hingga adopsi teknologi mutakhir di orbit bumi, China secara de facto telah mengubah ruang angkasa menjadi domain pertahanan yang strategis.

Pada akhirnya, ribuan jet siluman J-20 dan J-35 yang bersiap mengudara di akhir dekade ini hanyalah satu dari sekian banyak bidak catur yang disiapkan Beijing untuk menantang, dan siap menggeser, poros kekuatan militer global yang selama ini dipegang oleh Washington. Persaingan dua kutub semakin menarik. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *