Boncos di Ukraina, tank Leopard dan Challenger jadi korban keganasan rudal Kornet Rusia

Rudal Antitank 9M133 Kornet RusiaMil.ru
Rudal Antitank 9M133 Kornet Rusia.

AIRSPACE REVIEW – Perusahaan pertahanan negara Rusia, Rostec, melalui anak perusahaannya, High Precision Systems holding, melaporkan kembali pengiriman gelombang baru sistem rudal pandu antitank (Anti-Tank Guided Missile/ATGM) 9M133 Kornet (NATO: AT-14 Spriggan) ke medan laga.

Pengiriman batch terbaru yang mencakup rudal beserta peluncur jarak jauh (remote launcher) ini ditujukan untuk memperkuat intensitas operasi pasukan Rusia di garis depan.

Langkah ini mempertegas posisi Kornet sebagai salah satu alutsista yang paling masif dan mematikan dalam inventaris militer Rusia. Keberadaannya menjelma menjadi momok menakutkan bagi kendaraan tempur canggih pasokan negara-negara Barat.

Dalam rilis resminya, Rostec menyatakan bahwa Kornet terbukti efektif melumpuhkan berbagai alutsista kelas berat milik musuh, mulai dari tank Leopard buatan Jerman, tank Challenger buatan Inggris, hingga kendaraan tempur infanteri (IFV) Bradley rancangan Amerika Serikat.

“Sistem ini bukan tanpa alasan menjadi salah satu yang paling diburu dan diandalkan oleh militer. Kornet menggabungkan akurasi tinggi, keandalan, serta daya hancur yang luar biasa,” ujar Bekkhan Ozdoyev, Direktur Industri Klaster Persenjataan Rostec.

Runtuhnya Mitos Kehebatan Tank Barat

Klaim kehebatan Kornet bukan sekadar propaganda di atas kertas. Di medan tempur Ukraina, reputasi tank-tank legendaris Barat yang awalnya digadang-gadang tidak dapat ditembus justru runtuh satu per satu.

Tank tempur utama (MBT) Challenger 2 kiriman Inggris yang terkenal dengan lapisan baja komposit Chobham/Dorchester sangat tebal, terbukti jebol di garis depan. Otoritas pertahanan dan rekaman medan tempur mengonfirmasi hilangnya tank Challenger 2 akibat hantaman rudal Kornet yang diluncurkan oleh pasukan Rusia. Senjata antitank Rusia ini secara efektif menetralisir pertahanan tangguh monster Inggris tersebut.

Baca Juga: Rusia: Ukraina kehilangan empat tank Leopard 2 dan 40 APC dalam waktu enam hari

Begitu pula dengan MBT Leopard 2 buatan Jerman. Sejak diterjunkan dalam operasi ofensif Ukraina, sejumlah tank Leopard dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga hancur total setelah menjadi sasaran empuk operator ATGM Kornet di sektor wilayah Zaporizhzhia dan sekitarnya.

Laporan intelijen pertahanan mencatat bahwa sistem rudal Kornet telah mencetak ribuan confirmed kills (hancuran yang terkonfirmasi) terhadap berbagai aset mekanis, kendaraan lapis baja, dan kendaraan tempur infanteri Bradley milik militer Ukraina.

Menembus Armor Dinamis dari Jarak Jauh

Literatur menyebut, daya mematikan Kornet terletak pada kombinasi cerdas antara sistem pemandu, fleksibilitas peluncuran, dan daya hancur hulu ledaknya. Dengan sistem pemandu Laser Beam Riding, operator mengarahkan pembidik laser ke target, dan rudal akan otomatis terbang mengikuti jalur laser tersebut hingga benturan.

Uniknya, sensor penerima laser pada rudal menghadap ke belakang (ke arah peluncur, bukan ke target). Hal ini membuat sistem pertahanan elektronik atau jammer pada tank musuh tidak bisa mendeteksi maupun mengacaukan arah datangnya rudal.

Kornet dirancang khusus untuk menghadapi tank modern yang dilapisi Explosive Reactive Armor (ERA/baja dinamis). Rudal ini memiliki dua lapisan hulu ledak (tandem) di mana ledakan pertama berfungsi memicu dan menghancurkan lapisan ERA, sementara detonasi kedua yang berukuran sangat besar akan menembus baja utama tank.

Rudal antitank ini mampu menembus lapisan baja Rolled Homogeneous Armor (RHA) setebal 1.000 hingga 1.300 mm pasca-ERA.

Pada varian terbarunya, operator dapat mengendalikan peluncuran dari jarak aman menggunakan remote pengendali. Fitur ini memungkinkan personel tetap berada di dalam bunker atau tempat berlindung, terpisah dari posisi fisik peluncur rudal, sehingga meningkatkan keselamatan prajurit secara signifikan.

Penggunaan yang Fleksibel

Penggunaan rudal Kornet sangat fleksibel dan serbaguna (versatile). Selain bisa digendong oleh pasukan infanteri menggunakan tripod, sistem ini dapat dipasang pada berbagai kendaraan taktis ringan seperti mobil jip, kendaraan buggy, ATV, hingga diintegrasikan pada ranpur lapis baja berat.

Baca Juga: Rusia kerahkan Marker UGV dengan rudal antitank Kornet untuk lawan tank Eropa/AS di Ukraina

Selain hulu ledak antitank, rudal Kornet dapat dipersenjatai dengan hulu ledak termobarik untuk menyapu bersih benteng, pos komando, dan target bergerak berukuran kecil. Menurut Ozdoyev, fleksibilitas ini bahkan membuat Kornet sangat efektif untuk menembak jatuh drone atau kendaraan udara nirawak (UAV) musuh.

Varian modern seperti Kornet-EM mampu menjangkau target hingga jarak 8 hingga 10 km dengan akurasi tinggi.

Digunakan di Berbagai Belahan Dunia

Keandalan yang teruji di berbagai medan konflik membuat Kornet menjadi salah satu komoditas ekspor militer Rusia yang paling laris di pasar global. Saat ini, rudal tersebut digunakan secara resmi oleh puluhan negara.

Di Rusia dan Eropa Timur, Kornet digunakan secara masif oleh Angkatan Bersenjata Rusia sebagai pengguna utama, serta negara tetangga seperti Armenia dan Azerbaijan. Turkiye, yang merupakan anggota NATO, juga membeli sistem ini.

Di Timur Tengah dan Afrika, rudal Kornet menjadi andalan di Aljazair, Suriah, Irak, Iran, Yordania, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Mesir.

Sementara di Asia dan Amerika Latin, Kornet digunakan oleh India, Vietnam, Peru, dan Venezuela.

Yang menarik, aktor non-negara juga mengandalkan Kornet sebagai senjata untuk melahap kendaraan-kendaraan lapis baja musuh. Reputasi tempur Kornet pertama kali mengguncang dunia internasional dalam Perang Lebanon tahun 2006, ketika milisi Hizbullah berhasil memanfaatkan rudal ini untuk melumpuhkan puluhan tank Merkava Israel yang terkenal memiliki proteksi sangat tebal.

Selain Hizbullah, kelompok milisi lain seperti Hamas di Gaza juga dilaporkan mengoperasikan sistem ini dari jalur penyelundupan.

Pengembangan Terus Berlanjut

Dengan rekam jejak penghancuran ribuan kendaraan tempur di berbagai palagan, pasokan gelombang terbaru dari Rostec ini memastikan bahwa Kornet akan terus memegang peran sentral dalam mematahkan strategi kavaleri berlapis baja Barat di masa depan.

Baca Juga: Kh-BPLA, reinkarnasi rudal Kornet Rusia: Senjata presisi ringan udara ke darat untuk drone MALE

Berbagai pembuktian di medan tempur modern, mendorong pengembangan rudal Kornet tidak akan berhenti sampai di sini. Rostec bersama KBP Instrument Design Bureau terus menggulirkan pembaruan berbasis data tempur aktual, baik dari segi peningkatan jangkauan, modernisasi sistem pelacak laser, hingga otomatisasi sistem kendali yang semakin memanjakan operator.

Melalui komitmen pembaruan yang berkelanjutan ini, Kornet dipastikan akan tetap tegak berdiri sebagai alutsista andalan utama dan tulang punggung pasukan darat dalam mematahkan setiap ofensif serta melumat formasi kendaraan tempur lapis baja milik musuh di masa depan.

Bagi publik awam, nama Kornet lebih terbayangkan sebagai daging sapi yang diawetkan (corned beef) dalam air garam dan kemudian dimasak dengan cara direbus. Tentu saja enak. Tapi dalam dunia militer, Kornet lebih mengerikan karena ini adalah jenis senjata antitank, penghancur kendaraan lapis baja. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Chimpunk berkata:

    Mana ada tank yang gak boncos di Russia? dari mogok kelebihan beban macam tank obesitas barat sampe turet terbang ala tank Russia?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *