Mengenal peluncur roket ganda NDL-40 yang dikembangkan oleh PTDI untuk TNI

Peluncur roket ganda NDL-40 buatan PTDI _TNI
Peluncur roket ganda NDL-40 buatan PTDI.

AIRSPACE REVIEW – Pada pertengahan tahun 1990-an, Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), kini PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mulai mengembangkan sistem peluncur roket multilaras NDL-40 (Nusantara Dual Launcher).

Varian pertama NDL-40/A (Army) untuk TNI Angkatan Darat diperkenalkan pada tahun 1997, dan menyusul versi kedua NDL-40/N (Navy) untuk Angkatan Laut pada tahun 2005.

NDL-40A merupakan MLRS mini model tarik (towed), yang dipindahkan menggunakan kendaraan jip atau truk ringan. Meskipun ada wacana ditempatkan pada kendaraan lapis baja.

Sedangkan NDL-40N untuk ditempatkan di atas kapal perang milik TNI Angkatan Laut seperti jenis LST, cocok untuk memberikan dukungan tembakkan dalam operasi serbu amfibi.

Kedua sistem tersebut ditempatkan dalam wadah boks menampung 20 (5×4) roket kaliber 70 mm (2, 75 inchi).

Roket ini dikembangkan oleh IPTN berdasarkan roket FFAR yang diproduksi dari fasilitas pabrik di Tasikmalaya berdasarkan lisensi Forges de Zeebrugge S.A. (sekarang Thales Belgium).

Dimensi pod roket memiliki panjang 190 cm, lebar 85 cm, tinggi 65 cm, dan berat keseluruhan termasuk roket kisaran 740 kg dengan konstruksi kombinasi baja dan alumunium.

Senjata ini dirancang untuk meluncurkan roket secara salvo (serentak) atau berurutan. Jangkauan efektifnya hingga 6 km menggunakan roket dengan motor MK-40 dan 8 km menggunakan roket dengan motor FZ-68.

Kecepatan luncurnya dapat diatur dengan interval 0,1 hingga 9,9 detik per roket, yang sanggup menghancurkan area seluas 200 m × 300 m dalam sekali tembakan salvo.

Sementara, kemampuan manuver pod NDL-40A/N dengan sudut putar azimuth 360 derajat dan elevasi antara minus 3 hingga plus 65 derajat.

Tidak Berlanjut ke Produksi

Meskipun telah menjalani beberapa kali pengujian, sayangnya sistem peluncur roket NDL-40A/N ini tidak pernah masuk jalur produksi.

Salah satu alasan Angkatan Darat tidak menggunakannya, karena jarak tembak roket yang pendek 6-8 km, membuat jejaknya (arah datang) mudah diketahui lawan, terutama dalam pertempuran medan terbuka.

Kini Dihidupkan Kembali

Setelah lama tidak terdengar kelanjutannya, proyek peluncur roket ganda mini ini kembali dihidupkan. Kini menggunakan roket berpemandu yang juga dikembangkan oleh PTDI.

Bermitra dengan Korps Marinir TNI AL, PTDI berhasil menguji tembak RD70 WAFAR (Wrap Around Fin Aerial Rocket), dibekali sirip lipat otomatis yang menjaga stabilitas selama peluncurannya menuju target, dengan jangkauan hingga 7 km.

Kegiatan tersebut sukses dilaksanakan pada 18 Juni 2026, di Lapangan Tembak Nanggala Depohar 60 Desa Poko, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *