Tebus kegagalan Proyek Mosquito, Inggris luncurkan program loyal wingman Storm Fighter

Konsep Storm Fighter dari BAE SystemsBAE Systems
Konsep Storm Fighter dari BAE Systems.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Inggris (RAF) resmi memperkenalkan program militer baru bernama Storm Fighter. Program ini berfokus pada pengembangan Collaborative Combat Aircraft (CCA) atau yang populer dikenal sebagai “Loyal Wingman”, yaitu drone otonom bersenjata yang dirancang khusus untuk terbang dan bertempur berdampingan dengan jet tempur berawak.

Langkah ini menandai kembalinya ambisi besar Inggris untuk menguasai teknologi udara otonom, sekaligus menjadi upaya nyata untuk menebus kegagalan proyek serupa sebelumnya, Project Mosquito, yang dihentikan secara tiba-tiba sebelum sempat mengudara.

Mengapa Project Mosquito Dulu Gagal?

Sebelum melangkah ke Storm Fighter, Inggris sempat menaruh harapan besar pada Proyek Mosquito di bawah inisiatif LANCA (Lightweight Affordable Novel Combat Aircraft).

Kontrak sempat diberikan kepada Spirit AeroSystems dengan target menerbangkan prototipe fisik pada tahun 2023. Namun, pada Juni 2022, Kementerian Pertahanan Inggris resmi membatalkan proyek tersebut.

Pelajaran pahit dari kegagalan Mosquito menjadi landasan penting bagi militer Inggris hari ini. Anggaran awal sekitar 41 juta USD dinilai terlalu minim untuk ambisi yang terlampau rumit.

Namun di sisi lain, jika biaya produksinya membengkak, drone tersebut kehilangan marwahnya sebagai platform “murah” yang siap dikorbankan di medan tempur.

Desain Mosquito dianggap terlalu kompleks, sehingga membuat proyek tersebut terjebak dalam fase pengembangan bertahun-tahun tanpa hasil nyata. Padahal, RAF membutuhkan solusi taktis yang bisa segera diterjunkan ke medan tempur.

Hasil evaluasi kemudian menyimpulkan bahwa RAF bisa mendapatkan efisiensi tempur yang lebih baik melalui portofolio drone yang lebih kecil, lebih murah, dan jauh lebih cepat diproduksi secara massal.

Storm Fighter, Andalan Masa Depan

Belajar dari kegagalan fatal Project Mosquito tadi, RAF kini menerapkan aturan main baru yang sangat keras dan realistis pada Storm Fighter. Mereka menolak keras proyek yang over-engineered dan memakan biaya selangit.

Seorang pejabat tinggi RAF menegaskan filosofi baru ini dengan menekankan pada kebutuhan drone loyal wingman yang murah, bagus, bisa diproduksi dengan cepat, dan dirpoduksi dalam jumlah yang banyak.

“Kita membutuhkan mereka dalam jumlah yang banyak. Jika Anda membuat drone pendamping yang memakan waktu pembuatan hingga 70% dari waktu pembuatan jet tempur F-35 dan biayanya mencapai 75%-nya, maka robek saja rencana program CCA Anda dan mulailah lagi dari awal,” ujar pejabat yang tidak disebtukan namanya tersebut.

Melalui Storm Fighter, Inggris ingin memastikan bahwa loyal wingman yang dihasilkan benar-benar efisien, baik secara taktis di udara maupun secara angka di atas kertas anggaran, sehingga bisa menjadi andalan di masa depan.

Malaikat Pelindung dan Anjing Penyerang

Luke Pollard, Menteri Kesiapan Pertahanan dan Industri Inggris, menyatakan bahwa medan perang masa depan akan dipenuhi oleh kawanan drone (drone swarms), jet generasi keenam, dan kemampuan perang elektronik (EW) yang terus berevolusi secara masif.

Di tengah badai pertempuran modern inilah Storm Fighter akan diterjunkan dengan memikul dua peran utama.

Pertama, sebagai “Guardian Angel” (Malaikat Pelindung) yang bertugas mengawal jet berawak, mengalihkan perhatian pertahanan udara musuh, dan melakukan misi pengintaian dan gangguan elektronik.

Baca Juga: Pertama kali, RAF Typhoon gunakan rudal Storm Shadow dalam perang

Kedua, sebagai “Attack Dog” (Anjing Penyerang) yang fungsinya merupakan kepanjangan tangan bersenjata pesawat tempur berawak untuk menghantam target udara maupun darat.

    Drone otonom ini dirancang untuk beroperasi penuh mendampingi jet tempur andalan Inggris saat ini, seperti Eurofighter Typhoon dan jet siluman F-35, sebelum nantinya berintegrasi dengan jet tempur generasi keenam masa depan mereka, Tempest.

    Program Storm Fighter ini disokong oleh pendanaan awal sebesar 406 juta USD (sekitar Rp6,5 triliun), yang ditarik dari Paket Investasi Pertahanan (DIP) Inggris bernilai total 6,6 miliar USD (sekitar 102,3 triliun) untuk empat tahun ke depan.

    Raksasa Pertahanan Mulai Berebut Kontrak

    Meskipun spesifikasi teknis formalnya belum dirilis ke publik, para pemain besar industri pertahanan global dilaporkan sudah bersiap memperebutkan kontrak prestisius ini.

    BAE Systems sebagai kontraktor lokal andalan, berada di posisi terdepan. Mereka memiliki pengalaman panjang dalam teknologi siluman tanpa awak (termasuk demonstrator teknologi Taranis) dan saat ini tengah berkolaborasi erat dengan divisi legendaris Lockheed Martin, Skunk Works.

    Kemudian Boeing, raksasa asal AS ini mengandalkan MQ-28 Ghost Bat yang sudah teruji. Platform ini sempat menarik minat Angkatan Laut Inggris untuk dioperasikan langsung dari dek kapal induk kelas Queen Elizabeth.

    Melalui peluncuran Storm Fighter, Inggris tidak hanya mencoba menutup lembaran kelam kegagalan Proyek Mosquito, melainkan juga menegaskan kembali taringnya demi menjadi negara pertama di Eropa yang mengoperasikan kekuatan udara generasi keenam yang sesungguhnya. (RNS)

    Mungkin Anda juga menyukai

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *