Gripen F diluncurkan: Satu otak terbang, satu otak perang, Saab optimalkan kursi belakang
SAAB AIRSPACE REVIEW – Sebuah tonggak sejarah baru dalam dunia penerbangan militer global kembali ditorehkan di Swedia. Pada Selasa, 2 Juni 2026, pabrikan pertahanan Saab secara resmi memperkenalkan (rollout) pesawat Gripen F pertama di fasilitas mereka di Linköping.
Gripen F merupakan versi berkursi ganda (biposto atau two-seater) yang sangat dinantikan dari jet tempur Gripen E.
Kehadiran pesawat ini bukan sekadar peluncuran armada baru, melainkan simbol dari matangnya kemitraan strategis selama satu dekade antara Swedia dan Brasil, yang secara radikal mentransformasi industri kedirgantaraan nasional Brasil.
Melalui peluncuran Gripen F, terlihat bahwa Saab tidak sedang membuat pesawat jet berkursi tandem biasa, melainkan sebuah platform tempur modern yang revolusioner.
Kursi Belakang: Bukan Sekadar Kopilot
Banyak negara harus mengorbankan performa, kapasitas bahan bakar, atau sistem radar ketika mengubah jet tempur kursi tunggal menjadi kursi ganda demi menampung pilot kedua.
Namun, Saab mendobrak tradisi lama tersebut. Gripen F dirancang untuk mempertahankan hampir seluruh kemampuan operasional penuh dari versi kursi tunggalnya (Gripen E).
Pihak Saab menegaskan bahwa Gripen E dan Gripen F berbagi arsitektur elektronik terbuka, sensor, avionik, persenjataan, hingga sistem logistik yang sama. Pesawat ini menawarkan optimalisasi peran di kokpit, yaitu “satu otak terbang, satu otak perang.”
Di era modern, kru di kursi belakang bukan lagi seorang instruktur terbang atau kopilot pasif. Saab memproyeksikannya sebagai Manajer Pertempuran (Battle Manager).
Saat pilot di kursi depan fokus penuh untuk menerbangkan pesawat, melakukan manuver taktis, dan meladeni pertempuran jarak dekat, operator di kursi belakang bertugas mengelola kompleksitas medan perang digital. Dan ini pula yang dilakukan oleh banyak pabrikan tempur modern lainnya saat ini.
Awak di kursi belakang ini akan mengoordinasikan sistem otonom dan mengendalikan drone pendamping (loitering munitions atau wingman tak berawak).
Kemudian menganalisis banjir informasi taktis real-time dari berbagai sensor jarak jauh dan memperluas kesadaran situasional (situational awareness) untuk memimpin misi kelompok yang rumit.
Selain kemampuan tempurnya yang menakutkan, posisi kokpit yang identik di kedua kursi, baik sistem senjata maupun avioniknya, membuat proses transisi pilot menjadi sangat mulus.
Kombinasi ini memangkas kebutuhan akan pesawat latih perantara (advanced trainer).
Bagi negara operator, ini berarti penghematan anggaran pertahanan yang sangat signifikan sekaligus mempercepat lahirnya pilot-pilot yang siap bertempur (combat-ready).
DNA Industri Brasil
Brasil memegang peran yang sangat krusial dalam proyek ini sebagai konsumen perdana (launch customer) sekaligus mitra pengembang varian kursi ganda tersebut.
Sejak tahap awal desain, para insinyur Brasil dari perusahaan raksasa seperti Embraer, Akaer, dan AEL Sistemas terlibat langsung dalam pengembangan struktural dan integrasi sistem pesawat.
Program transfer teknologi (ToT) berskala besar ini telah menempatkan Brasil di peta elite industri kedirgantaraan global.
Lars Tossman, Kepala Area Bisnis Aeronautics Saab, menyatakan peluncuran Gripen F adalah pencapaian bersama yang membuktikan kuatnya rasa saling percaya antara Swedia dan Brasil.
Berikutnya: Thailand dan Kolombia
Sebelum resmi dikerahkan ke skadron operasional Angkatan Udara Brasil (FAB), Gripen F pertama ini akan menjalani serangkaian uji terbang intensif di Pusat Pengujian Saab di Swedia untuk memvalidasi seluruh sistem dan mendapatkan sertifikasi penuh.
Dari total 36 unit jet tempur Gripen yang dipesan oleh Brasil, delapan unit di antaranya adalah varian kursi ganda Gripen F.
Saab juga mengonfirmasi bahwa mereka telah mengamankan minat dan pesanan baru untuk varian Gripen F dari negara lain, termasuk Thailand dan Kolombia.
Dengan lahirnya Gripen F, Saab menawarkan perpaduan pilot jet tempur berawak dengan kecerdasan buatan, dan pembagian tugas yang optimal di kokpit dapat memenangkan pertempuran masa depan. (RNS)

