Menegangkan, jet tempur Prancis adang Su-30SM Rusia bersenjata mematikan di Laut Baltik
AAE AIRSPACE REVIEW – Situasi di wilayah udara Baltik kembali memanas. Jet tempur Rafale milik Angkatan Udara dan Antariksa Prancis (AAE) terpaksa dikerahkan dalam misi darurat untuk menghadang dua jet tempur Su-30SM milik Rusia.
Ketegangan meningkat karena jet tempur Kremlin tersebut terdeteksi membawa persenjataan rudal yang mematikan di dekat wilayah udara sensitif NATO.
Misi pencegatan menegangkan ini diluncurkan dari Pangkalan Udara Siauliai di Lithuania. Seperti diketahui, saat ini Prancis tengah memimpin detasemen yang bertanggung jawab atas operasi Polisi Udara Baltik (Baltic Air Policing), sebuah misi permanen NATO untuk membentengi wilayah udara Estonia, Latvia, dan Lithuania dari ancaman asing.
Menurut informasi resmi dari Angkatan Bersenjata Prancis, kedua jet tempur Su-30SM Rusia tersebut terdeteksi menyusup tanpa menyerahkan rencana penerbangan (flight plan) resmi.
Tidak hanya itu, mereka juga mematikan transponder dan menolak berkomunikasi dengan otoritas kendali lalu lintas udara regional.
Tindakan provokatif ini langsung memicu alarm bahaya, memaksa pasukan reaksi cepat NATO meluncurkan jet Rafale ke udara dalam hitungan menit.
Militer Prancis kemudian merilis bukti visual yang menunjukkan momen ketika Rafale menempel ketat dan melakukan identifikasi visual terhadap jet Rusia tersebut di wilayah udara internasional.
Berkat kecanggihan sensor radar AESA RBE2 dan pod pengintai TALIOS yang tertanam pada Rafale, pilot Prancis mampu mendeteksi detail persenjataan musuh dari jarak jauh.
Berdasarkan analisis visual, jet tempur Su-30SM Rusia tersebut kedapatan membawa rudal taktis Kh-31 (NATO: AS-17 Krypton).
Rudal supersonik ini merupakan senjata mematikan yang dirancang khusus untuk misi anti-kapal (Kh-31A) serta penghancur sistem pertahanan udara dan radar musuh (Kh-31P). Kehadiran rudal ini menandakan tingginya kesiapan tempur armada Rusia di kawasan tersebut.
Kawasan Laut Baltik kini telah berubah menjadi titik didih sengketa geopolitik antara Rusia dan Barat, terutama sejak pecahnya perang di Ukraina.
Frekuensi penerbangan militer Rusia yang mengabaikan prosedur internasional di dekat perbatasan NATO dilaporkan meningkat drastis.
Prancis sendiri resmi mengambil alih kepemimpinan rotasi misi pengamanan ini sejak Maret 2026, menggantikan Spanyol, dengan mengerahkan empat Rafale dan sekitar seratus personel militer ke Lithuania.
Sejak kedatangannya, jet-jet Prancis hampir tanpa henti melakukan intersepsi terhadap berbagai pesawat Rusia, mulai dari pesawat intai Il-20M hingga pesawat pembom strategis Tu-22M3. (PN)

