Airbus dan Kawasaki berkolaborasi kembangkan Eurodrone versi antikapal selam untuk Jepang

EurodroneAirbus
Eurodrone.

AIRSPACE REVIEW – Airbus Defence and Space dan Kawasaki Heavy Industries berkolaborasi untuk mengembangan varian khusus Eurodrone.

Proyek ini ditujukan guna memenuhi kebutuhan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) dalam misi perang antikapal selam (ASW).

Bagi Airbus, kerja sama ini membuka peluang ekspansi internasional program Eurodrone di luar empat negara Eropa pelopornya.

Sementara bagi Kawasaki, ini menjadi kolaborasi pertamanya dengan manufaktur asing dalam pengembangan sistem udara tak berawak (UAV) militer berskala besar.

Perkuat Pengawasan Maritim di Indo-Pasifik

Studi bersama ini akan mengevaluasi integrasi berbagai sensor, sistem elektronik, peralatan misi, dan persenjataan yang dikembangkan secara lokal di Jepang.

Tujuannya adalah mentransformasikan Eurodrone menjadi platform yang mampu melakukan patroli maritim berdurasi panjang, melacak kapal selam, memantau target secara waktu nyata, dan meneruskan data ke kapal perang, pesawat, serta pusat komando.

Ketertarikan Jepang pada versi maritim ini didorong oleh situasi keamanan yang kian memanas di kawasan Indo-Pasifik.

Kementerian Pertahanan Jepang mencatat adanya peningkatan aktivitas kapal selam dan kapal militer China di sekitar Kepulauan Nansei dan Laut China Timur.

Selain itu, armada Rusia juga meningkatkan operasi bersama dengan China, sementara Korea Selatan dan Korea Utara terus memetakan kekuatan maritim mereka, termasuk pengembangan kapal selam peluncur rudal balistik.

Keunggulan Eurodrone

Eurodrone awalnya dirancang untuk misi Intelijen, Pengawasan, Akuisisi Target, dan Pengintaian (ISTAR). Namun, arsitektur modularnya memungkinkan integrasi perangkat baru sesuai kebutuhan operasi.

Dengan kemampuan terbang (otonomi) lebih dari 40 jam, drone ini akan melengkapi armada patroli berawak Jepang saat ini, seperti Kawasaki P-1 dan P-3C Orion.

Drone ini dapat mengambil alih misi pemantauan area laut yang luas dengan biaya operasional yang lebih efisien, sehingga pesawat berawak bisa difokuskan pada misi yang lebih kompleks.

Berbeda dari UAV kelas MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) pada umumnya, Eurodrone menggunakan konfigurasi mesin ganda (twin-engine).

Desain ini sengaja dipilih Airbus untuk meningkatkan faktor keselamatan saat terbang di atas area padat penduduk atau wilayah laut, sekaligus mempermudah sertifikasi untuk beroperasi di ruang udara sipil sesuai standar NATO STANAG 4671.

Bebas Regulasi ITAR

Program Eurodrone sendiri dikembangkan oleh konsorsium yang terdiri dari Airbus, Dassault Aviation, dan Leonardo, di bawah koordinasi badan persenjataan Eropa (OCCAR), yang melibatkan Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol.

Proyek senilai sekitar 7 miliar euro (sekitar Rp124,6 triliun) ini menargetkan produksi awal 60 unit, dengan penerbangan perdana dijadwalkan pada tahun 2029.

Salah satu keunggulan strategis Eurodrone adalah desainnya yang dirancang bebas dari ketergantungan komponen yang terkena regulasi ekspor ketat Amerika Serikat (ITAR).

Karakteristik ini memberikan kebebasan penuh bagi Jepang untuk mengintegrasikan teknologi dalam negeri maupun melakukan ekspor di masa depan tanpa hambatan birokrasi dari AS.

Jepang sendiri telah memantau program Eurodrone sejak tahun 2023 sebagai negara pengamat dan telah mengikuti berbagai presentasi teknis mengenai kemampuan maritim drone ini pada tahun 2025.

Jika studi kelayakan ini berjalan lancar hingga fase produksi, Jepang berpotensi menjadi pelanggan internasional pertama Eurodrone di luar negara-negara pendiri Eropa. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *