Jerman perkuat kemampuan peperangan elektronik dengan enam jet Global 8000
BombardierAIRSPACE REVIEW – Jerman melakukan modernisasi skala besar militernya dengan memajukan negosiasi pembelian enam unit pesawat Bombardier Global 8000 yang dikonfigurasi khusus untuk misi perang elektronik (EW).
Proyek strategis Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) ini dirancang untuk memperkuat kemampuan mendeteksi, memantau, dan melumpuhkan ancaman elektronik dalam potensi konflik di masa depan, khususnya dalam kerangka operasi bersama NATO.
Inisiatif ini muncul di tengah percepatan investasi blok Barat dalam kemampuan intelijen dan pertempuran spektrum elektromagnetik.
Para ahli menilai domain ini sama pentingnya dengan domain darat, laut, udara, luar angkasa, dan siber.
Pelajaran dari Perang Rusia-Ukraina
Pengalaman terbaru dalam perang di Ukraina membuktikan bahwa kemampuan melacak emisi musuh, mengganggu komunikasi, dan melumpuhkan sistem pertahanan udara menjadi faktor penentu keberhasilan operasi militer modern.
Armada baru berbasis Global 8000 ini akan melengkapi program PEGASUS (Persistent German Airborne Surveillance System) yang saat ini mengandalkan tiga unit pesawat Bombardier Global 6000 dengan sensor intelijen elektronik generasi terbaru.
Pesawat pertama dari program PEGASUS tersebut dilaporkan telah tiba di Jerman untuk integrasi sistem misi dan uji coba sebelum resmi beroperasi.
Pesawat Berperforma Superior
Jet eksekutif Global 8000 buatan produsen Kanada, Bombardier, dipilih karena menawarkan performa superior. Pesawat ini memiliki jangkauan terbang lebih dari 14.800 km dan kecepatan mendekati Mach 0,94.
Kemampuannya untuk beroperasi dalam waktu lama tanpa perlu mengisi bahan bakar di udara memungkinkan Luftwaffe melakukan misi pengawasan strategis di area luas dari jarak aman, di luar jangkauan sistem pertahanan darat musuh.
Selain menjalankan misi konvensional seperti intelijen sinyal (SIGINT), intelijen elektronik (ELINT), dan intersepsi komunikasi (COMINT), armada baru ini juga diproyeksikan untuk misi perang elektronik ofensif.
Hal tersebut mencakup pengacauan (jamming) radar, gangguan pada jaringan komunikasi militer, pengumpulan data untuk misi penekanan pertahanan udara musuh (SEAD), serta dukungan elektronik bagi jet tempur, drone, maupun pasukan darat.
Libatkan Industri Pertahanan Dalam Negeri
Program ambisius ini turut mendongkrak industri pertahanan dalam negeri Jerman. Perusahaan HENSOLDT, yang mengembangkan sistem Kalætron Integral pada program PEGASUS, menjadi kandidat kuat sebagai pemasok sensor dan sistem misi untuk armada Global 8000 yang baru.
Sistem Kalætron dikenal sebagai salah satu teknologi paling canggih di Eropa untuk mengidentifikasi dan memetakan berbagai ancaman elektronik secara simultan.
Selain itu, Lufthansa Technik Defense juga memegang peran penting sebagai pusat integrasi sistem militer ke dalam platform pesawat komersial.
Perusahaan ini terlibat langsung dalam modifikasi armada Global 6000 dan diproyeksikan kembali memimpin konversi untuk armada Global 8000 mendatang.
Langkah ini selaras dengan program persenjataan kembali (rearmament) terbesar Jerman sejak berakhirnya Perang Dingin.
Dana Khusus Pertahanan 100 miliar Euro
Melalui dana khusus pertahanan senilai 100 miliar euro (115 miliar USD) yang dikucurkan pascaserangan Rusia ke Ukraina, Berlin terus mempercepat akuisisi berbagai alutsista canggih.
Alutsista yang diakuisisi termasuk jet tempur F-35A Lightning II, helikopter CH-47F Chinook, pesawat patroli maritim P-8A Poseidon, serta proyek-proyek berbasis siber dan perang elektronik.
Meskipun nilai kontrak resmi untuk pengadaan enam jet Global 8000 ini belum diumumkan, para analis pertahanan menilai investasi ini akan mengubah Luftwaffe menjadi salah satu kekuatan udara paling disegani di Eropa dalam penguasaan spektrum elektromagnetik dan intelijen udara. (RNS)
