Drone FPV serang helikopter Mi-17 milik Junta Militer Myanmar
X/@ war_noirAIRSPACE REVIEW – Sebuah drone FPV (First-Person View) diketahui telah menyerang sebuah helikopter militer Mi-17 milik Junta Militer Myanmar. Serangan tersebut dilakukan oleh kelompok perlawawanan yang tergabung dalam Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF).
Berdasarkan laporan dan rekaman video yang dirilis oleh akun intelijen terbuka War Noir di platform X, aksi penyerangan tersebut terjadi pada tanggal 23 Juni 2026.
Lokasi penyerangan berada di dekat desa Twinma, yang terletak sekitar 20 km di sebelah selatan Kota Myaing.
Wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai basis pertahanan bagi Pyu Saw Htee, sebuah kelompok milisi pro-pemerintah (junta).
Desa Twinma sendiri dilaporkan menjadi tempat perlindungan bagi sekitar 500 tentara junta (Tatmadaw) setelah pasukan perlawanan berhasil merebut pos polisi terdekat di Tayetkan pada Mei 2026 lalu.
Serangan Operasi Gabungan
Operasi penyerangan ini disinyalir tidak dilakukan sendirian, melainkan hasil kolaborasi taktis dari beberapa unit revolusioner sekaligus.
Kelompok yang terlibat dalam serangan tersebut meliputi Unit Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) dari wilayah Pakokku, Pauk, dan Myaing, Taruna (kader) dari Batalyon ke-4 Distrik Minbu, Unit Regional dari MGY-PDF, dan anggota kelompok gerilya lokal, seperti Anyar Fighter dan Saga Kyar.
Drone FPV kamikaze yang dikerahkan dalam serangan tersebut diduga dipersenjatai dengan hulu ledak roket jenis MR-1/2 atau bom mortir HE MK II untuk memaksimalkan dampak kerusakan pada target.
Balasan dari Junta Militer
Merespons rusaknya helikopter tersebut, Komando Militer Junta Myanmar langsung meluncurkan operasi pembalasan dalam skala besar di wilayah sekitar.
Mereka melancarkan serangan udara intensif menggunakan jet tempur serta pesawat angkut ringan Harbin Y-12 buatan China.
Pesawat Y-12 tersebut sengaja dimodifikasi oleh rezim junta agar bisa menjatuhkan bom pada ketinggian dan kecepatan rendah.
Aksi penggunaan drone FPV untuk mengincar armada helikopter junta ini bukan yang pertama kalinya.
Menurut catatan, pasukan gerilya Myanmar memang sudah mulai mengadaptasi taktik modern ini sejak pertengahan tahun 2025 lalu untuk melumpuhkan kekuatan udara milik pemerintah.
Sekilas Mi-17 Myanmar
Armada helikopter Mi-17 milik Angkatan Udara Myanmar diperoleh melalui pembelian langsung dari produsen asal Rusia, yaitu Pabrik Helikopter Kazan dan Pabrik Penerbangan Ulan-Ude.
Secara total, Myanmar setidaknya telah mengimpor 21 unit helikopter jenis ini dalam empat tahap utama sejak tahun 1995 hingga 2013 guna memperkuat logistik militer mereka, terutama dalam menghadapi kelompok-kelompok etnis bersenjata.
Meskipun menghadapi berbagai sanksi internasional, kerja sama militer dan teknis antara Rusia dan Junta Militer Myanmar terus mengalami perluasan sejak kudeta yang terjadi pada tahun 2021.
Hal ini terlihat dari masuknya alutsista baru secara berkala ke dalam jajaran Angkatan Udara mereka. (PN)
