Evolusi Su-30SM2 Super Flanker yang akan menjadi kekuatan udara baru Iran

Iran membeli 12 jet Su-30SM2 bekas RusiaAlex Beltyukov/Russia Beyond
Jet tempur Su-30SM2 Rusia.

AIRSPACE REVIEW – Iran diketahui telah menandatangani kontrak pembelian 12 jet tempur Su-30SM2 bekas pakai militer Rusia, yang akan menggandakan kekuatan udara Teheran setelah negeri ini mengakuisisi jet Su-35 dan ratusan rudal canggihnya.

Menarik untuk kita kembali ulas mengenai performa Su-30SM2 yang mewakili evolusi paling mutakhir dari jet tempur kursi ganda seri Su-30 milik Rusia.

Dikembangkan oleh Irkut Corporation, anak perusahaan United Aircraft Corporation (UAC), bagian dari Rostec, Su-30SM2 dirancang sebagai langkah strategis untuk memperpanjang relevansi operasional armada Flanker kursi ganda.

Pesawat ini sekaligus menjembatani kesenjangan teknologi dengan jet tempur generasi kelima seperti Su-57 (NATO: Felon).

Program modernisasi Su-30SM2 tidak hanya fokus pada peningkatan performa tempur individu, melainkan bagian dari doktrin standardisasi armada udara Rusia demi efisiensi logistik jangka panjang.

Latar Belakang dan Filosofi Desain

Sebelum varian SM2 lahir, Angkatan Dirgantara maupun Penerbangan Angkatan Laut Rusia sangat bergantung pada Su-30SM, sebuah varian sukses yang dikembangkan dari arsitektur Su-30MKI India.

Meskipun sangat lincah berkat sistem kendali vektor dorong (thrust-vectoring control/TVC) dan kanard, Su-30SM menggunakan rantai pasokan logistik dan komponen mesin yang berbeda dari jet tempur keunggulan udara utama Rusia, Su-35S.

Pengalaman tempur Rusia dalam operasi militer di Suriah mempertegas kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kemampuan serangan presisi darat/maritim serta menyatukan komponen kunci antar-armada.

Alhasil, alih-alih merancang pesawat baru dari nol (clean-sheet design) yang memakan biaya astronomis, Rusia memilih jalur modernisasi evolusioner.

Proyek modernisasi ini menyatukan keunggulan sasis kursi ganda Su-30 dengan sistem propulsi dan avionik canggih milik Su-35S, menghasilkan apa yang sering disebut di lingkungan pertahanan sebagai “Super Flanker” atau “Super Sukhoi”. Majalah Airforces Monthly pada terbitan tahun 2021, misalnya, menyoroti evolusi ini.

Upgrade Sistem Propulsi: Mesin AL-41F-1S

Perlu diketahui juga bahwa perubahan paling fundamental pada Su-30SM2 adalah penggantian mesin lama Saturn AL-31FP dengan mesin turbofan AL-41F-1S (Tipe 117S).

Mesin ini merupakan pembangkit daya mutakhir yang sama dengan yang digunakan pada jet tempur kursi tunggal Su-35S.

Integrasi AL-41F-1S memberikan peningkatan daya dorong (thrust) sekitar 16 persen lebih tinggi dibandingkan pendahulunya.

Dengan kekuatan dorong maksimal mencapai 2 kali 14.500 kgf menggunakan afterburner, pesawat ini memiliki rasio gaya dorong terhadap berat (thrust-to-weight ratio) yang sangat tinggi, sehingga berkontribusi signifikan pada kelincahan ekstrem jet tempur di udara.

Selain peningkatan daya gerak dan kemampuan manuver super (supermaneuverability) melalui nosel vektor dorong yang dapat digerakkan secara independen, AL-41F-1S menawarkan efisiensi konsumsi bahan bakar yang lebih baik dan memperluas jarak jangkau internal pesawat.

Keuntungan ekonomi operasionalnya juga masif di mana umur pakai (service life) mesin meningkat drastis, interval perawatan menjadi lebih panjang, dan biaya logistik terpangkas secara signifikan karena lini pemeliharaan mesin Su-30SM2 kini dapat disatukan dengan armada Su-35S.

Sistem Avionik, Radar, dan Efisiensi Operasional

Varian Su-30SM2 dilengkapi dengan arsitektur avionik yang diperbarui. Langkah modernisasi bertahap ini mencakup peningkatan kemampuan radar pasif electronically scanned array (PESA) N011M Bars.

Jangkauan deteksi radar ditingkatkan secara signifikan, memungkinkannya melacak target udara, permukaan darat, dan laut dari jarak yang jauh lebih besar (melampaui 300 km) serta mengunci lebih banyak target secara simultan.

Standardisasi sistem komunikasi, pertahanan elektronik (EW), dan sistem interkoneksi data taktis hibrida juga diintegrasikan agar Su-30SM2 dapat beroperasi mulus dalam jaringan pertempuran (network-centric warfare) bersama dengan Su-35S dan Su-57.

Konfigurasi dua awak (pilot di kursi depan dan operator sistem senjata/WSO di kursi belakang) memberikan pembagian kerja yang optimal, sangat krusial dalam misi serangan permukaan kompleks dan perang elektronika defensif-ofensif.

Arsenal Persenjataan dan Kemampuan Multiperan

Sebagai pesawat multiperan sejati, Su-30SM2 dilengkapi 12 titik cantelan eksternal (hardpoints) dengan kapasitas muatan total hingga 8.000 kg.

Berkat komputer misi yang diperbarui, pesawat ini mampu membawa seluruh spektrum persenjataan presisi modern Rusia.

Untuk pertempuran udara ke udara, pesawat mampu meluncurkan rudal jarak pendek berpemandu inframerah R-73, rudal jarak menengah seri R-27, hingga rudal modern radar aktif jarak jauh R-77 (RVV-AE).

Sementara untuk serangan permukaan dan maritim, integrasi rudal taktis presisi tinggi seperti seri Kh-29, rudal antiradiasi dan antikapal supersonik seri Kh-31, serta rudal penjelajah taktis jarak jauh Kh-59, terbilang sangat ampuh.

Kemudian bom pintar berpemandu laser dan TV seri KAB (seperti KAB-500 dan KAB-1500), melengkapi arsenal Su-30SM2 untuk menjalankan misi dengan sukses.

Dari sisi spesifikasi teknis, Su-30SM2 memiliki dimensi panjang 21,94 m, rentang sayap 14,7 m, dan tinggi 6,37 m.

Pesawat ini memiliki bobot lepas landas maksimum (MTOW) seberat 34.500 kg. Pesawat dapat terbang dengan kecepatan maksimum Mach 2+, jangkauan tempur 1.500 km, dan jangkauan feri 3.000 km.

Penyebaran Operasional Strategis di Kaliningrad

Su-30SM2_ AL Rusia
UAC Su-30SM2 Penerbangan Angkatan Laut Rusia.

Su-30SM2 pertama kali resmi masuk kedinasan militer Rusia pada awal tahun 2022. Salah satu penyebaran paling strategis dari jet tempur ini adalah di eksklave Kaliningrad, guna memperkuat unit penerbangan Angkatan Laut Rusia di wilayah Baltik yang dikelilingi oleh negara-negara anggota NATO.

Kehadiran Su-30SM2 di wilayah tersebut memberikan kemampuan deteksi jarak jauh dan penangkalan maritim (anti-access/area denial atau A2/AD) yang mumpuni melalui integrasi rudal antikapal supersonik.

Kementerian Pertahanan Rusia menargetkan untuk memodernisasi armada besar Su-30SM yang ada secara bertahap ke standar SM2 hingga akhir dekade ini.

Langkah ini menegaskan komitmen Rusia untuk mempertahankan keunggulan taktis di udara tanpa harus membebani anggaran dengan transisi radikal ke platform baru secara keseluruhan, menjadikannya salah satu tulang punggung udara paling mematikan di kawasan Eurasia.

Negara Lain Pengguna Su-30SM2

Selain Iran, negara lain yang telah resmi memesan dan mengoperasikan varian spesifik Su-30SM2 adalah Belarus.

Negara sohib kental Rusia ini merupakan pengguna luar negeri pertama yang dikonfirmasi menerima varian tercanggih ini.

Kementerian Pertahanan Belarus telah menerima pengiriman jet tempur Su-30SM2 dari Rusia secara bertahap.

Skadron Su-30SM2 ditempatkan untuk memperkuat unit pertahanan udara mereka dan diintegrasikan langsung dengan sistem rudal darat ke udara seperti S-400 guna menjaga perbatasan mereka.

Pengguna utama, tentu saja Rusia. Operator terbesar dari varian SM2 ini adalah Angkatan Dirgantara Rusia dan Penerbangan Angkatan Laut Rusia.

Untuk mendukung produksi varian ini, sasis-sasis baru yang diproduksi oleh Irkut Corporation serta program peningkatan (upgrade) bertahap dari armada Su-30SM lama milik Rusia dialihkan ke standar Su-30SM2.

Sementara itu, begara tetangga yang menjadi sekutu Rusia lainnya, yaitu Kazakhstan dan Armenia memang mengoperasikan keluarga Sukhoi kursi ganda, namun varian yang mereka miliki saat ini adalah Su-30SM standar (versi sebelum upgrade mesin AL-41F-1S), bukan Su-30SM2.

So, Iran menjadi negara kedua di luar Rusia yang akan mengoperasikan jet tempur canggih Su-30SM2. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *