Prancis beri sinyal kirim jet Rafale ke Ukraina, Kyiv kian dekat dengan standar militer NATO

Dassault RafaleDassault/A. Pecci
Jet tempur Rafale Prancis.

AIRSPACE REVIEW – Jet tempur canggih buatan Prancis, Dassault Rafale, dikabarkan akan segera menyusul ke dalam barisan armada udara Ukraina.

Proses modernisasi Angkatan Udara Ukraina pun tak lama lagi memasuki babak baru yang semakin menegaskan integrasinya dengan Barat.

Sinyal pengiriman jet Rafale menjadi langkah besar yang membawa militer untuk memutus sisa-sisa ketergantungannya pada teknologi era Uni Soviet.

Sebelumnya, Duta Besar Prancis untuk Swedia, Thierry Carlier, pada awal Juni memberikan pernyataan yang mengindikasikan bahwa jet tempur Rafale dapat segera diintegrasikan ke dalam inventaris militer Ukraina.

Demi memenuhi standar operasional NATO, Ukraina kini tidak hanya mengadopsi pesawat Barat, tetapi juga merombak total sistem militer mereka.

Meski demikian, analis mencatat bahwa Ukraina masih menghadapi masalah proses pendanaan untuk mendapatkan jet tempur modern ini.

Disebutkan bahwa rencana pembiayaan Rafale masih menghadapi ketidakpastian administratif karena mengandalkan alokasi dana Uni Eropa dan penyitaan aset kedaulatan Rusia.

Di sisi yang lain, langkah ini menegaskan posisi Prancis sebagai salah satu penyokong utama kekuatan udara Eropa —setelah sebelumnya sukses menjual atau mendonasikan Rafale ke berbagai negara seperti Yunani, Mesir, India, Indonesia.

Modernisasi Infrastruktur dan Integrasi Jaringan

Pembenahan dilakukan mulai dari doktrin taktis, pelatihan pilot, tim pemeliharaan, modernisasi pangkalan udara, hingga integrasi jaringan persenjataan dan komunikasi canggih generasi terbaru yang kompatibel dengan negara-negara aliansi Barat.

Saat ini, Angkatan Udara Ukraina telah mengoperasikan unit pertama jet tempur F-16 yang dipasok oleh negara-negara Eropa.

Selain itu, Prancis juga telah mengirimkan jet Mirage 2000 yang telah dimodifikasi khusus untuk kebutuhan konflik, seperti misi serangan presisi, pertahanan udara, dan perang elektronik (electronic warfare).

Di sisi lain, Swedia terus mematangkan rencana transfer jet Gripen C/D serta potensi akuisisi versi terbarunya, Gripen E/F.

Kehadiran Dassault Rafale dipastikan akan membawa lompatan teknologi yang signifikan bagi Ukraina agar setara dengan kekuatan udara NATO lainnya.

Menjalankan Misi Omnirole

Dilengkapi dengan radar AESA RBE2, sistem perang elektronik SPECTRA, serta sensor terintegrasi, Rafale mampu menjalankan misi superioritas udara, serangan darat, pengintaian, hingga serangan maritim secara simultan. Kemampuan ini dikenal dengan sebutan omnirole.

Rafale dibekali beragam persenjataan canggih standar NATO seperti Meteor, MICA, SCALP-EG, dan Exocet.

Kedekatan Ukraina dengan standar militer Barat ini juga tercermin dari rencana jangka panjang yang dibahas antara Paris dan Kyiv sepanjang tahun 2025.

Kedua negara mendiskusikan potensi akuisisi hingga 100 unit jet Rafale dalam dekade berikutnya, di samping sistem pertahanan udara, radar, drone, dan amunisi berpandu.

Melalui integrasi berbagai platform Barat seperti Rafale, Gripen, Mirage 2000, dan F-16, sejumlah studi memproyeksikan Ukraina berpotensi mengoperasikan antara 100 hingga 130 jet tempur standar NATO pada awal dekade 2030-an.

Jika rencana ini berjalan penuh, Ukraina tidak hanya berhasil melakukan standardisasi militer dengan Barat, tetapi juga akan membangun salah satu angkatan udara terkuat dan paling modern di Eropa Timur. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *